Makalah Strategi Manajemen Pemasaran Internasional

Makalah Strategi Manajemen Pemasaran Internasional



A. Latar Belakang


Strategi global beranggapan bahwa produk-produk yang lebih distandarisasi dan pemantauan oleh kantor pusat. Akibatnya, strategi kompetitif disentaralisasi dan dipantau oleh kantor pusat. Unit-unit bisnis strategis yang beroperasi pada setiap negara dianggap saling mempunyai tergantung (interdependent), dan kantor pusat berusaha untuk menyatukan bisnis-bisnis yang tersebar di negara-negara tersebut. Oleh Karena itu, melakukan strategi ini mempromosikan produk-produk standar ke berbagai pasar di negara-negara yang berbeda dan strategi bersaing ini ditentukan oleh pusat. Jadi pengertian strategi global menitik beratkan pada skala ekonomi dan mempromosikan lebih banyak peluang untuk mendaya gunakan inovasi yang kemduian dikembangkan pada tingkatan perusahaan atau dalam sebuah negara atau di pasar-pasar lainnya. Strategi global mempunyai resiko yang rendah, akan tetapi bisa melewatkan peluang-peluang yang sudah ada pada pasar-pasar domestik, baik dikarenakan pasar-pasar itu tidak menunjukkan adanya peluang, atau karena peluang-peluang itu mengharuskan produk-produk tersebut harus sesuai pada pasar domestik. Akibatnya strategi ini tidak begitu responsive terhadap pasar-pasar domestik dan susah untuk dikelola, karena kebutuhan untuk mengkoordinasi strategi-strategi dan mengontrolnya pada keputusan lintas negara. Akibatnya, pencapaian kegiatan operasi yang efisien perlu berbagi sumber daya dan penekanan diberikan pada koordinasi dan kerjasama antar unit di lintas negara tersebut. Strategi ini banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang.

B. Pentingnya Strategi


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dengan adanya perkembangan pada berbagai macam perusahaan yang dilengkapi dengan pesatnya kemajuan tekonologi informasi, maka strategi merupakan kebutuhan yang fital dan sangat penting dalam menjalankan suatu roda perusahaan untuk menghadapi berbagai macam tantangan, rintangan, gangguan baik internal maupun eksternal, khususnya para pesaing pada core bisnis yang sama.
Sejalan dengan pentingnya strategi, maka Jain (1990) berpendapat bahwa setiap organisasi membutuhkan strategi yang tepat, apabila menghadapi situasi berikut:

1. Sumber daya yang dimiliki sedikit.
2. Ada ketidak jelasan (uncertainity) mengenai kekuatan daya saing organisasi.
3. Komitmen (commitment) terhadap sumberdaya tidak bisa diubah lagi.
4. Keputusan-keputusan (decisions) harus dikoordinasikan antar bagian sepanjang waktu.
5. Ada ketidak jelasan mengenai pengendalian inisiatif.

Sementara Porter (1980) dia berpedapat bahwa ”the reason why firms succeed or fail is perhaps the central question in strategy”. Artinya, strategi akan memastikan sukses atau gagalnya suatu perusahaan. Oleh karena itu, mengingat bahwa strategi mempunyai peran yang sangat menentukan, maka penetapan strategi menjadi sesuatu hal yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan. Namun demikian strategi perlu dibedakan dengan taktik. Dari pengertian yang paling sederhana dan paling uum di gunakan akan bisa dibedakan bahwa strategi (strategy) adalah saat dimana memutuskan seseuatu hal apa yang harus dikerjakan, sedangkan taktik (tactics) adalah saat dimana untuk memutuskan bagaimana mengerjakan sesuatu hal. Ada beberapa penbisa pakar untuk membedakan strategi dengan taktik. Brucker mempunyai pendapat bahwa strategi adalah mengerjakan sesuatu hal yang benar (doing the right things) dan taktik adalah mengerjakan sesuatu hal dengan benar (doing the things right). Selain itu, Karl Van Clausewitz mempunyai pendapat bahwa strategi merupakan suatu seni dalam pertempuran untuk memenangkan suatu peperangan, sedangkan taktik merupakan seni menggunakan tentara dalam medan pertempuran.

Berdasar beberapa pengertian di atas, maka taktik merupakan rentetan dari pelaksana kerja atau penjabaran operasional dari strategi untuk mencapai tujuan, sedangkan strategi adalah penjabaran arah yang akan ditempuh perusahaan di masa yang akan datang.

C. Pengertian Strategi Global


Secara umum, ada tiga pandangan tentang 'strategi global'. Pertama, strategi global adalah salah satu bentuk perusahaan multinasional maksudnya adalah multinational enterprise/MNE. Strategi yang sebagai (treats) pada negara di seluruh dunia ini sebagai sebuah pasar global (global marketpalce) (Levitt,dan Yip dalam Peng dan Miles, 2009). Strategi MNE yang lain umumnya dikenal sebagai strategi internasional (atau eksport-driven), multidomestik dan. Akan tetapi, strategi ini tampaknya merupakan bentuk ideal yang tidak terdapat di antara MNE (Rugman dan Verbeke 2004).

Pandangan kedua membentuk (treats) strategi global sebagai manajemen strategi internasional (Bruton et al 2004;. Inkpen dan Ramaswamy 2006; Lu 2003). Jadi pengertian manajemen internasional strategis mempunyai pengertian lebih luas daripada 'strategi global' seperti yang didefinisikan oleh pandangan pertama.

Pandangan ketiga menerangkan bahwa strategi global dalam artian secara luas maksudnya yaitu strategi perusahaan di seluruh dunia, yang merupakan teori perusahaan tentang kiat untuk sukses bersaing dengan pesaing (Peng dan Delios 2006). Definisi ini secara akurat meliputi strategi pemasaran perusahaan internasional (cross-border) dan non-internasional (domestic).

Definisi ketiga membentuk (treats) strategi global sebagai strategi perusahaan di seluruh dunia (Peng dan Delios 2006). Dengan kata lain strategi global mempunyai pengertian bahw tidak didefinikan secara sempit, atau menyamakan strategi global dengan manajemen strategis internasional (pandangan ke dua). Walaupun benar bahwa definisi pertama secara eksplisit fokus pada aspek-aspek internasional, definisi kedua terfokus tata kelola perusahaan dan CSR. Dapat di ketahui secara keseluruhan bahwa global strategi sebagai lapangan pada persimpangan antara manajemen strategis dan pada bisnis internasional.




BAB 2
PEMBAHASAN

A. Definisi Strategi Global


Dalam Bisnis global, perlu dipahami dan diketahui bahwa lingkungan yang berkaitan dengan perbedaan ekonomi, politik, budaya, sosial juga perdagangan dunia dan kerangka investasi serta sistem moneter global. Tujuan utama dari perusahaan adalah bagaimana perusahaan menciptakan laba yang optimal, yakni dengan dua cara,

1) menambah nilai produk supaya konsumen mau membayar lebih,
2) melakukan kreasi nilai (value creation) supaya bisa menurunkan anggaran produksi.


1. Peningkatan laba melalui ekspansi global


Untuk menambah peningkatan laba perusahaan lokal, salah satunya dengan cara melakukan pengembangan secara global. Dengan cara ini akan diperoleh :
a. Penambahan keuntungan yang lebih besar, melalui kemampuan khusus atau inti.

b. Menyadari ekonomi lokasi, dimana mendorong untuk terciptanya kreasi nilai (value creation) pada lokasi yang akan di targetkan yang mungkin paling efisien.

c. Menyadari adanya kurva pengalaman yang lebih besar, yang akan mengurangi anggaran (value creatio).


2. Tekanan-tekanan untuk mengurangi anggaran dan local responsiveness


Dalam memasuki pasar global, ada dua tipe tekanan persaingan yang akan dihadapi, yaitu:

a. Tekanan untuk pengurangan anggaran
Tekanan ini bisa diatasi dengan cara melakukan produksi masa dan standardisasi produk pada lokasi yang tepat.

b. Tekanan untuk tanggap akan lingkungan domestik

Tekanan domestik terjadi karena hal-hal berikut :
• Perbedaan selera konsumen dan pilihan
• Perbedaan infrastruktur dan praktek tradisional
• Perbedaan saluran distribusi
• Permintaan pemerintah domestik


B.Pemilihan Strategi


Perusahaan mempunyai empat macam strategi untuk bersaing di pasar global yaitu :

1. Strategi Internasional (International Strategy)


Strategi ini memasarkan bagaimana perusahaan untuk menciptakan suatu nilai yang unggul dari pada pesaing lain dengan transfer keahlian dan produk yang bernilai kepada pasar asing, dimana dibidang ini menjadi kelemahan yang dimiliki oleh pesaing dan kompetensi inti ini tidak dimiliki oleh para pesaing.

2. Strategi Multidomestik ( Multidomestic Strategy)


Dalam penerapan strategi ini, perusahaan secara ekstensif melakukan kostumisasi terhadap produk dan strategi pemasaran produknya kearah kondisi nasional yang berbeda, dimana value creation juga menjadikan pada kegiatan produksi, pemasaran, R&D (penelitian & pengembangan) di setiap negara yang di jadikan target pasar global.

3. Strategi Global


Strategi global memusatkan pada peningkatan laba, dimana lebih mengarahkan pada standardisasi kualitas produk secara global, dan tidak melakukan penyesuaian produk terhadap kondisi domestik, karena menggunakan strategi low cost sehingga menbisakan laba yang maksimal.

4. Strategi Transnasional


Strategi ini mencoba mencapai semua strategi yang ada untuk menbisakan solusi untuk semua masalah. Dimana perusahaan melakukan pengurang anggaran atas kondisi domestik dan juga transfer kompetensi inti serta tekanan domestik. Jadi strategi ini berusaha untuk mengurangi tekanan pengurangan anggaran dan tekanan local responsiveness yang tinggi secara bersama dan juga melakukan diferensiasi.

Masing-masing strategi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu, kita sebagai pemilik perusahaan harus bisa memilih strategi yang tepat guna untuk menghadapi kondisi dengan pertimbangan tekanan pengurangan anggaran dan tekanan domestik responsiveness yang akan dihadapi.

C. Persekutuan Strategi


Persekutuan strategi adalah salah satu komponen yang terpenting dalam sebuah strategi perusahaan, dimana berkenaan dengan persetujuan kooperasi atau persetujuan bersama antara pesaing potensial dengan pesaing yang sudah ada. Dalam persekutuan strategi ini terbisa berbagai keunggulan dan kelemahan. Salah satu manfaat persekutuan strategi adalah mudah untuk memasuki pasar internasional dengan saling melengkapi kekurangan satu dengan yang lainnya dalam hal keahlian dan penurunan anggaran dan resiko dalam mempromosikan produk serta mudah dalam penetapan standar teknologi industri internasional.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan supaya persekutuan strategi ini sukses, yaitu :

1. Pemilihan beberapa partner/rekan bisnis, dimana harus jelas siapa yang akan kita ajak untuk melakukan kerjasama, apakah partner tersebut bisa bekerjasama mencapai tujuan strategi dan tujuan persekutuannya serta tidak memanfaatkan persekutuannya dimasa mendatang untuk keperluan individunya. Dan sebagai perusahaan yang kedepannya akan melakukan aliansi kerjasama strategi, kita harus melakukan berbagai langkah-langkah yang tepat seperti, mencari informasi tentang rekan bisnis dan mengumpulkan data serta mencari tahu tentang rekan bisnis tersebut.

2. Struktur persekutuan adalah memastikan suatu rancangan yang terstruktur sehingga terjadi keadilan dalam hal pembebanan risiko dan menghindari terjadinya pemanfaatan dari rekan bisnis untuk kepentingannya pribadi.

3. Penanganan persekutuan, dalam hal ini bisa dilakukan pengamanan dengan teknologi, atau dengan penetapan kontrak, dimana terjadi persetujuan atau kesepakatan yang jelas, adil antara perusahaan dengan partnernya dengan komitmen yang mantap supaya tidak terjadi resiko yang tidak diinginkan.


D. Memasuki Pasar Asing


Ada enam cara yang berbeda yang bisa digunakan perusahaan dalam memasuki pasar asing atau pasar internasional, yaitu :

1. Ekspor


Kegiatan melakukan ekspor merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya pada pasar global. Melakukan kegiatan ekspor mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.

kelebihannya adalah menghindari anggaran substansi dan membantu perusahaan untuk mencapai kurva pengalaman dan lokasi yang ekonomis sesuai strategi pasar global, apalagi jika negara itu tersentralisasi, maka bisa memanfaatkan skala ekonomi dari volume penjualan global. Sedangkan kekurangan yang dimiliki adalah akan tidak memberikan profit di negara asal jika ternyata lebih ekonomis dan efektikf jika diproduksi di negara tujuan target pasar global, lalu anggaran transportasi yang terlalu tinggi dan ancaman tarif akan membaut menjadi kurang ekonomis dan efektif serta sangat beresiko yang mengakibatkan kegagalan.

2. Proyek “Turnkey”


Dalam proyek turnkey kontraktor setuju akan menangani setiap detil proyek untuk klien asing termasuk pada training para personilnya. Proyak Turnkey adalah proses teknologi untuk melakukan proses ekspor ke negara lain. Jadi dengan adanya proyek turnkey merupakan suatu proyek yang dalam proses nya yaitu melakukan kegiatan ekspor ke negara lain, kendalinya dipegang oleh klien asing itu sendiri dalam hal ini perusahaan asing.

Keuntungannya :
• Perusahaan menbisa pengembalian ekonomi dari aset pada saat investasi langsung

Kelemahannya :
• Tidak ada keuntungan jangka panjang di negara asing tersebut.
• Terciptanya persaingan yang ketat.
• Apabila persaingan bersumber dari teknologi, maka perusahaan domestik akan menjual keunggulan bersaingannya pada pesaing potensial atau aktual.

3. Lisensi


Merupakan suatu kesepakatan antara pemberi lisensi yang akan memberikan haknya kepada pembeli lisensi, dalam beberapa waktu tertentu dimana pemilik lisensi akan memperkenakan pengembaliannya dalam bentuk imbalan dari pembeli lisensi tersebut.

Keuntungannya :
• Anggaran dan resiko yang dihasilkan rendah atau kecil.
• Merupakan kesempatan yang menarik bagi perusahaan yang mempunyai dana sedikit dan ingin melakukan operasional di negara asing.
• Mempermudah perusahaan yang akan ingin masuk pada pasar asing melalui investasi.

Kelemahannya :
• Tidak adanya hak bagi perusahaan dalam mengontrol atau melakukan pemantauan terhadap pemasaran, manufaktur, strategi dan pemanfaatan lokasi untuk tujuan ekonomis dan efisiensi
• Susah dalam hal bersaing karena memerlukan koordinasi dan strategi.
• Kemungkinan mempunyai kehilangan ‘technological know how’ yang berdampak pada keunggulan bersaing bagi perusahaan asal.

Ada jalan keluar untuk mengatasi kelemahan yang sudah di terangkan diatas, yaitu melalui cross licensing agreement, yaitu merupakan cara yang paling tepat digunakan pada industri-industri teknologi dimana ada perjanjian atau kesepakatan bahwa perusahaan bisa melisensi beberapa kepemilikannya yang tidak berwujud dan memberikan pengetahuan teknologinya kepada perusahaan asal.

4. Waralaba (Franchising)


Waralaba merupakan bentuk sertifikat, waralaba menjual tidak hanya property yang tidak berwujud,akan tetapi juga sesuatu hal yang disetujui dengan aturan yang ketat sesuai tata cara untuk melakukan bisnis. Dimana frenchisor membantu kepada frenchisee untuk menjalankan bisnisnya dengan memberikan balasan yaitu yang disebut royalti sejumlah prosentase tertentu dari hasil penjualan bisnis frenchiseenya. Biasanya penggunaan waralaba terbisa pada perusahaan jasa.


Keunggulannya :
• Anggaran dan resiko yang rendah.
• Mudah masuk pasar asing.
• Mempercepat dalam menbisakan keuntungan.

Kelemahannya :
• Masalah dalam pengendalian kualitas.

5. Joint Venture dengan perusahaan setempat


Joint venture merupakan suatu bentuk kerjasama antar dua perusahaan atau lebih menjadi satu perusahaan (bergabung) atau keberadaan satu perusahaan yang dimiliki oleh dua atau lebih perusahaan.

Keunggulannya :
• Mendapatkan manfaat dari pengetahuan partner domestik.
• Bisa berbagi anggaran dan resiko dengan partner domestik.
• Merupakan cara untuk memasuki pasar asing.

Kelemahannya :
• Resiko dalam hal memberikan teknologinya kepada partner domestik.
• Tidak ada pengendalian yang ketat.
• Kepemilikan bisa mengarah pada konflik dan perang pengendalian antar perusahaan.

6. Dimiliki sepenuhnya oleh cabang


Dalam kategori ini 100% saham akan dimiliki sendiri oleh perusahaan yang akan memasuki pasar asing. Dimana untuk mengatasinya ada dua cara untuk melakukan strategi ini :
• Dengan menjadikan operasional baru pada negara tersebut.
• Dengan merayu dan menggunakan perusahaan yang ada di negara tersebut untuk mempromosikan produknya dipasar.
Keunggulannya :
• Meniadakan resiko kehilangan keunggulan bersaingnya.
• Adanya pengendalian yang ketat pada proses operasional diberbagai negara.

Kelemahannya :
• Mahalnya anggaran yang dikeluarkan untuk memasuki pasar di negara asing.
• Karena perusahaan membuat seluruh proses operasi di negara tujuan sendiri saja maka anggaran dan resiko yang ditanggung besar.


E. Pemasaran Global


Pemasaran global menitikberatkan untuk melakukan strategi promosi pemasaran bisnis internasional yaitu bagaimana supaya perusahaan menentukan kapan waktunya untuk produk terstandardisasi dan kapan waktunya untuk tidak terstandardisasi. Dalam melakukan pemasaran global juga harus diperhatikan untuk bauran pemasaran dengan selalu memandang pada cita rasa dan preferensi konsumen yang konsisten di berbagai penjuru negara.

F. Manajemen Operasional Global


Perbaikan dalam pengendalian kualitas akan mengurangi anggaran melalui tiga cara :

1. Meningkatkan produktivitas sebab ketidak adanya pemborosan dan pengurangan cacat.
2. Peningkatan kualitas produk artinya mengurangi anggaran cacat dan scrap.
3. Menurunkan jaminan dan anggaran perbaikan atau pengerjaan ulang untuk kualitas produk yang lebih baik.

Dalam manajemen operasional berarti semua pihak atau semua bidang yang terintegrasi dalam perusahaan ikut secara bersama menjalankan tugas atau cara-cara diatas dengan baik dan benar supaya tujuan perusahaan yaitu menbisakan peningkatan laba akan tercapai.

G. Sumber Daya Manusia Global


Dalam bidang ini akan membahas tentang bagaimana perusahaan mengatur srtuktur oraganisasinya yaitu bagian sumber daya manusia secara efektif. Diantaranya yaitu staffing, evaluasi kinerja, pengembangan manajemen, kompensasi dan hubungan antar tenaga kerja. Karena dengan perusahaan mempunyai kepedulian terhadap karyawannya baik itu yang ada di dalam negri maupun karyawannya yang ada di negara dimana perusahaan melakukan perdagangan atau masuk ke pasar internasional, maka akan membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya visi dan misinya.

BAB 3
PENUTUP

A. Pendekatan Strategis sebagai Solusi Menghadapi Tantangan Global


Studi Hubungan Internasional merupakan sebuah studi dinamis, yang memungkinkan adanya perkembangan ilmu sesuai tuntutan zaman. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya fenomena-fenomena internasional yang bermunculan. Semakin beragamnya fenomena, menuntut Hubungan Internasional untuk bisa mengkaji dan menganalisis penyebab dan mencari solusi dari peristiwa yang terjadi. Pergeseran objek kajianpun terjadi dalam studi Hubungan Internasional. Terlebih setelah berakhirnya Perang Dingin, objek kajian studi Hubungan Internasional yang dulunya hanya berfokus mengenai negara, konflik dan perdamaian, bergeser mengenai isu-isu yang sebelumnya luput dari perhatian Hubungan Internasional. Dengan beragamnya fenomena hubungan internasional, perspektif yang digunakan untuk mengkaji fenomena tersebut tidak cukup jika hanya menggunakan perspektif tradisional Hubungan Internasional. Perspektif tradisional seperti Realisme dan Liberalisme, dianggap mempunyai kekurangan karena terlalu state-centric. Sehingga persoalan diluar negara, tidak bisa dijelaskan melalui perspektif tradisional. Mengingat bahwa persoalan yang dihadapi Hubungan Internasional saat ini bukan lagi hanya berfokus pada suatu negara namun juga terhadap isu global internasional.

Diperlukan perspektif lain yaitu perspektif alternatif yang bisa mengisi kelemahan perspektif tradisional untuk membantu menjawab isu global yang terjadi saat ini. Perspektif-perspektif alternatif tersebut sering kali mengkritisi perspektif tradisional, dan berusaha mengangkat isu-isu baru yang tidak dilihat pada perspektif tradisional. Seperti contohnya adalah mengenai isu lingkungan, yang kemudian diangkat menjadi isu global oleh perspektif hijau. Isu seperti lingkungan menjadi sangat baru bagi studi Hubungan Internasional, karena sebelumnya fokus kajian dalam Hubungan Internasional adalah antroposentris. Yang mana pemikirannya berfokus pada manusia, seperti Realisme dan Liberalisme yang berasumsi pada sifat dasar manusia. Sedangkan untuk perspektif pada lingkungan, pendekatan yang digunakan adalah ecosentris, yang mana lingkungan hijau sebagai fokus kajiannya. Sehingga pada perspektif hijau, problematika lingkungan beserta rezim lingkungan perlu untuk dibahas karena permasalah tersebut sudah dianggap tidak bisa diselesaikan oleh negara (Peterson, 2005:236).

Fenomena yang sedang dirasakan dunia saat ini adalah globalisasi. Pasca Perang Dingin, globalisasi menjadi fenomena yang masif dalam hubungan internasional. Sehingga dengan adanya globalisasi, merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya pergeseran fokus dalam studi Hubungan Internasional. Menurut Linklater (2001), globalisasi telah memengaruhi komunitas politik dan menciptakan fragmentasi baru. Sehingga dengan globalisasi hakikat dari komunitas politik bisa berubah, sebagai contohnya bisa dilihat dari negara –negara dunia ketiga. Yang mana melalui globalisasi ekonomi dan politik meningkat dengan dibukanya banyak kerjasama internasional, namun nyatanya fragmentasi dalam komunitas politik tetap terjadi di negara dunia ketiga. Fragmentasi komunitas politik ini disebabkan karena kegagalan atau ketidakmampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya (Linklater, 2001:624). Ditambah dengan adanya globalisasi, persaingan pasar semakin bebas sehingga mengharuskan negara untuk mencari solusi supaya bisa bertahan di dunia internasional. Dengan begitu, negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional tidak bisa bertahan sendiri tanpa memperdulikan aktor non negara seperti MNCs dan lainnya. Negara harus bisa berbagi peran dengan aktor lain untuk bisa menyelasaikan berbagai masalah yang saat ini semakin kompleks. Sehingga bisa dipastikan bahwa dengan adanya globalisasi aktor non negara yang sebelumnya tidak dianggap penting, saat ini bahkan bisa mempengaruhi perilaku negara dalam hubungan internasional.

Dengan demikan perspektif mainstream dalam Hubungan Internasional, perlu kehadiran perspektif baru yaitu perspektif alternatif yang bisa melihat fenomena hubungan internasional lebih luas. Sehingga tidak hanya berfokus dengan sesuatu yang menyangkut negara saja, akan tetapi lebih khususnya dalam mengahadapai tantangan globalisasi. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa globalisasi tidak bisa dihindari negara. Globalisasi beserta tanda yang mengikutinya memaksa suatu Hubungan Internasional untuk menanggung globalisasi menjadikan salah satu fokus kajian dalam Hubungan Internasional. Perspektif mainstream kemudian tidak cukup untuk mengkaji masalah globalisasi, untuk itulah perlu adanya perspektif atau pendekatan lain.

Salah satu pernyataan Hubungan Internasional yaitu Linklater (2001) mencoba untuk melakukan analisis pengaruh globalisasi yang telah mempengaruhi komunitas politik dengan tiga pendekatan.
Pendekatan pertama adalah kosmopolitanisme yang mempunyai fokus pada kesetaraan individu. Dan solusi dari problematika global adalah dengan mendorong adanya kesejahteraan yang merata di segala aspek bidang (Linklater, 2001:629).
Pendekatan kedua adalah postmodernisme yang menyoroti bahaya dari konstruksi ilmu pengetahuan yang dihasilkan manusia. Konstruksi ilmu pengetahuan ini menurut Foucault bisa menjadikan fondasi baru bagi power dan dominasi seseorang (Linklater, 2001:630).
Pendekatan ketiga adalah komunitarianisme yang mempunyai pendapat bahwa seseorang memiliki kepentingan terhadap suatu komunitas, yangmana individu juga mempunyai loyalitas dan akan menjaga loyalitas tersebut saat telah menjadi anggota dari suatu komunitas tersebut(Linklater, 2001:630). Artinya adalah dalam sebuah komunitas, anggotanya akan tunduk terhadap nilai-nilai komunitas tersebut dan tidak mudah untuk pindah ke lain komunitas karena terikat satu sama lain.

Perlilaku Hubungan Internasional merupakan studi yang dinamis artinya selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman, tentunya tidak cukup hanya dengan perspektif tradisional maupun alternatif yang saat ini telah ada. Perlu adanya kemunculan perspektif baru yang akan mewarnai studi Hubungan Internasional. Dikarenakan, perspektif tidak hanya digunakan dalam teks tetapi juga dalam praktek. Negara dalam melakukan usahanya harus bertahan dalam tantangan global, perlu mempergunakan banyak perspektif tidak hanya terfokus pada salah satu perspektif saja. Alasan lain karena perlunya lebih dari satu perspektif yang digunakan dalam menganalisa suatu fenomena yang terjadi adalah karena setiap perspektif pasti memiliki kekurangan. Sehingga diperlukan perspektif lainnya guna membantu menangani suatu masalah. Pendekatan strategis menjadi solusi yang dirasa tepat dan dibutuhkan untuk menghadapi persoalan global yang saat ini sedang dihadapi berbagai negara di dunia. Pendekatan strategis dibawa oleh David A Lake dan Robert Powell (1999) yang menekankan negara untuk bertindak strategis supaya kepentingan negara bisa dicapai dan supaya meminimalisir kerugian ataupun berbagai hal yang tidak diinginkan terjadi. Pendekatan Strategis berasumsi jika aktor akan membuat keputusan yang merepresentasikan tujuannya sendiri (Lake & Powell, 1999:7). Dengan mempunyai tujuan, maka tindakan apa yang akan dilakukan harus dipikirkan dan diperhitungkan dengan matang. Cara berfikir strategis dan perilaku strategis sangat diperlukan dalam hal ini. Untuk itu pendekatan strategis muncul, dengan memberikan alternatif lain khusunya dalam menghadapi globalisasi, yang mana setiap aktor perlu untuk menjadi strategis supaya bisa bertahan.

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa saat ini Studi Hubungan Internasional telah banyak mengalami perkembangan. Hal ini dilihat dari semakin bermunculan perspektif-perspektif baru yang mewarnai Hubungan Internasional. perspektif-perspektif baru ini, hadir dengan mengangkat fenomena yang juga baru dan tidak dilihat sebelumnya oleh perspektif tradisional. Studi Hubungan Internasional Airlangga juga menilai bahwa tidak cukup jika hanya menggunakan perspektif tradisional untuk menjelaskan fenomena kontemporer yang saat ini terjadi. Untuk itulah diperlukan perspektif lain yang bersifat strategis. Melalui pendidikan di Airlangga School of Thought yang saat ini sedang melakukan pengembangan, menyuguhkan sebuah perspektif yang tidak hanya berfokus pada pola pikir yang strategis, akan tetapi juga pada sikap strategis dalam Hubungan Internasional. Sehingga para HI khususnya HI Universitas Airlangga yang dituntut untuk menjadi seorang strategis dengan dibekali kemampuan komunikasi, negosiasi dan manajerial yang tinggi diharapkan mampu dalam membuka jalan bagi pengembangan perspektif dan paradigma baru tersebut sehingga ilmu HI khususnya di Indonesia bisa berkembang dengan akar tradisinya sendiri.



DAFTAR PUSTAKA


http://mrasyidin.blogspot.com/2010/04/strategi-global.html di akses pada 1 Desember 2019
http://indahjewel.blogspot.com/2012/06/manajemen-strategi-pada-lingkungan.html di akses pada 1 Desember 2019
http://retno-anggraeni-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-106715-Teori%20Hubungan%20Internasional-Pendekatan%20Strategis%20sebagai%20Solusi%20Menghadapi%20Tantangan%20Global.html Di akses pada 1 Desember 2019
Model Pertumbuhan Ekonomi Neo Klasik

Model Pertumbuhan Ekonomi Neo Klasik




Model Pertumbuhan Ekonomi Solow – Swan (Neo – Klasik

A. Mengenal Teori Solow – Swan

Robert Solow dari MIT dan Trevor Swan dari Australian National University secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang sekarang sering disebut dengan nama model pertumbuhan Neo-Klasik. Seperti halnya dengan model Harrod-Domar, model Solow-Swan memusatkan perhatiannya pada bagaimana pertumbuhan penduduk, akumulasi capital, kemajuan teknologi dan output saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi.

Walaupun dalam kerangka umum dari model Solow-Swan mirip dengan model model Harrod-Domar, tetapi model Solow-Swan lebih “luwes” karena :

(a) Menghindari masalahy “ketidakstabilan” yang mkemrupakan cirri warranted rate of growth dalam model Harrod-Domar

(b) Bisa lebih luwes digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah distribusi pendapatan.

Keluesan ini terutama disebabkan oleh karena Solow dan swan menggunakan bentuk fungsi produksi yang lebih mudah dimanipulasikan secara aljabar. Dalam model Harrod-Domar, output dan capital dan output dan tenaga kerja masing-masing dihubungkan oleh satu “fungsi produksi” dengan koefisien yang tidak bisa berubah, yaitu Qp = hK dan Qn, = nN. Dalam model Neo-Klasik dari Solow dan Swan dipergunakan suatu fungsi produksi yang lebih umum, yang bias menampung berbagai kemungkinan substitusi antara capital (K) dan tenaga kerja (L). Bentuk fungsi produksi adalah:

Q = F ( K, L )

Yang memungkinkan berbagai kombinasi penggunaan K dan L untuk mendapatkan suatu tingkat output. Fungsi produksi semacam ini (yang sering dijumpai dalam teori ekonomi mikro) disebut fungsi produksi Neo-Klasik. Dalam menggunakan fungsi semacam inilah Solow dan Swan bisa menghindari masalah “ketidakstabilan” dan mengambil kesimpulan-kesimpulan baru mengenai distribusi pendapatan dalam proses pertumbuhan (seperti halnya kaum Klasik).

Dengan digunakannya fungsi produksi Neo-klasik tersebut, ada satu konsekuensi lain yang penting. Konsekuensi ini adalah bahwa seluruh factor yang tersedia, baik berupa K maupun berupa L akan selalu terpakai atau tergunakan secara penuh dalam proses produksi. Ini disebabkan karena dengan fungsi produksi Neo-Klasik tersebut, berapapun K dan L yang tersedia akan bisa dikombinasikan untuk proses produksi, sehingga tidak ada lagi kemungkinan “kelebihan” dan “kekurangan” factor produksi seperti dalam model misalnya, Harrod-Domar atau Lewis. Posisi “full employment” ini membedakan model Neo-Klasik. Dengan adanya model Keynesian (Harrod-Domar) maupun model Klasik. Jadi jelas bahwa penggunaan fungsi produksi Neo-Kalsik sehingga selalu jelas terdapat ‘full employment’ merupakan cirri utama yang membedakan model ini dengan model-model pertumbuhan lain.



B. Proses Pertumbuhan Ekonomi

Ada empat hal yang melandasi model Neo-Klasik:

(a) Tenaga kerja (atau produk), L, tumbuh dengan laju tertentu, misalnya p per tahun

(b) Adanya fungsi produksi Q = F ( K, L ) yang berlaku bagi setiap produksi.

(c) Adanya kecenderungan menabung (prospensity to save) oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dari output (Q0. Tabungan masyarakat S = sQ; bila Q naik S juga naik , dan turun bila Q turun.

(d) Semua tabungan masyarakat diinvestasikan S = I = ∆K. Dalam model Neo-Klasik tidak lagi dipermasalahkan mengenai keseimbangan S dan I. Dengan kata lain perkataan permasalahan yang menyangkut “warranted rate of growth” tidak lagi relevan. Proses pertumbuhan dalam model Neo-Klasik selalu memenuhi syarat warranted rate of growth, karena S dinggap selalu sama dengan I.



Ada dua masalah pokok yang saling berkaitan yamg perlu dipelajari mengenai proses pertumbuhan Neo-Klasik ini. Masalah yang pertama menyangkut pertanyaan : apakah proses tersebut akan membawa perekonomian pada suatu pola pertumbuhan tertentu dan bisa diramalkan, apakah proses tersebut berkelan jutan dan sama sekali tidak bisa diduga kemana akan membawa perekonomian kita ? Dengan kata lain perkataan, apakah proses pertumbuhan tersebut akan membawa perekonomian pada posisi keseimbangan jangka panjang (long run equilibrium) atau tidak ?

Masalah yang kedua menyangkut pertanyaan : Apabila memang ternyata proses semacam itu akhirnya membawa perekonomian pada posisi keseimbangan jangka panjangnya, apakah cirri-ciri utama posisi ini ) ? Khususnya kita bisa menanyakan mengenai apa yang terjadi dengan output, capital, tenaga kerja, tingkat upah, tingkat keuntungan, dsb pada posisi long run equilibrium ini ?

Jawaban bagi kedua masalah tersebut bisa menjadi landasan bagi ekonom dalam meramalkan apa yang akan terjadi dalam jangka panjang terhadap suatu perekonomian, apabila asumsi-asumsi dasar Neo-Klasik tersebut terpenuhi.



C. Keseimbangan Jangka Panjang

Perekonomian Neo-Klasik akan menuju ke suatu posisi keseimbangan jangka panjang. Kita memerlukan sedikit manipulasi aljabar untuk menjawab pertanyaan ini.

Anggap bahwa fungsi produksi Q = F ( K, L ) mempunyai ciri constsnt return to scale artinya apabila K dan L masing-masing dinaikan dengan x%, mak Q juga akan naik dengan x%. Apabila constant return to scale berlaku, maka kita bisa menyatakan fungsi produksi tersebut dalam bentuk yang lebih sederhana. Selanjutnya F ( k, l ) bisa kita nyatakan sebagai suatu fungsi lain F ( k ) yang hanya mempunyai satu variable ( K saja ) karena angka 1 adalah suatu constant (bukan variable), sehingga fungsi produksi kita menjadi



q = f ( k )……………………………………………………………(1)



Persamaan ini mengatakan bahwa output per tenaga kerja adalah fungsi dari kapita per tenaga kerja, atau output per kapita adalah fungsi capital per kapita.

Selanjutnya, penduduk (atau tenaga kerja) dianggap tumbuh dengan p setahun dan masyarakat mempunyai kecenderungan menabung yang ditunjukkan oleh prospensity to save s. Semua yang ditabung diinvestasikan dan menambah stock capital dengan ∆ K = sQ. setelah mengalami manipulasi aljabar persamaan menjadi:



K= K . L ………………………………………………………….(2)



Persamaan (2) mengatakan bahwa laju pertumbuhan capital per kapita sama dengan laju partum buhan stok capital (total) minus laju pertumbuhan penduduk atau tanaga kerja.

Lalu mana yang disebut keseimbangan jangka panjang ? Solow mengatakan bahwa posisi long run equilibrium akan tercapai apabila capital per kapita , k, mencapai suatu tingkat yang stabil, artimya tidak lagi berubah nilainya. Apabila K constant, maka long run equilibrium akan tercapai. Posisi long run equilibrium ini juga disebut posisi Steady state. Syarat ini mempunyai konsekuensi bahwa k = 0.



D. Ciri – Ciri Keseimbangan

Apakah karakteristik dari posisi keseimbangan tersebut ?

Ciri yang pertama langsung dapat disimpulkan dari urain di atas , yaitu bahwa pada posisi tersebut capital yang dipergunakan dalam proses produksi per pekerja adalah constant (k*) dan output per pekerja atau output perkapita adalah juga constant (q*). Dengan demikian pula capital – output ratio adalah juga constant (v*). Karena v*=k* / q*

Ciri yang kedua adalah mengenai laju pertumbuhan output, capital dan tenaga kerja. Pada posisi long run equilibrium laju pertumbuhan output bisa disimpulkan dari cirri bahwa output perkapita adalah constant dan penduduk tumbuh dengann p.. jadi singkatnya pada posisi ini Q, K, L tumbuh dengan laju yang sama. Dalam model Neo-Klasik, pertumbuhan Q dan K menyesuaikan diri dengan pertumbuhan penduduk. Dan pertumbuhan penduduklah yang menentukan laju pertumbuhan ekonomi; semakin cepat pertumbuhan penduduk tumbuh, semakin cepat pula pertumbuhan ekonomi. Ini adalah suatu kesimpulan yang bertolak belakang dengan kesimpulan model Klasik maupum model Keynesian (Harrod-Domar).

Ciri yang ketiga adalah mengenai Stabilitas dari posisi keseimbangan tersebut. Posisi keseimbangan model Solow-Swan bersifat “stabil”, dalam arti bahwa apabila kebetulan perekonomian tersebut tidak pada posisi keseimbangan, maka akan ada kekuatan-kekuatan yang cenderung membawa kembali perekonomian tersebut pada posisi keseimbangan jangka panjangnya.

Ciri yang keempat menyangkut tingkat konsumsi danm tingkat tabungan 9investasi)

Ciri yang kelima berkaitan dengan imbalan yang diterima oleh masing-masing factor produksi ( K dan L ), lalu aspek distribusi pendapatan. Karena hanya ada macam factor produksi, maka GDP ( = Q ) akakn terbagi habis antara para pemilik capital dan para pemilik factor produksi tenaga kerja (buruh),

Q = rK + wL

Dimana r adalah tingkat keuntungan yang diterima per unit kapital, dan w adalah tingkat yang diteriama oleh setiap orang buruh. Kita bisa simpulkan bahwa pada posisi keseimbangan jangka panjang baik r maupun w harus konstan yaitu setiap unit kapital menerima imbalan berupa keuntungan tertentu (r*) dan setiap pekerja menerima upah tertentu (w*), dan kedua imbalan ini tidak berubah dalam proses pertumbuhan selanjutnya.

Bagaimanakah dengan “bagian” (share) antara para pemilik kapital dengan para “pemilik tenaga kerja” (buruh) di dalam GDP Negara tersebut ?. Apabila pada posisi keseimbangan Q, L, K tumbuh dengan laju yang sama, dan r dan w adalah konstan, maka jelas bahwa para pemilik kapital dan kelompok buruh masing-masimg akan menerima “bagian” dari GDP dalam presentase yang tetap, yaitu rK/Q akan tetap dan wL/Q juga akan tetap dalam proses pertumbuhan perekonomian selanjutnya.

Menurut teori ekonomi mikro, imbalan yang diterima oleh suatu factor produksi (pada posisi equilibrium) akan sama dengan marginal productnya. Jadi imbalan bagi factor produksi kapital (pada posisi equilibrium) akan sama dengan MPK.

Ciri yang keenam, berkaitan dengan pertumbuhan produktivitas dapat dipengaruhi oleh kemajuian teknologi yang diukur dalam satuan efisiensinya. Misal, apabila jumlah tenaga kerja sebelum adanya kemajuan teknologi adalah 100, dan kemudian ada kemajuan teknologi yang meningkatkan produktivitas pertenaga kerja dengan 50%nya, maka jumlah tenaga kerja efektif setelah kemajuan teknologi adalah 150 (meskipun jumlah manusianya tetap 100, tetapi kemampuan produksinya meningkat menjadi 150).

Jadi N (Laju pertumbuhan tenaga kerja efektif) tumbuh karena dua sebab, yaitu:

(a) Pertumbuhan jumlah manusia atau pertumbuhan penduduk (misalnya, p per tahun) dan

(b) Pertumbuhan produktivitas per manusia atau kemajuan teknologi (misalnya, t per tahun)



Jadi adanya kemajuan teknologi tidak banyak merubah syarat keseimbangan jangka panjang kecuali adanya koefisien t (laju kemajuan teknologi atau laju kenaikkan produktivitas per tenaga kerja)

Ciri-ciri dari keseimbangan dengan kemajuan teknologi ini sedikit berbeda dengan kasus tanpa kemajuan teknologi. Perbedaannya yang kita buat antara jumlah penduduk (L) dan jumlah tenaga kerja efektif (N). Pada posisi keseimbangan, kapital per tenaga kerja efektif adalah konstan (k**) dan output per tenaga kerja efektif adalah juga konstan (q**). Tetapi perhatikan bahwa kapital per kapita (per manusia) meningkat dengan laju t per tahun. Ini disebabkan karena laju pertumbuhan N adalah p + t. Tetapi L tumbuh hanya dengan laju p, sehingga K/L tumbuh dengan laju t, logika yang sama berlaku bagi Q/L. Secara ringkas dalam posisi keseimbangan dengan kemajuan teknologi:



Q = K = N = p + t

L = p

Q/L tumbuh dengan laju t

K/L tumbuh dengan laju t



Makna ekonomis dari kesimpulan-kesimpulan ini adalah bahwa posisi keseimbangan jangka panjang, output (GDP), dan demikian pula stok kapital (K), bisa tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan penduduk, tergantung pada ada tidaknya kemajuan teknologi (t positif atau tidak). Teknologi merupakan kunci dari perbaikan GDP per kapita !

Dari segi tingkat keuntungan dan tingkat upah terdapat pula perbedaan dengan kasus tanpa kemajuan teknologi. Kita ingat bahwa GDP akan terbagi habis antara kapital dan tenaga kerja sehingga dipenuhi persamaan



Q = rK + wN



Apabila Q, K, N tumbuh dengan laju yang sama , yaitu p + t, maka r dan w harus konstan. Tingkat keuntungan perunit kapital (r) adalah konstan dan tingkat upah perunit tenaga kerja efektif (w) adalah juga konstan. Tetapi tingkat upah per manusia (atau per pekerja) meningkat dengan makin meningkatnya “nilai”setiap manusia yang dinyatakakn dalam unit tenaga kerja efektifnya. Sebagai contoh, apabila w = Rp. 100,- dan sebelumnya ada kemajuan teknologi satu orang pekerja adalah sama dengan satu unittenaga kerja efektif. Kemudian terjadi kemajuan teknologi yang meningkatkan produktivitas buruh menjadi dua kali lipatnya. Dalam hal ini kemajuan teknologi telah membuat satu orang pekerja bernilai dua unit tenaga kerja efektif. Karena setiap unit tenaga kerja efektif digaji Rp. 100,- maka sekarang seorang pekerja menerima 2 x Rp. 100,- = Rp. 200,-. Perhatikan di sini adanya kemungkinan perbaikan hidup para pekerja dengan adanya kemajuan teknologi. Perhatikan pula bahwa (setidak-tidaknya dalam model Neo-Klasik) satu-satunya sumber perbaikan bagi para pekerja dalam jangka panjang adalah kemajuan terknologi, bukan akumulasi kapital.

“Share” dari masing-masing factor produksi dalam GDP adalah konstan. Ini jelas apabila kita ingat persamaan



Q = rK + wN



Bahwa Q, K, N tumbuh dengan laju yang sama dan r, w adalah konstan. Sehingga share dari factor produksi kapital dalam GDP (yaitu rK/Q) adalah konstan, dan demikian pula share dari faktor produksi tenaga kerja dalam GDP (yaitu wN/Q) adalah juga konstan.

III. KESIMPULAN

Solow-Swan Economic : Model Suatu teori yang disusun dengan focus pada peranan perubahan teknologi dalam proses PERTUMBUHAN EKONOMI (ECONOMIC GROWTH).

Dalam Model pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar, rasio output modal diasumsikan konstan, sehingga terdapat suatu hubungan garis lurus antara peningkatan jumlah modal (melelui investasi) dan peningkatan yang dihasilkan output. Contoh, jika dibutuhkan modal modal sebesar Rp. 3000,- untuk memproduksi 1000 output, maka rasio output modalnya adalah satu per tiga, dalam hal ini diasumsikan berlaku pada penambahan jumlah modal selanjutnya. sebaliknya, model Solow-Swan menggunakan sebuah fungsi produksi dimana output merupakan suatu fungsi dari modal dan tenaga kerja, dimana modal dapat digantikan dengan tenaga kerja tetapi dengan tingkat kesempurnaan yang bervarias, dan yang menunjukkan pengembalian yang menurun. Jadi apabila modal ditingkatkan secara relative dibandingkan dengan tenaga kerja, maka peningkatan yang terjadi dala output secara progresifmenjadi lebih kecil. Dengan asumsi bahwa suatu rasio output modalmenjadi variable pada saat jumlah modal suatu negara meningkat, maka pengembalian yang menurun terjadi dan menghasilkan tambahan output yang lebih kecil secara progresif. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi yang terus menerus membutuhkan tidak saja investasi perluasan modal akan tetapi juga investasi pendalaman modal. Kemajuan teknologi (teknik, proses dan metode baru produksi yang baru dan produ-produk baru) memainkan suatu peranan penting dalam menyeimbangkan pengembalian yang menurun pada saat jumlah modal meningkat.


Kewirausahaan : contoh proposal usaha roti bakar

Kewirausahaan : contoh proposal usaha roti bakar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Seiring dengan perkembangan zaman dan lingkungan maka orang sekarang mulai berhati-hati dalam memilih dan membeli sesuatu. Salah satu hal dimana orang sangat hati-hati dan teliti sekali dalam memilih dan membeli adalah ketika manusia membeli makanan.


Zaman dulu orang membeli makanan hanya berpedoman pada rasanya yang enak dan murah, ini terutama bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dua hal inilah yang menjadi prioritas utama dalam membeli makanan. Mereka tidak begitu memikirkan kandungan gizi dan nutrisi yang terkandung didalam makanan yang mereka beli.


Akan tetapi akhir-akhir ini kecenderungan masyarakat kita dalam membeli makanan adalah memperhatikan rasa, gizi yang terkandung dalam makanan tersebut, baru kemudian memikirkan harga. Oleh karena itu, roti banyak menjadi pilihan manusia untuk makanan ringan, dimana dari segi rasa, roti menawarkan cukup banyak rasa yang ditawarkan dan enak, dari segi gizi juga memenuhi kebutuhan gizi manusia, dari segi harga, roti mudah dijangkau semua kalangan masyarakat.


Dari fenomena diatas maka sangat cocok dan potensial bila kami mendirikan usaha jualan roti bakar, dimana dari segi rasa memenuhi rasa enak, dari segi gizi roti bakar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh konsumen karena mengandung karbohidrat, protein dll. Dari segi harga roti bakar terbilang mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat..

1.2 Tujuan


— Menyelesaikan tugas wirausaha


— Menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan kewirausahaan.


— Membudayakan semangat, sikap, prilaku dan kemampuan kewirausahaan


1.3 Manfaat


— Menambah pengetahuan dan inspirasi


— Terus berinovasi dalam menciptakan menu-menu yang unik dan menarik


— Menciptakan lapangan pekerjaan


— Menciptakan ide-ide kreatif


BAB II


PRODUK

a. Gambaran produk


Produknya yaitu roti bakar, termasuk dalam jenis makanan. Produk roti bakar ini berbeda dari roti-roti bakar yang lainnya. Kami mempunyai ide dan inovasi tersendiri dalam menciptakan menu roti bakar. Kami tidak hanya menjual roti bakar biasa pada umumnya, tetapi kami juga mempunyai menu spesial yakni roti bakar buah.


b. Gambaran Persaingan


Untuk saat ini kami mempunyai beberapa pesaing. Pengaruh pesaing terhadap penjualan roti bakar kami agak sedikit berpengaruh karena pesaing kami sudah terlebih dahulu berjualan roti bakar dan juga tempat berjualannya yang cukup strategis sehingga banyak orang yang melakukan aktifitas disekitar ditempat tersebut sering berkunjung dan membeli roti bakar mereka.


BAB III


ANALISIS SWOT

1. Strenght (Kekuatan)
· Mempunyai ciri khas menu yang berbeda dengan usaha roti bakaryang lainnya yaitu roti bakar buah dan roti bakar ice cream.
· Tempatnya strategis dan mempunyai cabang di mana-mana sehingga mudah untuk dikunjungi.
· Rasanya sangat enak.
· Harganya cukup murah ,terjangkau, pelayanan memuaskan, rapi dan bersih.

2. Weakness (kelemahan)
· Tidak cocok buat orang yang tidak suka roti, buah, ataupun ice cream.
· Belum mempunyai cabang.

3. Opportunity (Peluang)
· Di gemari sebagian besar masyarakat.
· Ciri khas menu yaitu roti bakar menjadikan usaha ini sangat menjanjikan.
· Cabang yang semakin banyak membawa konsumen mudah mendatanginya.

4. Threat (ancaman)
· Banyak saingan diluar sana.
· Harga bahan baku yang sewaktu-waktu bisa naik dapat menyebabkan kenaikan harga roti bakar yang mungkin dapat mengurangi pembeli.
· Bila hujan turun maka orang malas keluar rumah sehingga pembeli tidak begitu banyak (jarang).


BAB IV

PERENCANAAN KEUANGAN

1. Variabel tetap :


— Gerobak : Rp. 2.000.000


— (Wajan) : Rp. 300.000


— Kompor : Rp. 200.000


— Dekelit 3 x 4 m : Rp. 150.000


— Toples 4 buah : Rp. 40.000


— Garpu roti : Rp. 15.000


— Pisau roti : Rp. 8.000


— Solet besar 4 biji : Rp. 16.000


— Solet Kecil 4 biji : Rp. 20.000


— Parutan keju 2 buah : Rp. 9.000


— Tempat garpu, pisau : Rp. 45.000


— Sticker dan daftar harga roti : Rp. 30.000


Jumlah : Rp. 2.633.000,-



2. Biaya Variabel 1 :


— Selai strawberry 10 kg : Rp. 70.000


— Selai nanas 10 kg :Rp. 70.000


— Simas 12,5 kg : Rp.115.000


— cokelat ceres 12,5 kg : Rp.150.000


— kacang 4 kg : Rp. 50.000


— susu 36 kaleng : Rp.210.000


— keju10 biji :Rp.140.000


— pisang 1 tundun :Rp. 40.000


— plastic 3 pack :Rp. 10.000


— kertas roti 1 pack :Rp. 15.000


Jumlah : 860.000






3. Biaya variabel 2 :


— Roti 40 biji : Rp.80.000


— GAS : RP.20.000


— Jumlah : Rp.100.000


Maka selama 1 bulan biaya untuk beli roti dan GAS = Rp.100.000 X 15 = Rp.1.500.000


Jadi jumlah total pengeluaran selama 1 bulan Variabel 1 + Biaya Variabel 2


= Rp. 860.000 + Rp.1.500.000= Rp.2.360.000


4. Daftar harga :


— Nanas/Strawbery =Rp. 6.000


— Kombinasi Nanas/Strawbery + Kacang = Rp. 6.500


— Kombinasi Nanas/Strawbery + Pisang = Rp. 6.500


— Kombanisi Nanas/Strawbery + Coklat = Rp. 7.000


— Kombinasi Nanas/Strawbery + Keju = Rp. 7.000


— Coklat + Coklat = Rp. 7.500


— Kombinasi Coklat + Pisang = Rp. 7.500


— Kombinasi Coklat + Kacang = Rp. 7.500


— Pisang + Pisang = Rp. 8.000


— Kacang + Kacang = Rp. 8.000


— Kombinasi Kacang + Pisang = Rp. 8.000


— Kombinasi Keju + Pisang = Rp. 8.500


— Kombinasi Keju + Coklat = Rp. 8.500


— Kombinasi Keju + Kacang = Rp. 8.500


— Keju + Keju = Rp. 9.000


— Special = Rp.10.000






5. Penghitungan :


— Diperkirakan setiap hari 1 terjual roti sebanyak 20 buah. Maka selama 1 bulan untuk diperkirakan = 20 x 30 hari = 600 roti


— Pendapatan kotor 1bulan (harga roti terendah) = 600 roti x Rp.6.000 = Rp.3.600.000


— Pendapatan bersih 1 bulan = Pendapatan kotor – Pengeluaran Biaya keseluruhan


— = Rp.3.600.000 – Rp.2.360.000


— = Rp.1.240.000




BAB 5


PENUTUP


Demikianlah proposal bisnis ini kami buat. Semoga proposal ini dapat diterima dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Tidak lupa kami mengucap syukur kepada Tuhan YME karena atas segala Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan proposal bisnis kami. Dan tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam pembuatan proposal ini. Semoga proposal ini dapat diterima oleh semua pihak karena proposal ini merupakan tahap awal kami dalam memulai usaha roti bakar ini. Dengan selesainya proposal bisnis ini, kami berharap dapat segera mewujudkan usaha bisnis yang telah kami rencanakan ini.


Segala saran dan kritik kami harapkan dari semua pihak karena kami menyadari bahwa proposal kami masih jauh dari kata sempurna. Saran dan kritik tersebut semoga saja dapat menjadi pelajaran bagi kami semua untuk dapat menjadi lebih baik lagi dihari esok. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Pengertian Pajak dan Macam macam pajak

Pengertian Pajak dan Macam macam pajak


1. Pengertian pajak


a. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapat balas jasa secara langsung yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

b. Menurut Dr. Soeparman Soemahamidjaja

Pajak ialah iuran wajib, berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum agama guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.



2. Unsur-unsur pajak


a. Iuran rakyat kepada negara

Iuran yang dimaksud berupa uang atau barang dan yang berhak memungut pajak hanyalah negara.

b. Berdasarkan undang-undang

Pajak dipungut dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya, artinya pemungutan pajak dapat dipaksakan.

c. Tanpa kontra prestasi dari negara

Dalam pembayaran pajak individu tidak mendapat kontra prestasi dari pemerintah.

d. Digunakan untuk membiayai pengeluaran negara

Pajak digunakan untuk pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas atau kesejahteraan umum.



3. Ciri-ciri pajak


a. Pajak dipungut oleh pemerintah (pemerintah pusat atau daerah)

b. Tidak ada kontra prestasi langsung saat pembayaran pajak

c. Kontra prestasi dari pemerintah berupa penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat umum

d. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah

e. Pajak dipungut karena suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseorang



4. Perbedaan pajak dengan pungutan resmi lainnya


Retribusi adalah iuran rakyat kepada pemerintah berdasarkan undang-undang dengan mendapat balas jasa dari pemerintah secara langsung. Retribusi diartikan sebagai pungutan pemerintah daerah berdasarkan undang-undang.

Jenis retribusi daerah:

a. Retribusi Jasa Umum

Kriteria pungutan yang termasuk kelompok retribusi jasa umum:

1) Bukan pajak

2) Memberi manfaat kepentingan umum

3) Pelayanan dengan kualitas lebih baik

Contoh retribusi jasa umum adalah retribusi pelayanan kesehatan, kebersihan, akta catatan sipil, pemakaman, pelayanan pasar dan pelayanan pengujian kendaraan bermotor.

b. Retribusi Jasa Usaha

Kriteria pungutan yang termasuk kelompok jasa usaha:

1) Bukan pajak

2) Jasa komersial yang mestinya dikelola swasta tetapi dikuasi daerah.

Contoh retribusi jasa usaha adalah retribusi tempat pelelangan, pasar, pertokoan, tempat parkir, tempat penginapan, villa, rumah potong hewan, tempat rekreasi dan penyebrangan diatas air

c. Retribusi Perizinan tertentu

Kriteria pungutan yang termasuk kelompok perizinan tertentu:

1) Termasuk kewenangan pemerintah yang diserahkan ke daerah

2) Diperlukan guna melindungi kepentingan umum

Contoh retribusi perizinan tertentu adalah retribusi izin mendirikan bangunan, retribusi tempat penjualan minuman beralkohol, izin gangguan dan retribusi trayek.



5. Syarat-syarat pemungutan pajak


Pemungutan pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Syarat keadilan

Pajak dikenakan secara umum dan merata berdasarkan undang-undang dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu

b. Syarat yuridis

Pajak diatur dengan undang-undang sehingga memberi jaminan hukum bagi negara maupun warganya.

c. Syarat ekonomi

Pemungutan pajak tidak boleh mengganggu kegiatan perekonomian masyarakat.

d. Syarat finansial

Biaya yang digunakan untuk memungut pajak tidak lebih besar dari hasil pemungutan pajak.

e. Syarat Kesederhanaan

Pemungutan pajak harus sederhana, artinya mudah dipahami oleh wajib pajak sehingga masyarakat dapat menghitung sendiri kewajiban pajaknya.



6. Fungsi pajak


a. Fungsi anggaran

Uang hasil pungutan pajak berfungsi untuk membiayai anggaran pengeluaran negara.

b. Fungsi regulasi

Pajak berfungsi untuk mengatur perekonomian guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat.

c. Fungsi demokrasi

Dengan membayar pajak, rakyat berperan serta dalam pelaksanaan kehidupan kenegaraan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur

d. Fungsi redistribusi pendapatan

Hasil pemungutan pajak digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang dinikmati masyarakat banyak



7. Azas pajak


a. Prinsip keadilan

Pajak harus adil dan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

b. Prinsip kepastian

Pemungutan pajak harus jelas dan pasti, sehingga wajib pajak mudah melakukan perhitungan sendiri.

c. Prinsip kelayakan

Wajib pajak merasa senang dalam membayar pajak, karena merasa layak sebagai pembayar pajak.

d. Prinsip ekonomi

Pemungutan pajak harus memenuhi syarat ekonomi, yaitu mampu memenuhi kebutuhan negara dan tidak menghambat kemajuan ekonomi.



8. Sistem perpajakan


a. Official Assesment System

Adalah sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan pemerintah untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Dalam dunia perpajakan, besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak dikenal dengan istilah pajak yang terutang.

b. Self Assesment System

Adalah sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan wajib pajak untuk menghitung sendiri besarnya pajak terutang.

c. With Holding System

Adalah sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan pihak ketiga untuk menentukan besarnya pajak terutang yang harus dibayar oleh wajib pajak.



9. Teori Pemungutan Pajak


a. Teori asuransi

Pembayaran pajak dianggap sebagai pembayaran premi warga masyarakat kepada negara, karena negara telah memberi perlindungan terhadap warganya

b. Teori kepentingan

Orang membayar pajak karena tingkat kepentingannya, artinya semakin tinggi tingkat kepentingan warga terhadap perlaindungan yang diberikan negara maka semakin tinggi pula pajaknya.

c. Teori gaya pikul

Dasar pemungutan pajak tergantung pada kemampuan (gaya pikul) wajib pajak dalam membayar pajak. Semakin kecil gaya pikul yang dimiliki wajib pajak, maka semakin kecil pula pajak yang harus dibayar.

d. Teori bakti

Pembayaran pajak dari rakyat kepada negara merupakan bentuk ungkapan bakti rakyat kepada negaranya.

e. Teori asas gaya beli

Pajak yang dibayar wajib pajak akan disalurkan kembali ke masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan.



10. Pengelompokan pajak


a. Berdasarkan golongan

1) Pajak langsung

Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dialihkan ke pihak lain. Contoh pajak penghasilan, PBB, Pajak Kendaraan bermotor, dan pajak undian.

2) Pajak tidak langsung

Pajak tidak langsung adalah pajak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh pajak pertambahan nilai, bea impor, dan pungutan ekspor



b. Berdasarkan sifat

1) Pajak subyektif

Pajak subyektif adalah pajak yang berdasarkan subyeknya, artinya memperhatikan diri wajib pajak. Contoh pajak penghasilan (PPh)

2) Pajak obyektif

Pajak obyektif adalah pajak yang berdasarkan obyeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh pajak pertambahan nilai (PPN), Pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM)



c. Berdasarkan lembaga pemungut

1) Pajak pusat

Pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. Contoh Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), bea materai, dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHAT)

2) Pajak daerah

Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah. Pajak daerah terdiri dari:

a) Pajak propinsi

Contoh pajak kendaraan bermotor, kendaraan diatas air, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak rumah tangga, bea balik nama kendaraan bermotor, serta pajak pemanfaatan air bawah tanah.

b) Pajak kabupaten

Contoh pajak hotel, restoran, pajak hiburan, reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan bahan galian, serta pajak parkir.



d. Berdasarkan asalnya

1) Pajak dalam negeri

Pajak dalam negeri adalah pajak yang dipungut terhadap wajib pajak yang tinggal di Indonesia dan sebagai warga negara Indonesia.

2) Pajak luar negeri

Pajak luar negeri adalah pajak yang dipungut terhadap orang-orang asing yang mempunyai penghasilan di Indonesia.



11. Tarif pajak


a. Tarif pajak proporsional

Tarif pajak proporsional adalah tarif pemungutan pajak dengan menggunakan persentase (%) yang tetap berapapun jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak. Misal tarif pajak pertambahan nilai adalah 10% berapapun jumlah barang yang dibeli.

b. Tarif pajak degresif

Tarif pajak dengan menggunakan persentase (%) yang menurun dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak.

c. Tarif pajak tetap

Tarif pajak tetap adalah tarif pungutan pajak dengan jumlah yang sama untuk setiap objek pajak. Contoh bea materai untuk setiap akta notaris Rp. 6.000,- , bea materai untuk setiap cek atau bilyet giro Rp. 3.000,-

d. Tarif pajak progresif

Tarif pajak progresif adalah tarif pajak dengan persentase yang semakin naik dengan semakin besarnya jumlah yang dikenakan pajak. Contoh tarif Pajak Penghasilan (PPh)



12. Undang-undang perpajakan


Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem Self Assesment System. Sejak tahun 1983 pemerintah telah membuat beberapa undang-undang yang mengatur tentang perpajakan. Perkembangan undang-undang tersebut sebagai berikut:

a. Tahun 1983

1) UU no. 6 : tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

2) UU no. 7 : tentang Pajak Penghasilan (PPh)

3) UU no. 8 : tentang Pajak Pertambahan nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPn BM)

b. Tahun 1985

1) UU no. 12 : tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

2) UU no. 13 : tentang Bea materai



c. Tahun 1994

1) UU no. 9 : tentang Ketentuan dan Tata Cara Perpajakan

2) UU no. 10 : tentang Pajak Penghasilan (PPh)

3) UU no. 11 : tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM)

4) UU no. 12 : tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)



d. Tahun 2000

1) UU no. 16 : tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

2) UU no. 17 : tentang Pajak Penghasilan (PPh)

3) UU no. 18 : tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM)

4) UU no. 19 : tentang Penagihan pajak dengan Surat Paksa

5) UU no. 20 : tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)



Untuk pajak Penghasilan (PPh), pemerintah lewat peraturan menteri keuangan menetapkan penyesuaian besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) seiring dengan naiknya tingkat pendapatan masyarakat. Peraturan menteri keuangan tentang penyesuaian besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) no. 564/kmk.03/2004 dinyatakan tidak berlaku lagi dan diganti dengan no. 137/PMK.03/2005 yang diberlakukan mulai 1 Januari 2006.



13. Pajak Penghasilan (PPh)


Undang-undang Pajak Penghasilan (PPh) mengatur pajak atas penghasilan (laba) yang diterima orang pribadi atau badan usaha dalam tahun pajak. Undang-undang PPh mengatur subjek pajak, objek pajak, serta cara menghitung dan cara melunasi pajak terutang.

a. Subjek pajak

Subjek pajak penghasilan terdiri dari:

1) orang pribadi

2) warisan yang belum terbagi

3) bentuk usaha tetap (PT, CV, BUMN/BUMD, Firma, Koperasi)



b. Objek pajak

Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima wajib pajak yang dapat dipakai untuk menambah kekayaan wajib pajak. Penghasilan adalah jasa yang diperoleh berkenaan dengan pekerjaan termasuk gaji, upah, honorarium, komisi, gratifikasi, uang pensiun, hadiah dari undian, penghargaan, laba usaha, bunga, deviden, royalti, premi asuransi, dsb.

Yang tidak termasuk objek pajak adalah bantuan sumbangan, zakat, harta hibahan, warisan, pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi seperti asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, sauransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi bea siswa.



c. Penghasilan tidak kena pajak

Menurut Peraturan Menteri Keuangan nomor 137/PMK.03/2005 yang ditetapkan tanggal 30 Desember 2005 dan mulai berlaku sejak tahun pajak 2006, besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP) sebagai berikut:

1) Rp. 13.200.000,- untuk diri wajib pajak

2) Rp. 1.200.000,- tambahan untuk wajib pajak yang kawin

3) Rp. 13.200.000,- tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami

4) Rp. 1.200.000,- tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga.



d. Tarif Pajak penghasilan (PPh pasal 21)

Berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, besarnya tarif pajak penghasilan bagi wajib pajak pribadi dan bentuk usaha tetap adalah sebagai berikut:

1) Tarif pajak untuk wajib pajak pribadi


Lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Tarif Pajak(%)


Sampai dengan Rp. 25 juta

Diatas Rp. 25 juta s/d Rp. 50 juta

Diatas Rp. 50 juta s/d Rp. 100 juta

Diatas Rp. 100 juta s/d Rp. 200 juta

Diatas Rp. 200 juta

5%

10%

15%

25%

35%




2) Tarif pajak untuk badan usaha tetap


Lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Tarif Pajak(%)


Sampai dengan Rp. 50 juta

Diatas Rp. 50 juta s/d Rp. 100 juta

Diatas Rp. 100 juta

10%

15%

30%




Untuk badan usaha tetap yang dikelola asing, penghasilan kena pajak setelah dikurangi pajak penghasilan sebagaimana tarif pajak diatas akan dikenakan PPh pasal 26 sebesar 20% yang bersifat pajak final.

Badan usaha tersebut dibebaskan dari kewajiban PPH pasal 26 jika:

a) penghasilan tersebut ditanamkan kembali dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang didirikan di Indonesia

b) penanaman kembali dilakukan dalam tahun pajak berjalan, dan selambat-lambatnya tahun pajak berikutnya

c) tidak mengalihkan penanaman kembali tersebut sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 2 tahun, sesudah perusahaan tempat penanaman kembali berproduksi secara komersial.



e. Biaya jabatan dan biaya pensiun

Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang besarnya 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp. 1.296.000,- setahun.

Biaya pensiun adalah biaya untuk mendapatkan, menagih atau memelihara uang pensiun yang besarnya 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya Rp. 432.000,- setahun.



Selain Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 dalam UU Pajak juga mengatur pajak penghasilan lain, yaitu:

a. PPh pasal 22

Dipungut sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lainnya.

b. PPh pasal 23

Dikenakan terhadap wajib pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal (deviden, bunga), penyerahan jasa (hadiah, royalti, imbalan), atau penyelenggara kegiatan lainnya (sewa).

c. PPh pasal 24

Mengatur perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang dibayar atas seluruh penghasilan didalam negeri.

d. PPh pasal 25

Mengatur perhitungan besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak dalam tahun berjalan.

e. PPH pasal 26

Mengatur tentang pemotongan atau penghasilan yang bersumber di Indonesia yang diterima atau diperoleh wajib pajak luar negeri, selain bentuk usaha tetap.



14. Pajak Pertambahan Nilai barang dan Jasa (PPN)


a. Objek Pajak

PPN dikenakan atas:

1) Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP) didalam daerah pabean yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak, baik barang berwujud maupun tidak berwujud dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.

2) Impor dan ekspor BKP dan JKP

3) Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan JKP dari luar daerah pabean kedalam daerah pabean

4) Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.

5) Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, sepanjang pajak masukan yang dibayar pada saat perolehannya menurut ketentuan yang dapat dikreditkan.



b. Pengusaha Kena Pajak (PKP)

PKP adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usahanya atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, dan memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.

Contoh PKP adalah produsen/pabrikan, importir dan eksportir, agen utama, perdagangan besar, pemegang hak paten BKP, dan pedagang eceran.



c. Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP)

BKP adalah barang berwujud yang berupa barang bergerak atau tidak bergerak dan barang tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang PPN.

Barang Kena Pajak yang tidak dikenakan PPN:

1) barang hasil pertambangan, penggalian, pengeboran, yang diambil langsung dari sumbernya (minyak mentah, gas bumi, panas bumi, pasir dan kerikil, batu bara, biji besi, biji timah, biji tembaga, biji nikel, biji perak, biji bauksit, dan biji alumunium).

2) Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak (beras, jagung, gabah, sagu, kedelai, dan garam).

3) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya kecuali makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.

4) Uang, emas batangan dan surat-surat berharga (saham, obligasi dan sejenisnya)



Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perserikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu fasilitas atau kemudahan untuk dipakai termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan, yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang PPN.

JKP yang tidak dikenakan PPN berdasarkan peraturan pemerintah adalah:

1) jasa dibidang kesehatan medis (jasa dokter, jasa ahli kesehatan, jasa kebidanan)

2) jasa dibidang pelayanan sosial (jasa panti jompo, jasa pemadam kebakaran, jasa pemakaman)

3) jasa dibidang pengiriman surat dan perangko

4) jasa dibidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi

5) jasa dibidang keagamaan, jasa pelayanan rumah ibadah, dan jasa pemberi kotbah

6) jasa dibidang pendidikan

7) jasa dibidang tenaga kerja dan bidang yang dilaksanakan instansi pemerintah



d. Tarif Pajak Pertambahan Nilai

Tarif PPN yang berlaku saat ini adalah 10%, sedangkan tarif PPN atas ekspor BKP adalah 0%. Pengenaan tarif 0% bukan berarti pembebasan dari pengenaan PPN, tetapi pajak masukan yang telah dibayar dari barang yang diekspor dapat dikreditkan.

Berdasarkan pertimbangan perkembangan ekonomi, dengan peraturan pemerintah tarif PPN dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15% dengan tetap memakai prinsip tarif tunggal.



e. Cara Kerja Sistem Pajak Pertambahan Nilai

PPN dikenakan atas pertambahan nilai dari barang yang dihasilkan atau diserahkan oleh Pengusaha Kena Pajak, yang dipungut secara bertingkat pada jalur produksi dan distribusi dengan tidak ada unsur pemungutan berganda.

Contoh sistem pemungutan pajak pertambahan nilai untuk kegiatan produksi sepatu:


Tingkat

Harga jual

Pajak Keluaran

Pajak Masukan

PPN


Peternakan sapi

Penyamakan kulit

Perusahaan sepatu

Toko sepatu

Rp. 30.000,-

Rp. 35.000,-

Rp. 55.000,-

Rp. 70.000,-

-

Rp. 3.500,-

Rp. 5.500,-

Rp. 7.000,-

-

-

Rp. 3.500,-

Rp. 5.500,-

-

Rp. 3.500,-

Rp. 9.000,-

Rp. 12.500,-


Jumlah PPN yang harus dibayar

Rp. 25.000,-




15. Pajak Penjualan atas barang mewah (PPnBM)


Barang Kena Pajak yang tergolong Barang Mewah (BKPTM) selain dikenakan Pajak Pertambahan nilai (PPN) juga dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). PPn BM dikenakan hanya satu kali, yaitu pada saat penyerahan oleh pabrikan/produsen atau importir BKPTM.

Alasan pengenaan PPnBM terhadap barang kena pajak yang tergolong barang mewah:

a. keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi

b. Pengendalian pola konsumsi BKP yang tergolong mewah

c. Perlindungan terhadap produsen tradisional

d. Pengamanan penerimaan negara

Tarif PPnBM dengan peraturan pemerintah dapat ditetapkan dalam beberapa pengelompokkan tarif, yaitu paling rendah sebesar 10% dan paling tinggi sebesar Rp. 75%. Tarif PPnBM yang berlaku sekarang ini adalah 10%, 20%, 30%, 50% dan 75%.



16. Pajak Bumi dan bangunan (PBB)


a. Bumi

Bumi adalah seluruh permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Dasar pengenaan pajaknya adalah menurut nilai jualnya yang memenuhi klasifikasi pengelompokkan dengan memperhatikan faktor letak, peruntukan, pemanfaatan dan kondisi lingkungan.

b. Bangunan

Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam secara tetap pada tanah atau perairan. Dasar pengenaan pajaknya menurut nilai jualnya yang memenuhi klasifikasi pengelompokan dengan memperhatikan faktor bahan yang digunakan, rekayasa, letak dan kondisi lingkungan.

Contoh bangunan adalah kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal dan dermaga, taman mewah, tempat penampungan minyak, air dan gas, pipa minyak, serta fasilitas lain yang memberi manfaat.

c. Subjek pajak

Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata:

1) mempunyai hak atas bumi

2) memperoleh manfaat atas bumi

3) memiliki, menguasai atas bangunan

4) memperoleh manfaat atas bangunan

d. Objek Pajak

Objek PBB adalah bumi dan bangunan yang memenuhi klasifikasi pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya sebagai pedoman dalam memudahkan penghitungan pajak.

e. Objek pajak yang bebas dari pengenaan PBB:

1) semata-mata melayani kepentingan umum dan tidak digunakan mencari keuntungan (tempat ibadah, rumah sakit, pesantren, panti asuhan, museum dan candi)

2) digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, dan sejenisnya

3) hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah pengembalaan, tanah negara

4) digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat

5) digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional

f. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar.

g. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP)

SPOP adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak menurut ketentuan undang-undang pajak bumi dan bangunan.

h. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)

SPPT adalah surat yang digunakan oleh direktorat jenderal pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terutang kepada wajib pajak. Penerbitan SPPT berdasarkan SPOP wajib pajak.

i. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

Besarnya NJOPTKP adalah Rp. 8.000.000,- dengan ketentuan:

1) setiap wajib pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak 1 kali dalam satu tahun pajak

2) apabila wajib pajak mempunyai beberapa objek pajak, maka yang mendapat pengurangan NJOPTKP hanya satu objek yang nilainya terbesar.

j. Dasar Pengenaan Pajak

Dasar pengenaan pajak adalah nilai jual kena pajak (PKP), yaitu:

1) 40% untuk objek pajak perumahan yang wajib pajaknya perseorangan dengan NJOP sama atau lebih dari Rp. 1.000.000.000,-

2) 20% untuk objek pajak lainnya.



k. Tarif PBB

Besarnya tarif PBB adalah 5% dari nilai jual objek pajak (NJOP) dasar pengenaan PBB.



17. Bea Materai


Bea materai diatur dengan undang-undang no. 13 tahun 1985, yang dalam pelaksanaannya diatur oleh Peraturan Pemerintah no. 7 Tahun 1995, diubah lagi dengan Peraturan Pemerintah no. 24 tahun 2000 tentang Perubahan tarif Bea Materai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal yang dikenakan bea materai, yaitu Rp. 6.000,- dan Rp. 3.000,-

a. Tarif bea materai Rp. 6.000,-

dikenakan terhadap:

1) surat perjanjian

2) akta-akta notaris termasuk salinannya

3) akta-akta yang dibuat Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)

4) surat yang memuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp. 1.000.000,-

b. Tarif bea materai Rp. 3.000,-

dikenakan terhadap:

1) dokumen yang menyebutkan jumlah uang lebih dari Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,-

2) cek dan giro bilyet

3) efek dan sejenisnya yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp. 1.000.000,-

4) sekumpulan efek yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai nilai sampai dengan Rp. 1.000.000,-
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA


KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA


KEBIJAKAN MEMINDAHKAN PERBELANJAAN


Kebijakan memindahkan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi masalah defisitdalam neraca pembayaran yang akan mengakibatkan pertambahan ekspor dan pengurangan impor. Kebijakan ini dijalankan bila defisit neraca pembayaran wujud ketika perekonomian juga menghadapi masalah pengangguran.

Langkah – langkah yang akan mengurangiimpor dan mendorong konsumsi dalam negeri adalah :

a. Melakukan pembatasan impor

b. Menekan (mengurangi valuta asing)

c. Menurunkan nilai mata uang (devaluasi)

Langkah – langkah yang akan menambah ekspor sehingga menambah permintaan valuta asing adalah :

a. Memberikan insentif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan dalam produksi barang ekspor

b. Mewujudkan kestabilan upah dan harga

c. Menurunkan nilai valuta

KEBIJAKAN PENGURANGAN PERBELANJAAN


Kebijakan pengurangan perbelanjaan adalah langkah-langkah pemerintah untukmengatasi masalah kurangan dalam neraca pembayaran dengan mengurangi perbelanjaan agregat dan tingkat kegiatan ekonomi negara. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah neraca pembayaran dengan mengurangi perbelanjaan apabila:

i. Perekonomian telah mencapai kesempatan kerja penuh dan inflasi telah wujud

ii. Dalam perekonomian terdapat defisit yang berkepanjangan dalam neraca pembayaran

Kebijakan ini akan menurunkan impor, akan tetapi ekspor tidak akan dipengaruhi oleh kebijakan seperti itu. Keadaan iniakan mewujudkan neraca pembayaran yang menguntungkan atau seimbang. Langkah-langkahnya yaitu :

a. Menaikkan pajak pendapatan

b. Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang

c. Mengurangi pengeluaran pemerintah

DEVALUASI (PENURUNAN NILAI VALUTA)


Devaluasi adalah tindakan pemerintah yang menurunkan nilai mata uangnya terhadap valuta asing. Biasanya dilakukan oleh negara yang menerapkan sistem kurs tetap. Efek devaluasi :

a. Ekspor bertambah, karena di pasaran luar negeri ekspor negara menjadi lebih murah.

b. Impor berkurang, karena barang luar negeri menjadi lebih mahal.

c. Kenaikan ekspor dan pengurangan impor akan memperbaiki neraca pembayaran.

d. Pendapatan nasional bertambah

e. Memungkinkan terjadinya inflasi

f. Di luar negeri mungkin negara-negara lain melakukan balasan dengan halangan perdagangan impor atau devaluasi.

Syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menyukseskan devaluasi :
Ekspor negara itu elastis. Hanya dalam keadaan ini hasil penjualan ekspor bertambah. Apabila permintaan luar negeri ke atas barang ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya tidak elastis, devaluasi akan mengurangi hasil penjualan ekspor
Permintaan impor negara itu adalah elastis. Apabila permintaan impor elastis, devaluasi mengurangi jumlah impor dengan tingkat yang lebih tinggi dari penurunan nilai mata uang. Maka pengeluaran ke atas barang impor akan menjadi lebih kecil dari sebelum devaluasi
Di dalam negeri tidak berlaku inflasi. Apabila devaluasi mengakibatkan inflasi di dalam negeri, barang ekspor dan barang buatan sendiri akan mengalami kenaikan harga. Apabila tingkat kenaikan harga lebih besar dari tingkat devaluasi, pada akhirnya harga ekspor menjadi lebih mahal dan barang impor menjadi lebih murah sebelum devaluasi. Pada akhirnya negara itu tidak memperoleh sembarang keuntungan devaluasi.

Negara lain tidak melakukan reaksi balasan dan melakukan devaluasi pula. Apabila negara-negara lain melakukan tindakan yang sama, devaluasi tidak akan memberikan sembarang efek kepada neraca pembayaran dan perekonomian negara. Langkah seperti itu akan dijalankan apabila negara lain tersebut merupakan partner dagang yang sangat penting

Kurs Valuta Asing: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi Kurs Valuta Asing



KURS VALUTA ASING


Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Kurs valuta asing adalah jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yangdibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing.

PENENTUAN KURS DALAM PASAR BEBAS


Permintaan mata uang asing


Apabila nilai mata uang dollar tinggi, yaitu misalnya kurs US$1 = 200 yen, maka barang di AS adalah relatif mahal. Barang yang berharga US$1 memerlukan 200yen, apabila penduduk Jepang ingin mengimpor barang Amerika ke Jepang. Jika nilainya turun, misal US$1=100 yen maka harga barang di AS semakin murah dan akan menaikkan permintaan penduduk jepang atas barang-barang AS. Akibatnya, permintaan orang Jepang atas US$ meningkat. Berdasarkan contoh, maka dapat dirumuskan bahwa permintaan penduduk Jepang atas mata uang US$ bercirikan :

i. Semakin tinggi harga US$, semakin sedikit permintaan atas mata uang tersebut,

ii. Semakin rendah harga US$, semakin banyak permintaan atas mata uang tersebut.

Penawaran mata uang asing

i. Semakin tinggi harga mata uang Amerika serikat, semakin banyak penawaran mata uang tersebut,

ii. Semakin rendah harga mata uang Amerika serikat, semakin sedikit penawaran mata uang tersebut.

Penentuan harga mata uang asing




Sumbu datar menggambarkan jumlah US$ yang akan diperjualbelikan di pasaran mata uang asing, dan sumbu tegak menunjukkan harga US$ yang dinyatakan dalam nilai yen. Kurva permintaan ke atas dollar adalah DD. Kurva tersebut,yang berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawah, berarti

i. Apabila harga dollar tinggi permintaan ke atas dollar adalah sedikit,

ii. Semakin rendah harga dollar semakin banyakkuantitas dollar yang diminta

Kurva SS adalah kurva penawaran ke atas mata uang dollar, dari kiri bawah ke kanan atas.

i. Apabila harga mata uang dollar rendah, penawaran dollar oleh orang Amerika juga rendah

ii. Apabila harga mata uang dollar tinggi, lebih banyak mata uang akan ditawarkan.

Gambar di atas menunjukkan bahwa kurva DD dan SS berpotongan pada keadaan di mana harga tiap unit mata uang dollar adalah US$1 = 150 yen.

Keadaan ini berarti : kurs valas adalah US$1 = 150 yen dan kuantiti dollar yang diperjualbelikan dalam pasaran mata uang adalah 2,5 bilion.

kurs valuta asing
gambar dari pixabay

PENENTUAN KURS PERTUKARAN OLEH PEMERINTAH


Pemerintah dapat campur tangan dalam menentukan kurs valas untuk memastikan kurs yang wujud tidak menimbulkan efek yang buruk ke atas perekonomian. Kurs pertukaran yang ditetapkan pemerintah berbeda dengan yang di pasar bebas. Apakah lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kebijakan dan keputusan pemerintah mengenai kurs yang paling sesuai untuk tujuan-tujuan pemerintah dalam menstabilkan dan mengembangkan perekonomian.



Pada kurs ini permintaan dollar adalah sama dengan penawaran dollarsebanyak 2,5 bilion. pemerintah Jepang memandang bahwa kurs ini kurang sesuai dan oleh sebab itu menentukan bahwa kurs pertukaran adalah US$1 = 250 yen sedangkan di pasar bebas kurs dollar US$1 = 150 yen. Apabila harga sesuatu mata uang domestik (yen) ditetapkan oleh pemerintah pada tingkat yang lebih rendah dari yang ditentukan oleh pasar bebas, maka mata uang domestik (yen) dinamakan mata uang yang dinilai terlalu rendah (undervalued currency). Sedangkan jika sebaliknya dinamakan mata uang yang dinilai terlau tinggi (overvalued currency).

PERUBAHAN-PERUBAHAN KURS


Efek kenaikan permintaan




Dimisalkan bahwa pada mulanya permintaan dollar adalah DD dan penawaran dollar SS. Maka kurs pertukaran US$1 = 150 yen, dan kuantitas dollar yang diperjualbelikan Q1. Sebagai akibat dari kenaikan dalam permintaan dollar, kurva permintaan dollar bergerak dari DD ke D1D1. Kurva permintaan yang baru ini menaikkan harga dollar dari 150 yen menjadi 200 yen per unit, dan menambah kuantitas valuta dollar yang diperjualbelikan dalam pasaran valas dari Q1 unit menjadi Q2 unit.

Efek perubahan penawaran




Kurva SS dan DD menggambarkan penawaran dan permintaan uang dollar yang peda mulanya wujud. Sesudahnya penawaran bertambahdari SS menjadi S1S1. Akibatnya,

i. Kurs pertukaran untuk setiap dollar turun dari 200 yen menjadi 150 yen

ii. Kuantitas mata uang dollar yang diperjualbelikan bertambah dari QA dollar menjadi QB

Kurs pertukaran yang ditentukan oleh mekanisme pasar dinamakan kurs pertukaran berubah bebas atau kurs pertukaran terapung. Sedangkan kurs yang ditentukan pemerintah dinamakan kurs pertukaran tetap atau resmi.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURS


a. Perubahan dalam citarasa masyarakat

Akan mengubah corak konsumsi mereka ke atas barang-barang yang diproduksikan ke dalam negeri maupun yang diimpor.

b. Perubahan harga barang ekspor dan impor

Menyebabkan perubahan dalam penawaran dan permintaan ke atas mata uang negara tersebut.

c. Kenaikan harga umum (inflasi)

Inflasi berkecenderungan menambah impor dan mengurangi ekspor yang menyebankan permintaan ke atas valuta asing bertambah, dan penawaran ke atas valuta asing berkurang. Maka harga valuta asing bertambah.

d. Perubahan suku bunga dan tingkat pengambalian investasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung menyebabkan modal dalam negeri mengalir ke luar negeri. Sedangkan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi akan menyebabkan modal luar nmegeri masuk ke negara itu. Apanila banyak modal mengalir ke suatu negara, permintaan ke atas mata uangnya bertambah. Nilai mata uang suatu negara akan merosot apabila lebih banyakmodal negara dialirkan ke luar negerikarena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi di negara-negara lain.

e. Pertumbuhan ekonomi

Apabila kemajuan ekonomi diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan ke atas mata uang negara itu bertambah lebih cepat dari penawarannya sehingga nilai mata uang negarannya naik. Tetapi jika kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat daripada ekspor, penawaran mata uang negara itu lebih cepat bertambah dari permintaannya dan oleh karena itu nilai mata uang negara tersebut merosot.

KURS PERTUKARAN DAN NERACA PEMBAYARAN


NERACA PEMBAYARAN DALAM SISTEM KURS TUKARAN BERUBAH BEBAS




Gambar di atas menunjukkan bahwa perubahan citarasa penduduk Thailand dan perubahan kurs pertukaran impor menyebabkan impor Thailand dari Indonesia bertambah dari Q1 menjadi Q2. Pada waktu yang sama, nilai baht yang merosot menyebabkan barang Thailand menjadi relatif lebih murah. Maka penduduk Indonesia menaikkan impornya. Sebagai akibat impor Thailand dari Indonesia yang semakin bertambah akan diimbangi oleh pertambahan imporindonesia dari Thailand. Sehingga neraca pembayaran masih tetap seimbang.

NERACA PEMBAYARAN DALAM SISTEM KURS PERTUKARAN TETAP




Apabila kurs pertukaran yang ditetapkan US$1 = Rp 12.500, maka akan wujud ketidakseimbangan dalam permintaan dan penawaran mata uang dollar. Pada kurs tersebut QB dollar US ditawarkan oleh penduduk Amerika sedangkan hanya sebanyak QA dollar US diminta oleh penduduk Indonesia. Berarti Indonesia mengalami surplus dalam neraca pembayaran, karena penduduk Amerika menawarkan lebih banyak dollar US kalau dibandingkan dengan jumlah dollar Usyang diminta Indonesia.

Oleh karena itu kurs pertukaran yang ditetapkan oleh pemerintah selalunya berbeda dengan kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas, maka dalam sistem kurs tetap, neraca pembayaran akan cenderung dalam keadaan tidak seimbang.
Pengertian Neraca Pembayaran dan macam macam jenis neraca pembayaran

Pengertian Neraca Pembayaran dan macam macam jenis neraca pembayaran





A. Pengertian Neraca Pembayaran


n Neraca pembayaran, atau balance of payment adalah suatu catatan aliran keuangan yang menunjukkan nilai transaksi perdagangan dan aliran dana yang dilakukan diantara suatu negara dengan negara lain dalam suatu tahun tertentu





n NERACA BERJALAN ; terdiri dari :

n Ekspor dan Impor Barang ; ada dalam neraca perdagangan. Jika nilainya (+) maka X > M dan jika nilainya (-) maka X < M.

n Ekspor dan Impor Jasa ; adalah transaksi yang meliputi biaya pengangkutan & asuransi dari barang yang diekspor atau diimpor, perbelanjaan wisatawan dan pendapatan investasi ( yang meliputi keuntungan , bunga atas modal yang diinvestasikan dan deviden ) Disebut juga Neraca Jasa. Jika nilainya (+) maka penjualan Jasa ke LN > Jasa pihak LN yang dibeli didalam negeri.

Pembayaran Pindahan Netto ke Luar Negeri. Adalah meliputi pembayaran pindahan yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun swasta. Transaksi ini meliputi pembayaran dimana penerimanya tidak perlu “membayar”dalam bentuk uang atau jasa.

n NERACA MODAL ; meliputi 2 golongan :

n Aliran Modal Jangka Panjang ; terdiri dari Aliran Modal Resmi dan Investasi Langsung oleh Pihak Swasta kenegara-negara lain. Aliran modal resmi merupakan pinjaman dan pembayaran diantara badan-badan pemerintah disuatu negara dengan negara lain. Sedangkan Investasi Langsung Swasta adalah penanaman modal langsung . Perbedaan antara modal jangka panjang yang diterima dan dibayarkan ke luar negeri adalah NERACA MODAL JANGKA PANJANG. Jika nilainya (+) aliran masuk modal dari Luar Negeri > aliran keluar modal yang dibayarkan ke Luar Negeri.

Aliran Modal SWASTA ; adalah aliran modal dalam bentuk tabungan atau investasi keuangan yang dapat dengan cepat ditukarkan kembali kepada valuta asal atau lainnya. Disebut juga “hot money” karena biasa diinvestasikan di pasar uang atau pasar modal untuk memperoleh keuntungan investasi.

Kesilapan dan ketinggalan adalah akun yang menaksir besarnya aliran uang yang tidak dapat dicatat.

CADANGAN VALUTA ASING


Jika suatu negara lebih banyak membuat pembayaran ke luar negeri dibandingkan dengan penerimaannya, maka bank sentral harus mengurangi cadangan valuta asingnya untuk melakukan pembayaran tersebut. Sebaliknya, apabila yang diterima dari negara-negara lain adalah lebih banyak dari yang harus dibayar, maka cadangan valuta asing akan bertambah. Dalam informasi mengenai perubahan dalam cadangan bank sentral yang ditunjukkan adalah

i. jumlah perubahan cadangan tersebut dalam satu tahun tertentu

ii. banyak jumlah perubahan dari tiap-tiap jenis harta bank sentral

NERACA PEMBAYARAN SELALU SEIMBANG


yang menyebabkan neraca pembayaran yang selalu seimbang adalah ketidakseimbangan dalam neraca berjalan dan neraca modal akan diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh bank sentral.


i.

Neraca berjalan

+

40


ii.

Neraca modal jangka panjang

+

20


iii.

Modal keuangan swasta

-

30




NERACA KESELURUHAN

+

30


iv.

Perubahan cadangan mata uang asing bank sentral

-

30




Contoh di atas menggambarkan bahwa dalam neraca berjalan terdapat surplus sebanyak Rp 40 trilliundan aliran modal jangka panjang memperoleh surplus Rp 20 trilliun dalam aliran modal keuangan swasta terdapat defisit Rp 30 trilliun, dan ini menyebabkan neraca keseluruhan hanya memperoleh surplus Rp 30 trilliun. Surplus dalam neraca keseluruhan ini berarti : negara itu menerima Rp 30 trilliun dari negara-negara lain. Ini menyebabkan cadangan valuta asing bank sentral bertambah dengan jumlah yang sama. Akibat dari pertambahan cadangan ini maka neraca pembayaran telah menjadi seimbang, yaitu aliran uang dan modal yang masuk dan yang keluar adalah telah sama banyak.



NERACA PERDAGANGAN DAN PEMBAYARAN INDONESIA




Transaksi Berjalan

Data ini dibedakan kepada dua golongan : ekspor dan impor barang, dan ekspor – impor neto jasa-jasa. Setiap golongan dibedakan kepada ekspor dan impor Non Migas dan Migas. Tahun 1996/97 ekspor Indonesia US$52,04 milyar dan meningkat menjadi US$65,4 milyar padatahun 2000/01.kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh perkembanganekspor Non-Migas yaitu US$39,3 milyar pada tahun 1996/97 menjadi US$50,3 milyar pada 2000/01. Ekspor migas hanya mengalami kenaikan sebanyak ekspor gas alam.

Dalam periode yang sama impor merosot dari US$45,8 milyar menjadi US$40,4 milyar dan penurunan ini terutama disebabkan oleh pengurangan impor Non Migas. Sedangkan impor Migas mengalami kenaikan.

Hal ini menyebabkan dalam periode di atas neraca perdagangan mengalami perbaikan yang sangat signifikan, yaitu surplus meningkat dari US$6,2 milyar menjadi US$25,0 milyar. Perbaikan dalam neraca perdagangan ini menimbulkan efek yang positif terhadap neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit dalam tahun 1996/97 tetapi mengalami surplus pada 2000/01. Defisit ekspor dan impor jasa neto meningkat dari US$14,3 milyar menjadi US$17,1 milyar.

Transaksi Modal dan Selisih Perhitungan

Data yang ditunjukkan memberikan gambaran :

i. Pinjaman pemerintah semakin meningkat dan pembayaran utang semakin merosot. Pada tahun 1996/97 penerimaan pinjaman pemerintah berjumlah hampir US$5,3 milyardan meningkat menjadi US$7,5 milyar pada 2000/01. Sedangkan pelunasan hutang merosot dari US$6,1 milyar menjadi US$4,3 milyar.

ii. Aliran modal swasta menunjukkan gambaran yang lebih suram. Pada 1996/97 aliran masuk neto modal swasta mencapai US$13,5 milyar dan terdiri dari lebih US$6,5 milyar aliran penanaman modal langsung dan hampir US$6,6 milyar aliran modal lainnya. Arah alirannya menjadi terbalik pada 2000/01, yaitu aliran modal neto mengalami defisit hampir US$10 milyar yang terbagi kepada defisit hampir US$4,6milyar dalam aliran penanaman modal langsung dan sebesar US$5,4 milyar dalam defisit alliran modal lainnya.

iii. Perkembangan aliran modal yang diterangkan (i) dan (ii) menggambarkan pembalikan total terhadap trend aliran modal ke Indonesia. Pada 1996/97, aliran masuk neto US$12,7 milyar. Pada 2000/01 aliran neto modal telah mengalami defisit hampir US$6,8 milyar.

Selisih perhitungan

Nilai selisih perhitungan meningkat dari US$701 juta menjadi lebih dari US$3,8 milyar. Pertambahan ini menggambarkan aliran modal yang tidak dicatat semakin meningkat. Nilainya yang positif berarti tahun 2000/01 aliran modal masuk ke Indonesia yang tidak dicatat semakin meningkat dan jumlahnya cukup besar.

Neraca keseluruhan


Neraca keseluruhan menggambarkan jumlah aliran neto yang dicatatdi ketiga kelompok transaksi, yaitu transaksi berjalan, transaksi modal, danselisih perhitungan.

Data neraca pembayaran tahun 2000/01 menunjukkan : walaupun neraca keseluruhan dalam keadaan surplus, akan tetapi kedudukannya kurang kukuh. Apabila perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat kembali, impor akan mengalami kenaikanyang pesat. Begitu juga ekspor-impor jasa neto defisitnya akan semakin meningkat. Pengaliran modal pemerintah belum tentu dapat dikurangi. Apabila hal-hal yang dinyatakan ini berlaku, kedudukan neraca pembayaran yang kukuh hanya mungkin berlaku apabila neraca perdagangan dan aliran modal swasta semakin bertambah kukuh. Menciptakan hal tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama : pemerintah, administrasi pemerintah, pengusaha dan juga masyarakat pada umumnya.