Cara Menulis Laporan Formal Yang Baik Dan Benar

Apakah kamu tahu? bahwa laporan itu sangat diperlukan, apalagi kalau dalam urusan binsis, pastinya laporan tentang keuangan itu sangat diperlukan. Berikut ini kami akan memberikan Cara Untuk Menulis Laporan Formal.

Cara membuat Laporan yang baik dan benar


Cara Menulis Laporan Formal


Dalam menulis suatu laporan, baik itu laporan informasional atau laporan analitikal, tahap pertama adalah mendefinisikan masalah. Anda harus memutuskan informasi apa yang Anda perlukan untuk menyelesaikan suatu laporan.

Pertanyaan yang Tepat


Sering kali,suatu masalah yang didefinisikan untukm Anda telah ditetapkan oleh orang-orang yang memiliki otoritas terhadap suatu laporan . Bila hal ini terjadi, Anda perlu mempertanyakan apa tujuan laporan tersebut dibuat, sebelum Anda melakukan investigasi lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini akan dapat membantu Anda dalam melakukan investigasi/penelitian.


  • Apa yang perlu ditentukan?
  • Mengapa masalah tersebut penting?
  • Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut?
  • Di mana munculnya suatu masalah?
  • Kapan masalah itu muncul?
  • Mengembangkan Pernyataan Tujuan


Dalam pertanyaan-pertanyaan terbuka, Anda harus mengembangkan suatu pernyataan tertulis secara jelas terhadap tujuan suaru laporan. Anda dapat menggunakan satu di antara tiga cara berikut ini.


  • Menggunakan kalimat infinitive.
  • Menggunakan pertanyaan.
  • Menggunakan suatu pernyataan deklaratif.


Pernyataan tujuan laporan harus dibuat sejelas mungkin dan hindari memasukkan informasi yang tidak relevan.


Kerangka Untuk Analisis



Setelah Anda mendefiniskan masalah dan menentukan tujuan penelitian, Anda dapat mulai melakukan suatu penelitian. Penelitian juga memerlukan kernagkan (outline) untuk keperluan analisis karena memungkinkan Anda memecahkan masalah, seperi kerangka laporan memungkinkan Anda menulis dengan cata yang sistematis.

1. Mengembangkan Struktur yang Logis


Anda harus dapat mengembangkan struktur penelitian yang logis dan mudah dipahami sesuai dengan subjek penelitiannya . Jika tujuan umum Anda adalah untuk memberikan informasi yang akan ditafsirkan orang lain, kerangka informasional lebih sesuai diterapkan meskipun beberapa bagian dari penelitian Anda perlu dianalisis untuk menekankan fakta-fakta yang penting.

a. Tugas Informasional


Suatu studi yang mengarah kepada laporan factual dengan sedikit analisis atau penafsiran umumnya dikelompokkan atas dasar sub-subtopik. Sub-subtopik tersebut dapat disusun dalam berbagai cara:

  • Urutan Tingkat Kepentingan
  • Secara Berurutan
  • Secara kronologis
  • Menurut Ruang Tempatnya
  • Menurut Geografis
  • Menurut Kategori
  • Tugas Analitikal

Laporan yang berisi analisis, kesimpulan, dan rekomendasi umunya dikategorikan dengan metode pemecahan masalah (problem-solving method) Adalah suatu pendekatan structural yang paling umum. Bila masalahnya adalah untuk menemukan penyebabnya, memprediksi hasil, atau mencari pemecahan suatu masalah, salah satu cara untuk mengatsainya adalah mengformulasikan penjelasan hipotesis.

2. Aturan Pembagian


Membagi sesuatu secara fisik adalah relative udah dibandingkan membagi suatu ide yang tak nampak secara fisik. Bagaiamana Anda dapat membagi ide-ide Anda dengan baik? Berikut ini adalah ebebrapa aturan singkat mengenai pembagian suatu ide ke dalam beberapa komponen.


  • Memilih prinsip-prinsip dasar pembagian secara benar.
  • Gunakan satu kategori/pronsip setiap kali membagi laporan ke dalam sub-subtopik.
  • Setiap pembagian kelompok harus terpisah dan berbeda.
  • Teliti dalam melakukan pendaftaran semua komponen.
  • Menyusun Kerangka Pembuka


Anda dapat menggunakan format kerangka untuk menyajikan ide-ide Anda. Kerangka pembuka (preliminary outline) memberikan kemudahan dalam melakukan investigasi. Kerangka sangat diperlukan, jika Anda merupakan salah satu di antara beberapa orang yang melakukan suatu tugas.
Investigasi Anda akan semakin luas dan akan mencakup banyak sumber dan jenis datanya.
Anda tahu dari pengalaman masa lalu bahwa orang yang meminta untuk melakukan studi (riset) akan melakukan revisi terhadap tugas selama kegiatan investigasi Anda.

Secara umum ada dua system pembuatan kerangka (outlining), yaitu system alfanumeris dan system decimal. Konstruksi paralel ini memungkinkan pembaca untuk melihat bahwa ide-ide berhubungan, sama pentingnya, dan sama level keumumannya.

Dalam menulis kerangka, Anda juga harus memilih antara caption kerangka deskriptif (topical) dan informatif (talking). Caption kerangka deskriptif memuat subjek yang akan dibahas, sedangkan caption kerangka informative (dalam bentuk pertanyaan dan rangkuman) memuat arti suatu masalah.

Menyususn Rencana Kerja


Setelah Anda mendefinidikan masalah dan memuat kerangka, selanjutnya Anda perlu menetapkan suatu rencana kerja yang didasarkan pada kerangka pembuka (pendahuluan). Jika Anda melakukan studi formal, rencana kerja akan lebih rinci karena hal itu akan memberikan petunjuk prestasi atas sejumlah tugas pekerjaan yang telah dilakukan. Suatu rencana kerja formal umunya mencakup beberapa hal sebagai berikut:

  1. Permasalahan yang dihadapi
  2. Maksud dan scopr (ruang lingkup) atas investigasi Anda.
  3. Pembahasan atas urutan tugas (sumber informasi,observasi atau eksperimen, dan batasan waktu, uang, atau data yang tersedia).
  4. Telah atas pekerjaan proyek, jadwal, dan sumber-sumber yang diperlukan (siapa yang bertanggung jawab, kapan akan dilakukan ,dan berapa biaya investigasi)


Melakukan Penelitian


Nilai laporan Anda tergantung pada kualitas suatu informasi.Dalam kaitan ini, bagaimana Anda memperoleh informasi yang Anda perlukan baik melalui sumber-sumber primer (primary sources) maupun sekunder (secondary resources).


Sumber primer akan memberikan informasi atau data yang dikumpulkan dari sumber-sumber asli (tangan pertama) untuk tujuan tertentu. Sedangkan sumber sekunder akan memberikan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain untuk tujuan tertentu. Data sekunder tersebut berasal dari laporan tangan kedua.

1. Sumber-sumber Primer


Apabila informasi yang Anda perlukan tidak tersedia dari sumber-sumber sekunder, Anda harus mengumpulkan dan menafsirkan data dengan melakukan penelitian primer. Anda harus melakukan penelitian secara langsung ke dalam dunia nyata. Ada 4 cara untuk mengumpulkan data primer, yaitu memeriksa dokumen0dokumen ,observasi, survey, dan melakukan eksperimen.


  • Dokumen
  • Observasi
  • Survey
  • Eksperimen


2. Sumber-sumber Sekunder


Meskipun penelitian Anda kebanykan menggunakan sumber-sumber primer, pertama kali Anda akan menelaah informasi yang berasal dari sumber sekunder. Dalam kaitanyya dengan sumber-sumber sekunder, Davis menyatakan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi dewasa ini, banyak informasi yang dapat diperoleh melalui Internet (online) mauoun yang tersimpan dalam bentuk CD-ROM (Compact Disc- Read Only Memory).

Ada bebrapa alas an yang melatarbelakangi mengapa orang menggunakan sumber-sumber sekunder, yaitu melalui jasa online atau jaringan Internet.

  • Hemat Waktu
  • Ketelitian
  • Relevansi
  • Efektivitas Biaya


Analisis Data


Setelah melakukan penelitian dan memperoleh data yang Anda inginkan, selanjutnya Anda perlu melakukan analisis terhadap hasil temuan Anda tersebut.

1. Perhiutungan Stastistik


Kebanyakan data yang Anda peroleh dari suatu penelitian berbentuk angka-angka. Dengan perhitungan statistic secara sederhana, Anda dapat menghitung rata-rata (average) , perkembangan (trends), dan korelasi (correlations).

2. Kesimpulan


Pengambilan kesimpulan dapat didsarkan pada suatu kombinasi antara fakta-fakta yang tersedia, pertimbangan nilai, dan asumsi-asumsi. Oleh karena itu, sangat jarang pengambilan kesimpulan hanya disadarkan pada penemuan fakta semata. Meskipun demikian, Anda juga perlu tahu bahwa pengambilan kesimpulan terhadap suatu kasus dapat mengandung unsur-unsur yang bersifat subjektif.

3. Rekomendasi


Kesimpulan berbeda dengan rekomendasi. Kesimpulan merupakan opini atau penafsiran terhadap suatu pokok bahaasan tertentu, sedangkan rekomendasi adalah sran yang diberikan untuk melakukan tindakan tertentu.

Suatu rekomendasi yang baik (good recommendations), paling tidak mencakup tiga criteria yaitu:

  1.  Praktis, 
  2. Dapat diterima oleh pembaca, dan
  3.  Penjelasannya cukiup rinci sehingga pembaca dapat melakukan suatu tindakan.


Begitulah artikel dari kami mengenai Cara Membuat Laporan Formal Yang Baik dan Benar, Semoga dapat memberikan anda tambahan ilmu.

Fenomena Globalisasi Dalam Konteks CSR, Implikasi Terhadap Global Corporation, Mereflesksikan Potential Dan Keterbatasan CSR Dalam Konteks Global Serta Artikel CSR Dan Globalisasi

Fenomena Globalisasi dalam Konteks CSR

Fenomena globalisasi telah menampakkan dua wajah yang berbeda, hal ini  dapat dilihat dari dampak negatif dan dampak positif dari globalisasi itu sendiri.

Dampak negative yang sudah terlihat jelas sekarang ini adalah budaya konsumerisme dan adanya produk produk yang berasal dari luar atau barat telah menjamur di dalam kawasan lokal.

Dampak postif dari globalisasi sendiri yaitu sistem pemerintahan yang dijalankan saat ini lebih demokratis dan terbuka, terbukanya pasar internasional sehingga meningkatkan kesempatan kerja dan devisa negara, selain itu kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti dalam perkembangan tekhnologi saat ini, dengan cara mengambil sisi positifnya dan menggunakan internet secara baik dan benar sesuai dengan aturan.

Fenomena Globalisasi Dalam Konteks CSR


Pengaruh yang ditimbulkan dari globalisasi tersebut utamanya pengaruh yang bersifat negatif cepat ataupun lambat harus ditemukan jalan keluarnya agar masalah yang timbul dari globalisasi dapat dieliminir. Jalan keluar yang dimaksud yaitu dengan menerapkan Corporate Social Responbility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan).

Karena dengan adanya CSR diharapkan perusahaan perusahaan yang ada di kawasan lokal dapat bersaing dengan perusahaan perusahaan asing yang sebagian besar telah berdiri di wilayah Indonesia ini.

Dengan adanya CSR , kita menjadi lebih memahami bagaimana agar produk dalam negri atau yang berasal dari lokal dapat mempunyai kemampuan untuk menjadi produk nomor satu Corporate Social Responbility juga tidak terlepas dari adanya komponen man (manusia). Keberadaan komponen ini sangat penting , karena tanpa adanya manusia yang mempunyai SDM dan skill yang baik serta mumpuni maka tak ayal negara kita ini akan tergerus arus globalisasi dan ketinggalan jaman.

Implikasi Terhadap Global Corporation

Di era globalisasi ini CSR bukan hanya kegiatan sosial untuk memberdayakan masyarakat tetapi juga menjadi salah satu strategi bisnis yang efektif. Karena semakin banyak perusahaan yang menempatkan masalah-masalah sosial sebagai inti dari strategi pemasarannya.

Tanggung jawab sosial perusahaan sangat diperlukan dalam era globalisasi ini. Mengingat kesenjangan sosial dalam masyarakat sangat besar akibat globalisasi, perusahaan diharapkan dapat melaksanakan tanggung jawabnya untuk mengurangi kesenjangan yang ada.

Karena pada dasarnya, CSR tidak hanya menguntungkan bagi masyarakat tetapi juga menguntungkan bagi perusahaan. Oleh sebab itu, CSR tidak lagi dimaknai sebagai tuntutan moral tetapi harus diyakini sebagai kewajiban perusahaan yang harus dilaksanakan. Sehingga harapannya kesejahteraan masyarakat dapat tercapai dengan adanya perbaikan kualitas hidup yang didukung oleh perusahaan.

Merefleksikan Potential dan Keterbatasan CSR dalam Konteks Global

CSR memiliki kelemahan dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat dan pemerintahan. Perusahaan semestinya memperoleh manfaat yang besar dari relasi dengan masyarakat dan pemerintahan yang lebih baik: berkurangnya biaya operasional, tidak banyak korupsi, meningkatnya reputasi perusahaan, dan seterusnya.

Negara penyelenggara semestinya juga memperoleh manfaat yang besar dari peningkatan sumber daya manusia dan pemerintahan, dalam kerangka meningkatnya investasi swasta, meningkatnya tingkat pendidikan, pelayanan publik yang lebih baik dan seterusnya. Namun demikian, perusahaan nampak enggan mengatasi isyu-isyu pemerintahan, sementara pendekatannya melalui pengembangan masyarakat seringkali tidak efektif.

Alasan Mengapa Perusahaan Multinasional Gagal Mengatasi Persoalan Pembangunan dan Pemerintahan


Berikut adalah dua alasan mendasar mengapa perusahaan multinasional gagal mengatasi persoalan pembangunan dan pemerintahan secara efektif:

Business Case For CSR


Business case for CSR adalah memanfaatkan inisiatif sosial untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan) batas satuan inisiatif untuk dapat mencapai masyarakat yang lebih luas.

Perusahaan multinasional seringkali gagal mengenali secara penuh lingkup interaksi mereka dengan masyarakat dan politik, dan mereka tidak mau menerima tanggung jawab terhadap isyu-isyu di level makro isyu-isyu yang berkaitan dengan dampak industri mereka terhadap masyarakat luas.

Banyak inisiatif sukarela perusahaan gagal karena mereka tidak mendengar stakeholders-nya dengan baik. Keterlibatan pemangku kepentingan seringkali dangkal dan singkat, perusahaan mungkin mendengarkan stakeholder-nya dengan daya tawar yang lebih besar dengan prioritas kepentingan perusahaannya daripada memperhatikan stakeholder-nya.

Inisiatif Sosial dan Lingkungan Seringkali Dilakukan Untuk Mencapai Prioritas Perusahaan


Sehingga masalah krusial berikutnya adalah keputusan mengenai inisiatif sosial dan lingkungan seringkali dilakukan untuk mencapai prioritas perusahaan daripada stakeholder, yang akhirnya mengarah pada terbatasnya kemampuan CSR memberi manfaat signifikan kepada stakeholder

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Kasus Perusahaan Multinasional

Kasus Perusahaan Multinasional


Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Kasus Perusahaan Multinasional

Nestle


Nestle adalah sebuah perusahaan multinasional yang memiliki cabang di berbagai negara dan berpusat di Vevey, Swiss. Sejak didirikan pada tahun 1867 oleh Henri Nestle, fokus perusahaan tersebut pada produksi makanan dan minuman di bidang gizi, nutrisi, dan kesehatan.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Nestlé aktif melakukan berbagai program CSR di berbagai negara dalam bentuk program yang disebut Creating Shared Value (CSV). CSV begins with the understanding that for our business to prosper over the long term, the communities we serve must also prosper. Fokus CSR melalui program CSV tersebut adalah pada tiga aspek, yakni nutrisi, air, serta pembangunan pedesaan dan pemberdayaan masyarakat.

Nestle membantu para Peternak Sapi


Sebagai contoh, Nestlé telah membantu para peternak sapi di daerah Moga, India. Sebelumnya, para peternak sulit memperoleh akses ke saluran air bersih, tanah-tanah yang subur, dan infrastruktur yang mendukung kehidupan sapi. Ketika Nestlé masuk ke India, program CSR diluncurkan dengan mendirikan pusat-pusat penyimpanan susu, menyediakan dokter hewan, ahli gizi, ahli pertanian, dan ahli kualitas untuk membantu peternak.

Bantuan finansial dan teknis juga diberikan untuk membantu para peternak menggali sumur-sumur dan memperbaiki sistem irigasi. Hasilnya, produksi susu meningkat 50 kali lipat dan jaminan pasokan kebutuhan susu untuk Nestlé bisa terpenuhi. Dengan infrastruktur yang dibangun, Nestlé membeli susu dari 650 lokasi pemerahan dan penyimpanan susu di wilayah Moga. Jika upaya tersebut tidak dilakukan, maka operasionalisasi Nestlé bisa jadi terhambat karena kurangnya ketersediaan pasokan susu.

Nestle di Indonesia


Sementara di Indonesia, Nestlé memberdayakan sekitar 33.000 peternak sapi dan bermitra dengan 51 koperasi di Jawa Timur. Nestlé memberikan pelatihan dan asistensi cara produksi dan penyimpanan susu yang baik kepada peternak dan pengurus koperasi.

Selain itu, juga memberikan fasilitas alat pendingin untuk menjaga kualitas susu dan memfasilitasi pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas. Tujuan dari semua itu adalah agar kebutuhan pasokan susu segar Nestlé bisa terpenuhi. Hal yang sama juga dilakukan di Lampung, dengan memberikan pelatihan dan pemberdayaan kepada sekitar 10.000 petani kopi di Lampung guna menghasilkan biji kopi yang baik dan berkualitas.

Hal itu dipertegas dengan pernyataan Presiden Direktur PT. Nestlé Indonesia Arshad Chaudhry bahwa, Nestlé berkomitmen terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan, khususnya di bidang persusuan, kopi dan kakao dengan menyediakan bantuan teknis dan keuangan. Pertanyaannya, mengapa Jawa Timur dan Lampung? Sebab, pabrik Nestlé untuk produk susu seperti Dancow, Bear Brand, dan lainnya berada di Pasuruan, Jawa Timur. Adapun Lampung merupakan lokasi pabrik Nestlé untuk produk Nescafe dan berbagai jenis kopi instan.

Nestle Melawan Obesitas pada Anak


Selain itu, contoh lain di Hongaria, Nestlé ambil bagian dalam upaya melawan obesitas pada anak-anak. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa seperempat dari anak-anak usia 7 hingga 14 tahun di Hongaria mengalami obesitas. Atas dasar itu, program Nestlé adalah mengajak anak-anak untuk makan makanan bergizi dan melakukan aktivitas fisik.

Program itu selanjutnya telah memberi manfaat kepada sekitar 400.000 anak-anak Hongaria dan mencapai 85 persen dari anak usia sekolah dasar. Hal yang sama dilakukan Nestlé di China. Persentase anak-anak usia 7 hingga 12 di China yang mengalami obesitas mencapai seperempat untuk laki-laki dan 15 persen untuk perempuan. Untuk itu, Nestlé memberikan edukasi untuk menyeimbangkan pola makan sehat dan bernutrisi kepada anak-anak dan guru khususnya di Beijing, Shanghai, Sichuan, Shandog, Liaoning, Shanxi, Yunnan, Guangdong, dan Guizhou.

Nestle Memberikan Pelatihan Kepada Perempuan Petani Kopi


Lebih lanjut, program CSR Nestlé di Kenya ditujukan dengan memberikan pelatihan kepada perempuan petani kopi. Adapun di Kongo, melalui Ma Nutrition cest Ma Santé programm, Nestlé memberikan edukasi kepada anak-anak, guru, dan orang tua tentang perlunya nutrisi. Sementara di Sri Lanka, karena langkanya ketersediaan air bersih mendorong Nestlé mengalokasikan anggaran untuk fasilitas air bersih sejak tahun 2006.

Nestle Membangun Fasilitas Air Bersih


Nestlé telah membangun sebanyak 14 fasilitas air bersih yang mampu memenuhi kebutuhan sedikitnya 18.000 warga. Nestlé di Vietnam memberikan pendampingan teknis dan pelatihan kepada sekitar 12.000 petani kopi guna meningkatkan produktivitas hasil kopi serta memperkenalkan perlunya sustainable-farmed coffee.

Terlebih lagi karena Vietnam merupakan salah satu negara dengan penghasil kopi terbesar dunia dan penyuplai kopi Robusta terbesar untuk Nestlé. Selain itu, contoh lain dapat ditemukan di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun negara maju.

Kesimpulan


Secara umum, contoh-contoh yang diuraikan di atas secara nyata memberikan keuntungan bagi masyarakat luas. Namun, sesuai namanya berupa shared value, apa yang dilakukan Nestlé tidak semata-mata hanya didasarkan pada aspek moral dan sosial berbasis kemanusiaan.

Melainkan, ada value yang diharapkan sebagai bentuk timbal balik dari apa yang telah dilakukan dan dikorbankan. Program dalam bentuk perhatian pada masalah anak-anak perlu dipandang sebagai upaya Nestlé untuk menempatkan produknya dekat dengan masyarakat mengingat perusahaan itu, salah satunya, bergerak di bidang nutrisi.


Program pemberdayaan peternak sapi dan petani kopi juga perlu dipandang sebagai upaya Nestlé menjamin kebutuhan bahan baku produksi mengingat perusahaan itu juga fokus pada produksi olahan susu dan kopi, sekaligus mempertahankan eksistensinya di mata masyarakat.

Hal itu juga dinyatakan dengan jelas oleh Nestlé bahwa upaya itu diharapkan memberikan reputasi positif pada perusahaan tersebut.

Demonstrates Nestlés commitment to address health issues globally; and has a positive impact on Nestlés reputation as a leading Nutrition, Health and Wellness company. 


Uraian di atas mempertegas kembali yang dikemukakan Stiglitz bahwa perusahaan berkiblat pada bisnis yang berorientasi untuk mencari uang, bukan hanya menyediakan amal.

Kasus CSR dalam Pasar, Tempat Kerja, Masyarakat dan Lingkungan Ekologi

Kasus CSR dalam Pasar, Tempat Kerja, Masyarakat dan Lingkungan Ekologi



Apakah kamu tahu bahwa Kasus CSR dalam pasar, di tempat kerja, di Masyarakat dan juga Lingkungan Ekologi itu memang bisa saja terjadi berikut ini merupakan rangkuman artikelnya.

Kasus CSR di dalam Pasar


PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan kegiatan CSR-nya dengan memberikan kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dengan memberikan pinjaman modal usaha dan melakukan pelatihan& pendampingan wirausaha. Program pemberdayaan masyarakat ini direalisasikan dengan program Kemitraan.

Terkait dengan tujuan CSR hanya sebagai bentuk pencitraan semata, maka PT Telekomunikasi Indonesia, khususnya PT Telkom Kedatel Malang tidak ingin hanya membuang biaya percuma tanpa benar-benar memberikan bantuan pada masyarakat.

PT.Telkom Kedatel Malang ingin memberikan kontribusi maksimal kepada masyarakat dengan tujuan awal yaitu meningkatkan potensi perekonomian masyarakat. Perusahaan tidak hanya dengan menjalankan CSR yang hanya bersifat sementara dan tidak memberikan solusi pada akar permasalahan, yaitu perekonomian masyarakat yang semakin terpuruk.

Salah satu faktor keterpurukan perekonomian dinegara indonesia adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang rendah.

Permasalahan tersebut semakin rumit saat didukung permasalahan seperti sumber daya manusia yang tidak memiliki pendidikan formal, tidak memiliki keterampilan, keterbatasan modal usaha yang dimiliki oleh pengusaha kecil tetapi mempunyai potensi usaha yang bagus dan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah.

Tahap Implementasi Program Public Relations Kemitraan


Public relations mengimplementasikan program kemitraan dengan membentuk manajemen dengan empat tahap yaitu :

  • Langkah awal yang harus dilakukan adalah tahap riset,
  • Setelah melakukan tahap riset, tahap selanjutnya adalah perencanaan dan pemrograman,
  • Tahap ketiga adalah aksi dan komunikasi evaluasi


Evaluasi mencakup tiga hal, yaitu:


  • Melakukan analisis mengenai berlangsungnya kegiatan secara periodic apakah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan atau tidak.
  • Mengidentifikasi kekuatan, kelemahan dan relevansi program terhadap kondisi masyarakat pada saat dan setelah berlangsungnya program.
  • Menganalisis hasil-hasil yang dicapai untuk digunakan dalam perencanaan, strategi dan penyusunan kebijakan untuk program selanjutnya.


Kasus CSR tentang Workplace


Melalui program Community Volunteering, perusahaan mendukung serta mendorong para karyawan, para pemegang franchise atau rekan pedagang eceran untuk menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasi-organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.

Salah satu contoh Community Volunteering adalah sebagaimana program Astra Employee Volunteer, yaitu kegiatan CSR dengan melibatkan karyawan. Tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2010, 68 orang karyawan PT Astra International Tbk Head Office, melakukan bedah sekolah dan mengajar selama 1 hari kepada siswa dan siswi SD SMP Remaja Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Shell Oil Company, melibatkan ribuan karyawan, pensiunan dan keluarga setiap tahunnya untuk terlibat dalam kegiatan pembersihan pantai yang tercemar di area operasi Shell Oil Company.
Keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan melalui kegiatan Community Volunteering, adalah terciptanya hubungan yang tulus antara perusahaan dengan komunitas, memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan serta meningkatkan kepuasan dan motivasi karyawan.

Kasus CSR tentang Masyarakat


PT. PLN (Persero) Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Community relation (pemangku kepentingan, stakeholder). Kegiatan ini menyangkut pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait.

Beberapa kegiatan yang dilakukan PLN antara lain: melaksanakan sosialisasi instalasi listrik, contohnya melalui penerangan kepada pelajar SMA di Jawa Barat tentang SUTT/SUTET, dan melaksanakan sosialisasi bahaya layang-layang di daerah Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.
Community services (masyarakat umum).

Program bantuan dalam kegiatan ini berkaitan dengan pelayanan masyarakat atau kepentingan umum


Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2011, antara lain memberikan:

  • Bantuan bencana alam
  • Bantuan peningkatan kesehatan di sekitar instalasi PLN, antara lain di Kelurahan Asemrowo, Surabaya yang berada di sekitar SUTT 150kV Sawahan-Waru.
  • Bantuan sarana umum pemasangan turap untuk warga pedesaan di Kecamatan Rumpin-Kabupaten Bogor, Jawa Barat serta bantuan pengaspalan jalan umum di Bogor-Buleleng, Bali.
  • Bantuan perbaikan sarana ibadah.
  • Operasi katarak gratis di Aceh, Pekanbaru, Jawa Barat, dan kota lainnya di Indonesia.
  • Bantuan sarana air bersih.

Program tanggung jawab social perusahaan (CSR) terhadap pelanggan perlindungan terhadap pelanggan


Dalam kondisi keterbatasan keuangan, PT PLN (Persero) tetap berupaya memberikan perlindungan terhadap Pelanggan dengan melaksanakan prioritas layanan kepada masyarakat. PT PLN (Persero) selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan listrik calon pelanggan mulai dari kelas rumah tangga, usaha atau bisnis,industri dan umum.

Peningkatan kualitas layanan yang dimaksud, antara lain:


  • Peningkatan mutu produk berupa keandalan pasokan listrik, tegangan dan frekuensi listrik sesuai dengan standar yang ditetapkan termasuk kecukupan pasokan listrik.
  • Peningkatan akurasi pencatatan meter pemakaian listrik kWh, kVARh.
  • Peningkatan mutu layanan di mana selurah jajaran karyawan PT. PLN (Persero) memperlakukan pelanggan sebagai mitra bisnis.



Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap usaha kecil bina lingkungan


Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil disebut PK adalah Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri. Adapun dana PK bersumber dari:

  • Penyisihan laba setelah pajak sebesar 1% sampai dengan 3% hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.
  • Pelimpahan dana program kemitraan dari bumn lain, jika ada.
  • Program Kemitraan merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). dari PT PLN (Persero) terhadap Mitra Binaan/Masyarakat berupa penyediaan tenaga listrik di area sekitar kegiatan Perusahaan serta mempunyai obyek Mitra Binaan yaitu Usaha Mikro Kecil dan Koperasi (UKM).
  • Program tanggung jawab social perusahaan (CSR) terhadap lingkungan hidup.
Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya PT PLN (Persero) selalu berusaha untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Program kegiatan yang telah dan sedang dilaksanakan PLN di bidang lingkungan hidup, antara lain:

  1. Melaksanakan kebijakan umum perusahaan bidang lingkungan hidup.
  2. Mengikuti program peduli lingkungan global/pelaksanaan Clean Development Mechanism.
  3. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.


Kasus CSR tentang Lingkungan Ekologi

Kasus kerusakan lingkungan di lokasi penambangan timah inkonvensional di pantai Pulau Bangka-Belitung dan tidak dapat ditentukan siapakah pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi karena kegiatan penambangan dilakukan oleh penambangan rakyat tak berizin yang mengejar setoran pada PT. Timah. Tbk. Sebagai akibat penambangan inkonvensional tersebut terjadi pencemaran air permukaan laut dan perairan umum, lahan menjadi tandus, terjadi abrasi pantai, dan kerusakan laut (Ambadar, 2008).

PT. Indocement Tunggal Prakasa, Tbk. adalah salah satu contoh perusahaan yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Dalam rangka pelaksanaan CSR perusahaan melakukan kegiatan Program Clean Development Mechanism (CDM). Program ini merupakan program kerjasama antara Negara maju dan Negara berkembang dalam penandatanganan Protokol Kyoto untuk menurunkan emisi gas rumah kaca untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

CSR dalam Lingkungan Ekologi, Inti dari Tanggung Jawab Ekologi, Mengintegrasikan Tanggung Jawab Ekologis ke Dalam Strategi Perusahaan, Dimensi Politik dari Tanggung Jawab Ekologis, dan Artikel Tentang CSR dan Masyarakat

CSR dalam Lingkungan Ekologi, Inti dari Tanggung Jawab Ekologi, Mengintegrasikan Tanggung Jawab Ekologis ke Dalam Strategi Perusahaan, Dimensi Politik dari Tanggung Jawab Ekologis, dan Artikel Tentang CSR dan Masyarakat


Pengertian CSR dalam Lingkungan Ekologi

Kemampuan perusahaan untuk menutupi implikasi lingkungan yang berasal dari; produk operasi dan fasilitas, menghilangkan limbah dan emisi, memaksimalkan efisiensi dan produktivitas sumber daya alam dan meminimalkan praktek-praktek yang buruk dapat mempengaruhi kenikmatan sumber daya alam suatu negara bagi generasi mendatang

(Mazurkiewicz, 2011 di dalam paper: Corporate Environmental Responsibility: Is a Common CSR Framework Possible?).

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan adalah hal yang penting bagi setiap perusahaan untuk dapat mengatur, mengolah dan mempergunakan lingkungan sebaik-baiknya untuk tidak hanya menguntungkan dan meningkatan efisiensi bisnis setiap perusahaan, namun juga bagi lingkungan dan dampak sosial di masa yang akan datang.

Manfaat Perusahaan Melakukan Tanggung Jawab Sosial Terhadap Lingkungan


Ada empat manfaat bagi perusahaan yang melakukan tanggung jawab social terhadal lingkungan, berikut adalah keuntungannya:

Pengembangan reputasi atau citra perusahaan di mata konsumen dan investor


Dapat dikonfirmasi, bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan akan menciptakan reputasi yang baik atau good brand image kepada berbagai elemen bisnis.

Mengeliminasi konflik lingkungan dan sosial disekitar perusahaan


Nampaknya sudah banyak kasus-kasus atau berita yang selama ini kita dengar dan lihat seputar perusahaan dengan kasus miss-conduct nya terhadap lingkungan disekitar area usaha bisnis mereka.

Meningkatkan kerja sama dengan para pemangku kepentingan


Dalam implementasi CSR perusahaan tentunya tidak dapat bergerak dan bekerja sendiri tanpa bantuan pemangku kepentingan seperti, masyarakat lokal dan pemerintah daerah.

Membedakan perusahaan dengan para pesaingnya


Jika kegiatan CSR terhadap lingkungan dilakukan oleh sebuah perusahaan, perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan dan kesempatan dalam menonjolkan keunggulan komparatifnya (comparative advantage) sehingga dengan mudah dapat memberikan nilai plus yang berbeda dengan para pesaingnya yang tidak melakukan kegiatan sosial terhadap lingkungan.

Inti Tanggung Jawab Ekologi


Ekologi yang menitikberatkan pada keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya banyak di pengaruhi oleh proses produksi. Selain kepada manusia yang terlibat dalam berdiri dan berjalannya sebuah perusahaan, perusahaan juga mempunyai tanggung jawab kepada lingkungan yang ada di sekitar perusahaan tersebut.

Tindakan perusahaan terhada lingkungan dapat dijadikan sebuah parameter baik atau tidaknya sebuah perusahaan. Tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan perusahaan terhadap lingkungan adalah sebagai berikut:

  • Membuang limbah perusahaan dengan metode yang baik dan benar serta tidak mencemari lingkungan sekitar.
  • Melakukan rehabilitasi yang secara tidak sengaja rusak akibat kegiatan perusahaan. (misalnya perusahaan kertas yang dalam produksinya terus-menerus menebang pohon, mereka harus menanam ulang pohon tersebut dengan pohon baru yang lebih muda).

Semua bentuk tanggung jawab tersebut harus dilakukan oleh sebuah perusahaan apabila mereka ingin dikenal sebagai perusahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan pribadi, tapi juga dikenal sebagai perusahaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

Mengintegrasikan Tanggung Jawab Ekologis ke dalam Strategi Perusahaan


Pengintegrasian disini adalah penggabungan atau penyatuan antara tanggung jawab ekologi dan strategi perusahaan.

Misal: perusahaan tambang yang mengeksplorasi hutan, perusahaan melakukan reboisasi guna CSR terhadap lingkungan serta mencitrakan kepada masyarakat bahwa perusahaan peduli, dan masyarakat menilai perusahaan itu baik.

Ditinjau dari jenis perusahaan, umumnya yang menjalankan fungsi tanggung jawab sosial adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha ekplorasi alam (tambang, minyak, hutan).

Perusahan tambang lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat dibandingkan dengan perusahaan non tambang (terutama LSM). Perusahaan tersebut diwajibkan untuk melakukan penyeimbangan sebagai dampak dari eksplorasi yang dilakukan seperti melakukan reklamasi alam, reboisasi, mendukung pencinta alam, berpartisipasi dalam pengolahan limpah dan sebagainya.

Dimensi Politik Tanggung Jawab Ekologis


Beberapa definisi tentang ekologi politik yang asumsinya adalah sama yaitu: environmental change and ecological conditions are (to some extent) the product of political processes. Jika keadaan lingkungan adalah produk dari proses‐proses politik, maka tidak terlepas pula dalam hal ini adalah keterlibatan proses‐proses dialektik dalam politik ekonomi.

Ekologi politik memfokuskan pada tingkat masyarakat lemah/miskin, dihubungkan dengan lingkungan yang pada akhirnya melahirkan suatu konflik. Sehingga memunculkan suatu persepsi tentang permasalahan lingkungan, di sisi lainnya adanya suatu intervensi pengetahuan ilmiah barat terhadap local.

Dengan adanya table di atas bryant harapan adanya suatu gambaran untuk melihat bentuk-bentuk serta derajat kehancuran alam dan masyarakat dengan berlangsungnya krisis ekologi. Hal ini di maksutkan dengan tujuan agar mendapatkan suatu gambaran untuk dapat di tetapkan baik strategi dan aplikasi terhadap kebijakan lingkungan sebagai bentuk intervensi aksi dan pengaruh politik.

Menurutnya system social masyarakat akan menghadapi 3 aspek penting atas kerusakan lingkungan di lihat dari perspektif ekonomi-politik, ketiga aspek itu adalah :


  • Marjinalitas atau peminggiran secara sosial‐ekologikal sebuah kelompok mahluk hidup,
  • Kerentanan secara social-ekonomi-ekologi dan fisikal akibat berlangsungnya kehancuran secara terus menerus, dan
  • Kehidupan yang penuh dengan resiko kehancuran taraf lanjut.


Artikel CSR dan Masyarakat


Kasus kerusakan lingkungan di lokasi penambangan timah inkonvensional di pantai Pulau Bangka-Belitung dan tidak dapat ditentukan siapakah pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi karena kegiatan penambangan dilakukan oleh penambangan rakyat tak berizin yang mengejar setoran pada PT. Timah. Tbk. Sebagai akibat penambangan inkonvensional tersebut terjadi pencemaran air permukaan laut dan perairan umum, lahan menjadi tandus, terjadi abrasi pantai, dan kerusakan laut (Ambadar, 2008).

Contoh lain adalah konflik antara PT Freeport Indonesia dengan rakyat Papua. Penggunaan lahan tanah adapt, perusakan dan penghancuran lingkungan hidup, penghancuran perekonomian, dan pengikaran eksistensi penduduk Amungme merupakan kenyataan pahit yang harus diteima rakyat Papua akibat keberadaan operasi penambangan PT. Freeport Indonesia.

Bencana kerusakan lingkungan hidup dan komunitas lain yang ditimbulkan adalah jebolnya Danau Wanagon hingga tiga kali (20 Juni 1998; 20-21 Maret 2000; 4 Mei 2000) akibat pembuangan limbah yang sangat besar kapasitasnya dan tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan (Rudito dan Famiola, 2007).

Kedua contoh tersebut hanya merupakan sebagian kecil gambaran fenomena kegagalan CSR yang muncul di Indonesia

Kisah Sukses Implementasi Program CSR di Indonesia

PT. Kaltim Prima Coal menunjukkan citranya sebagai perusahaan yang peduli terhadap komunitas sekitarnya melalui kesuksesannya dalam menjalankan program baik di bidang lingkungan, ekonomi, maupun sosial sehingga menerima penghargaan sebagai The Most Outstanding Recognition Awards dalam CSR Awards 2005 yang diselenggarakan oleh Surindo bekerjasama dengan CFD (Corporate Forum For Community Development, majalah SWA dan Mark Plus). Salah satu prinsip utama dalam menjamin keberhasilan pelaksanaan CSR adalah adanya komunikasi yang benar. Hal ini memberikan makna bahwa setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai wujud pelaksanaan tanggung jawab sosial harus disosialisasikan kepada masyarakat sekitar untuk mendapatkan umpan balik dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

PT. Indocement Tunggal Prakasa, Tbk merupakan salah satu contoh perusahaan yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Dalam rangka pelaksanaan CSR perusahaan melakukan kegiatan Program Clean Development Mechanism (CDM). Program ini merupakan program kerjasama antara Negara maju dan Negara berkembang dalam penandatanganan Protokol Kyoto untuk menurunkan emisi gas rumah kaca untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

CSR Dalam Masyarakat : Strategi Philantropy, Keterlibatan Masyarakat, Tinjauan Konsep Community Development

CSR Dalam Masyarakat : Strategi Philantropy, Keterlibatan Masyarakat, Tinjauan Konsep Community Development



CSR di Dalam Masyarakat

Suatu perusahaan ketika mendirikan basisnya di suatu masyarakat, maka perusahaan tersebut menjadi bagian dari masyarakat itu dan mengandalkan masyarakat tersebut sebagai pelanggan dan karyawannya.

Perusahaan mendemonstrasikan acara-acara local atau memberikan sumbangan ke yayasan local, misalkan perusahaan yang telah mendonasikan dana ke universitas-universitas.

Dalam perusahaan multinasional masyarakat perusahaan adalah lingkungan internasionalnya. Ada banyak perusahaan yang terlibat dengan bisnis internasionalnya misalnya, sumbangan untuk bencana alam, seperti tsunami dan gempa.

Strategi Philantropy

Kedermawanan perusahaan (corporate philanthtopy) bisa diartikan sebagai inisiatif perusahaan untuk terlibat dalam upaya-upaya perbaikan kehidupan social. Pada mulanya inisiatif ini lebih merupakan tindakan voluntir. Alasan kemanusiaan, implementasi ajaran altruism, dan bahkan argumentasi religious pada mulanya menjadi motivasi utama tindakan ini.

Sebagai sebuah tindakan kemanusiaan, corporate philanthropy, bagaimanapun layak dipuji dan harus terus-menerus dikembangkan. Hanya saja, jangan sampai atas arogansi sudah memberikan sumbangsih luar biasa kepasa kehidupan social, perusahaan yang berderma merupakan upaya minimalisasi dampak negative operasinya.

Langkah Manajerial Strategi Philanthropy


Porter dan Krammer menyarankan lima langkah manajerial yang sebaiknya diambil dalam melakukan corporate philanthropy:

  • Memeriksa ulang competitive context kepentingan dan nilai‐nilai perusahaan di masing‐masing wilayah geografis.
  • Melakukan review atas portfolio kegiatan dan program filantropi yang sudah berlangsung
  • Melakukan penilaian atas resistensi
  • Mencari opportunity untuk melakukan collective action di sebuah wilayah operasi bersama mitra lain
  • Dengan penuh saksama melakukan jejak rekam (monitoring) dan mengevaluasi hasil.

Secara keseluruhan lima langkah di atas haruslah bermuara pada keseimbangan antara kontribusi social, ekonomi, dan lingkungan dengan tentunya ditempatkan dalam kerangka upaya manajemen untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimumkan dampak negative kehadiran dan operasi perusahaan sesuai dengan bisnis yang dijalankan.

Keterlibatan Masyarakat Dalam Pelaksanaan CSR

Wujud keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan CSR khususnya pada hasil dari program CSR itu sendiri juga merupakan faktor pendorong terwujudnya program CSR yang berkelanjutan (suistainable).

Wujud keterlibatan masyarakat ada dua tipe, yaitu:


  • Masyarakat sebagai salah satu pelaksana program CSR
  • Masyarakat sebagai pengelola hasil program CSR.

Keterlibatan masyarakat sebagai pelaksana program csr terlihat pada bentuk kerjasama perusahaan kepada pihak ketiga. Sedangkan keterlibatan masyarakat sebagai pengelola hasil program csr terlihat pada upaya pengembangan sarana dan prasarana yang diberikan pihak perusahaan kepada masyarakat yang selanjutnya masyarakat kelola untuk kepantingan masyarakat itu sendiri.

Tinjauan Konsep Community Development

Secara umum community development dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangunan.

Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Karakter Program Community Development 


Program community development memiliki tiga karakter utama, yaitu:

  • Berbasis masyarakat (community based)
  • Berbasis sumber daya setempat (local resource based)
  • Berkelanjutan (suistainable)

Tiga alasan penting mengapa perusahaan melakukan kegiatan community development, antara lain adalah:


  • Izin local untuk beroperasinya perusahaan dalam mengembangkan hubungan dengan masyarakat local.
  • Mengetahui social budaya masyarakat local
  • Mengatur dan menciptakan strategi ke depan melalui program community development.
CSR: Menyusun Strategi, Implementasi Kode Etik, Faktor Kesuksesan Strategi

CSR: Menyusun Strategi, Implementasi Kode Etik, Faktor Kesuksesan Strategi

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: Mendesain Strategi CSR, Implementasi Code of Conduct sebagai CSR Tools, Faktor Kesuksesan Strategi CSR, Menilai Keberhasilan CSR, Mengelola Hubungan dengan Stakeholder, Artikel Implementasi dan Strategi CSR


Menyusun Strategi CSR

Pelaksanaan program CSR tentu saja perlu dirumuskan dalam strategi yang baik dan matang, agar sejalan dengan visi misi perusahaan. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun atau mendesain strategi CSR, yaitu:


  1. Memastikan komitmen dimulai dari jenjang teratas.
  2. Memprakarsai diskusi kelompok antar stakeholder.
  3. Strategi dasar CSR harus ditetapkan di tingkat eksekutif.
  4. Melibatkan dan memberdayakan masyarakat.
  5. Mengevaluasi program CSR secara berkala.
  6. Pelaporan kegiatan CSR yang efektif.


Implementasi Kode Etik sebagai Alat CSR


Dalam menjalankan bisnis yang melibatkan berbagai pihak dari mulai karyawan, manajer, direktur, investor serta konsumen, perusahaan tentu perlu untuk memperhatikan etika yang harus dijunjung tinggi serta tanggungjawab sosial yang juga perlu diperhatikan.

Etika akan berpengaruh penting pada pandangan masyarakat mengenai citra perusahaan yang memproduksi produk-produk yang mereka kenali. Jika perusahaan memiliki pencitraan yang baik atas etika yang dimilikinya selama mengoprasikan perusahaannya tentu hal itu akan berdampak baik pada penjualan produknya.

Di sisi lain, jika perusahaan tidak memperhatikan etika moral dalam menjalankan bisnisnya, masyarakat tentu akan menilai negatif perusahaan tersebut dan enggan menjadi konsumen dari perusahaan yang bersangkutan.


Kata etika itu sendiri diartikan sebagai standar dari perilaku yang bermoral dimana perilaku itu dapat diterima oleh individu lain mengenai apa yang baik dan yang buruk (Nickles & McHugh, 2008:110).


Dias dan Shah, (2009:110) mendefinisikan etika sebagai pemahaman kita mengenai standar perilaku moral, dimana perilaku tersebut diterima masyarakat, yang kemudian dinilai sebagai sesuatu yang benar atau salah.

Etika ini biasanya berdasarkan pada agama dan budaya dimana pada dasarnya semua agama itu mengajarkan hal yang sama misalnya integritas, saling menghormati, kejujuran serta kebenarian dan melarang hal-hal seperti berbuat curang dan kekejaman.

Etika tersebut setidaknya harus dipenuhi oleh para pebisnis dan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya juga sebagai bentuk pencitraan dalam masyarakat, yang mana jika tidak dipenuhi tentu masyarakat akan menilai sebagai hal yang salah dan patut dikenakan sanksi.


Selain itu, etika yang dimaksud disini juga berbeda dari hukum dan tidak harus selalu berhubungan dengan hukum (Nickles & McHugh, 2008:111-112).

Secara umum, sesuatu yang ilegal juga merupakan sesuatu yang tidak etis. Ilegal berarti kita dapat dikenakan hukuman oleh pengadilan atas tindakan buruk yang dilakukan. Namun, sesuatu yang tidak etis tidak selalu menjadi hal yang ilegal.

Misalnya, mencuri uang perusahaan dapat dikatakan tindakan yang tidak etis dan ilegal dimana kita bisa dipenjara. Namun, berbeda ketika misalnya kita menggosipkan pekerja lain di belakangnya, hal itu dapat dikatakan sesuatu yang tidak etis, namun tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang ilegal yang dapat dikenakan sanksi hukum (Dias & Shah, 2009:112)

Faktor Kesuksesan Strategi CSR

Berbagai persoalan sosial yang mncul di masyarakat ditambah dengan ketidak mampuan Pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut telah mendesak campur tangan korporasi-korporasi besar yang memiliki dana yang cukup besar untuk terlibat aktif dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut.

Hal inilah yang kemudian melahirkan sebuah konsep Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan. Public Relations, sebagai ujung tombak perusahaan turut mengemban fungsi ini. Sesuai dengan tugas pokoknya, yaitu mengemban tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial inilah yang kemudian dijalankan salah satunya melalui program CSR.

Disamping itu, CSR juga dipandang sebagai strategi komunikasi yang efektif dalam pembentukan citra perusahaan. CSR yang berhasil adalah CSR yang didalamnya ada partisipasi dari masyarakat serta dilaksanakan berkelanjutan (sustainable). Oleh karenanya, dalam penelitian ini akan diidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan program CSR.

Sebagai obyek penelitian adalah Telkom dan Sampoerna, yang mana program CSR yang telah mereka lakukan telah mendapatkan pengakuan dan penghargaan di tingkat nasional. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif eksploratif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program CSR.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program CSR dipengaruhi oleh nukleus program yang dijadikan acuan dan kerangka pemikiran dari setiap program, riset awal, tahap eksekusi, riset akhir dan evaluasi serta strategi komunikasi.

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan demi meningkatkan kesuksesan strategi CSR, yaitu:


  • CSR adalah komitmen, kontribusi, cara pengolahan bisnis dan pengambilan keputusan pada perusahaan.
  • Komitmen, kontribusi, pengelolaan bisnis dan pengambilan keputusan perusahaan didasarkan pada akuntabilitas, mempertimbangkan aspek social dan lingkungan, memenuhi tuntutan etis, legal dan professional.
  • Perusahaan memberikan dampak nyata pada pemangku kepentingan dan secara khusus pada masyarakat sekitar.


Menilai Keberhasilan CSR

Hangatnya pembicaraan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih dikenal dengan corporate social responsibility (CSR) di kalangan dunia usaha mau tidak mau merambat pada dunia akademis.

Topik CSR sudah mulai diakomodasikan pada beberapa mata ajaran dikalangan perguruan tinggi. Hasilnya, tak sedikit para mahasiswa berlomba membuat karya akhir atau skripsi dengan topik CSR. Jawaban paling sederhana dan jujur dari mereka adalah karena topik ini sedang nge-trend, atau memang topik ini yang diterima dibandingkan dengan topik lain yang diajukan.

Ironisnya, kebanyakan mahasiswa kecewa saat mendapati bahwa dosen pembimbingnya ternyata tidak menguasai topik tersebut. Tentu bukan sepenuhnya kesalahan dosen bila mereka dengan jujur mengatakan tidak menguasai masalah CSR, apalagi membuat suatu kajian akademis karena mereka memang belum pernah mempelajarinya. Belum ada mata kuliah ini pada saat kita-kita, para dosen dulu kuliah.

Perlu disadari bahwa begitu banyak variabel dan lintas ilmu yang terkait dengan masalah CSR. Perubahan kondisi sosial yang dinamis tidak dapat dijadikan suatu hitungan matematis yang sederhana. Salah satunya adalah bagaimana mengukur kinerja CSR.

Saat ini, cara untuk mengukur kinerja CSR adalah melalui laporan kegiatannya, yakni dengan metode content analysis. Metode ini mengubah informasi kualitatif menjadi kuantitatif sehingga dapat diolah dalam perhitungan statistik.

Artinya, total angka yang didapat dari proses content analysis ini menggambarkan banyaknya pengungkapan yang diinformasikan dalam laporan tersebut. Yang perlu digarisbawahi adalah informasi CSR yang diungkapkan bukan jaminan informasi yang menggambarkan semua kegiatan CSR yang telah dilakukan. Ada gap yang mungkin terjadi.

Mengelola Hubungan dengan Stakeholder


Keberlangsungan dan kesuksesan suatu organisasi  sangat tergantung dengan pihak-pihak terkait yaitu stakeholder.Pada saat krisis menyerang perusahaan/organisasi, pengelolaan hubungan dengan para stakeholder memegang peranan yang sangat penting. Kesalahan dalam mengelola hubungan dengan mereka pada saat krisis akan berakibat buruk pada perusahaan/organisasi.

Parahnya suatu krisis yang menyerang perusahaan/organisasi tidak ditentukan oleh masalah itu sendiri tetapi oleh para stakeholder yang terkena dampak serta bagaimana mereka bereaksi sebagai hasil dari apa yang terjadi.


Tidak ada cara menilai seberapa baik sebuah organisasi berhasil mengatasi krisis. Pada akhirnya, penilaian tersebut hanyalah persepsi dan opini saja yang didasarkan pada seberapa efektif perusahaan/organisasi berkomunikasi dengan para stakeholder-nya pertama kali hingga masalah yang menimpa perusahaan/organisasi benar-benar terpecahkan.

Seperti yang kita ketahui, stakeholder sendiri tidak hanya berpangku pada karyawan dan pemegang saham, maka dari itu pihak perusahaan perlu menjaga hubungan baik dengan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan usahanya.

Artikel Implementasi dan Strategi CSR


CSR AQua : Mengingat Aqua adalah perusahaan yang telah melayani masyarakat hampir 40 tahun, Aqua juga menggunakan sumber daya alam yakni sumber air bersih, oleh karena itu untuk menjaga kesinambungan serta keseimbangan penggunaan sumber daya agar tetap terjaga dan manfaatnya bagi masyarakat luas dan menciptakan pertumuhan sumber daya yang berkelanjutan.

Oleh karena itu dirasa penting Aqua melakukan kegiatan CSR, dalam rangka sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan menerapkan kegiatan berbasis masyarakat dalam menjalankan programnya.

Kampanye yang telah dimulai sejak tahun 2007 ini juga adalah sebuah kampanye berkelanjutan mengenai kebaikan alam (Goodness of nature).

Salah satu program Aqua adalah WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) tujuanya untuk memberikan solusi dalam penyediaan air bersih di Indonesia. Didalam program WASH ini adalah program Satu Untuk Sepuluh, program ini juga mendukung program Millenium Development yang dicanangkan oleh PBB tujuannya untuk memerangi kemiskinan dan kelaparan diberbagai belahan dunia yang ditarget pada tahun 2015.

Program yang akan dibahas kali ini khusus pada CSR Aqua yang telah terlaksana yaitu program 1L Aqua untuk 10L Air Bersih, menurut Binahidra Logiardi, manajer PT Tirta Investama yang membawahi perusahaan Aqua, slogan ini adalah ungkapan simbiolis untuk memudahkan pemirsa mencerna pesan yang ingin Aqua sampaikan,  dimana  setiap 1 liter yang terjual telah membantu 10 liter air bersih untuk 4 kecamatan.
Pengeritan Laporan CSR, Tujuan Laporan CSR, Manfaat CSR, Pengertian Pemeriksaan CSR, Manfaat Pemeriksaan CSR

Pengeritan Laporan CSR, Tujuan Laporan CSR, Manfaat CSR, Pengertian Pemeriksaan CSR, Manfaat Pemeriksaan CSR

Pengertian Laporan CSR

Laporan CSR adalah laporan mengenai segala aktivitas CSR yang dilakukan oleh perusahaan dan pencapaian target penerapan CSRnya tersebut melalui publikasi di Laporan Resmi pada berbagai media komunikasi.

Tujuan Laporan CSR


Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran eksternal mengenai pencapaian program CSR

perusahaan dan memberikan edukasi sebagai contoh wujud nyata pelaksanaan CSR, juga meningkatkan kualitas budaya kerja internal perusahaan.

Manfaat Laporan CSR


Manfaat dari membuat laporan CSR perusahaan, yaitu:


  • Brand awareness positif
  • Peningkatan kepuasan karyawan
  • Biaya operasi berkurang
  • Peningkatan hubungan masyarakat
  • Akuntabilitas perusahaan terjaga
  • Nilai perusahaan dimata public meningkat


Pengertian Pemeriksaan CSR


Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Manfaat Pemeriksaan CSR


Manfaat dari pemeriksaan CSR adalah untuk mengoptimalkan kinerja CSR dalam mencapai target. Penyesuaian antara planning dan actuating sehingga program CSR yang dianggarkan perusahaan tepat sasaran dan tepat guna.

Penyusunan strategi sering diawali dengan analisis faktor internal dan eksternal yang dapat memengaruhi situasi kompetitif perusahaan. Analisis situasi adalah analisis SWOT.

Penempatan CSR, CSR pada HAM dan Melibatkan Karyawan dalam program CSR, Permasalahan CSR di Tempat Kerja

Penempatan CSR, CSR pada HAM dan Melibatkan Karyawan dalam program CSR, Permasalahan CSR di Tempat Kerja



Memahami Penempatan CSR


Alangkah lebih baiknya kita akan membahas mengenai pemahaman penempatan CSR, yaitu adalah sebagai berikut:

Tanggung Jawab terhadap Karyawan


Bisnis mempunyai sejumlah tanggung jawab terhadap karyawan. Pertama, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan jika mereka ingin tumbuh. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap karyawannya guna memastikan keselamatan mereka, perlakuan yang semestinya oleh karyawan lain, dan peluang yang sama.

Perusahaan juga harus dapat memastikan bahwa tempat kerja aman bagi karyawan dengan memantau secara ketat proses produksi. Beberapa tindakan pencegahan adalah dengan memeriksa mesin dan peralatan guna memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik, mengharuskan digunakannya kacamata keselamatan atau peralatan lainnya yang dapat mencegah terjadinya cedera, dan menekankan tindakan pencegahan khusus dalam seminar-seminar pelatihan.

Perusahaan bertanggung jawab juga untuk memastikan bahwa karyawan diperlakukan dengan semetinya oleh karyawan lain. Dua masalah utama berkaitan dengan perlakuan karyawan adalah keragaman dan pencegahan terjadinya pelecehan seksual. Keragaman, tidak hanya terbatas pada gender dan suku.

Karyawan dapat berasal dari latar belakang yang sepenuhnya berbeda dan memiliki keyakinan yang berbeda, sehingga dapat menimbulkan konflik ditempat kerja. Banyak perusahaan mencoba untuk mengintegrasikan karyawan dengan latar belakang yang berbeda agar mereka belajar bekerja sama guna mencapai tujuan bersama perusahaan sekalipun merka memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah-masalah di luar kerja.

Banyak perusahaan merespons terhadap meningkatnya keregaman antar karyawan dengan menawarkan seminar mengenai keregaman, yang menginformasikan kepada karyawan mengenai keregaman budaya.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Banyak pengusaha yang pada saat ini telah melakukan AMDAL ini dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Wujud nyata dari amdal ini tercermin dalam pelaksanaan pengolahan limbah industry sedemikian rupa sehingga limbah tersebut menjadi tidak mengganggu lingkungan.

Proses produksi yang dilakukan oleh suatu bisnis tidak jarang akan menimbulkan pencemaran lingkungan atau polusi, baik polusi tanah, air dan udara. Dalam hal ini masih banyak pula pengusaha yang belum menyadari akan tanggung jawabnya terhadap pengolahan limbah industry ini. Hal ini pada umumnya disebabkan karena kurangnya kesadaran pengusaha terhadap pencemaran lingkungannya.

Penerapan Prinsip Keselamatan, dan Keselamatan Kerja (K3)


Penerapan prinsip K3 ini telah banyak dilaksanakan oleh perusahaan. Ada beberapa perusahaan telah memperoleh penghargaan yang berupa  ZERO ACCIDENT . Perusahaan yang memperoleh penghargaan ini bararti telah menjalankan proses produksinya sedemikian lama tanpa mengalami kecelakaan kerja bagi karyawannya. Hal ini merupakan prestasi yang cukup bagus dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja. Guna menjalankan pekerjaannya baik berupa topi pengaman, masker, maupun pakaian kerja khusus dan sebagainya.

Tanggung Jawab terhadap Hak Asasi Manusia (CSR pada HAM)


Secara teknis penerapan tanggung jawab perusahaan meliputi dua dimensi. Pertama, dimensi internal perusahaan yang terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan karyawan (industrial relation), yang diturunkan menjadi beberapa hal didalamnya ialah manajemen sumber daya manusia (human Resource Management), kesehatan dan keselamatan kerja (health and safety at work) dan manajeman penggunaan dan pelestraian sumber daya alam (management of enviromental impact and natural resource).

Kedua, adalah dimensi eksternal yang meliputi pengembangan komunitas lokal, relasi dengan mitra bisnis, penyedia bahan baku dan konsumen dan terkahir adalah hak asasi manusia. Jika kita lihat pada kedua aspek dari tanggung jawab sosial perusahaan tersebut baik dari dimensi internal dan eksternal, sangatlah kental dengan nuansa HAM. Terutama pada aspek hak-hak asasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya.

Tanggung Jawab Perusahaan dan Pemenuhan Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya


Pada konvensi-konvensi HAM international pemerintah memiliki peran sebagai pengemban utama untuk memajukan penegakan hak-hak asasi manusia di negaranya, termasuk di dalamnya ialah penegakan hak-hak ekonomi, sosial, budaya (Ekosob).

Hak-hak Ekosob baik yang tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia (Duham) maupun konvensi Ekosob meliputi hak-hak sebagai berikut (Allan McChesney, 2003):


  • Hak atas kondisi kerja yang adil dan aman;
  • Hak mencari dan memilih pekerjaan;
  • Hak membentuk, bergabung dan mengambil keputusan bersama dalam serikat buruh;
  • Hak atas jaminan sosial, antara lain bantuan pemerintah pada masa tua dan saat tidak adanya pekerjaan dan uang atau bantuan lainnya bagi orang yang membutuhkan bantuan agar dapat menjalani kehidupan yang bermartabat;
  • Bantuan dan perlindungan keluarga;
  • Hak perkawinan yang sejajar bagi pria dan wanita;
  • Standar kehidupan yang memadai bagi tiap orang, dengan terpenuhinya pakaian, perumahan dan makanan yang layak;
  • Standar tinggi pada kesehatan dan perawatan kesehatan untuk semua orang;
  • Pendidikan utama yang memuaskan bagi semua orang dan kesempatan yang lebih meningkat pada pendidikan lebih lanjut;
  • Hak berpartisipasi dalam kehidupan budaya komunitas; dan
  • Hak mendapat keuntugan dan kemajuan ilmiah.

Melibatkan Karyawan dalam Program CSR


Suatu penelitian menunjukkan, organisasi yang benar-benar melibatkan karyawannya dalam program CSR cenderung mampu:

  • Menarik SDM berkualitas yang mau bergabung dengan perusahaan yang bertanggung jawab; 
  • Mempertahankan SDM berkualitas sekaligus meningkatkan kesetiaann karyawan; tingkat keabsenan karyawan lebih rendah dengan meningkatkan tingkat engagement sesama karyawan; 
  • Berinovasi lebih untuk memperoleh keuntungan yang kompetitif dimana karyawan adalah sumber ide untuk keberlanjutan; 
  • Mampu menjaga reputasi sekaligus branding perusahaan, dalam hal ini karyawan merupakan touch point yangmencerminkan budaya perusahaan kepada konsumen, mitra bisnis, dan masyarakat.


Jika dikaitkan dengan CSR, setidaknya ada tujuh kunci penting yang perlu diperhatikan perusahaan untuk meningkatkan engagement karyawan melalui program CSR:

1. Dukungan top management


Agar program CSR benar-benar tertanam dalam suatu perusahaan, dukungan manajemen teratas sangat penting. Misalnya dengan membentuk struktur formal seperti divisi program CSR yang berfungsi untuk mengaktifkan sinergi antara manajemen teratas dengan tim penasihat.

2. Menciptakan kesepahaman tentang CSR


CSR bisa berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Kunci kesalahpahamannya adalah jika CSR diartikan sebatas tentang memberikan sedekah atau filantropi. Oleh karena itu, baik top management maupun manajer CSR harus benar-benar paham konsep seperti ISO 26000 yang merupakan pedoman kegiatan amal perusahaan agar semakin bertanggung jawab secara lingkungan, sosial dan secara etika. Hal ini akan membantu menciptakan kesepahaman tentang arti CSR bagi perusahaan.

3. Menyelaraskan CSR dengan HRR


Fungsi Human Resources (HR) bisa digabungkan sebagai sosok pendukung baik untuk CSR hingga ke seluruh organisasi. HR juga dapat diselaraskan dengan target perusahaan yang berkesinambungan dalam beberapa area, seperti menetapkan kode etik karyawan; perekrutan SDM; orientasi, pelatihan, dan pengembangan karyawan; menghubungkan kinerja berkelanjutan untuk penilaian; memperoleh feedback dari karyawan untuk mendapat inisiatif yang berkesinambungan; dan melakukan wawancara keluar untuk mengukur persepsi nilai CSR yang dilakukan perusahaan.

4. Komunikasi dan edukasi


Komunikasi dan edukasi tentang CSR adalah sebuah proses yang terus menerus bagi karyawan. Penting untuk melibatkan dan mengajak mereka ke level yang lebih lanjut, misalnya mulai dari yang tadinya tidak peduli terhadap pesan CSR, menjadi peduli, lalu pemahaman mereka jadi meningkat, lalu jadi percaya dan mau berkomitmen untuk beraksi.

5. Menciptakan green office


Saat perusahaan sudah lebih maju dalam hal operasional, pabrik, proses, dan sudah memiliki rantai pasokan secara eksternal, hal ini bisa berarti di luar perkiraan dan di luar dugaan bagi banyak karyawan. Sebuah kantor hijau adalah cara yang tepat untuk mendemonstrasikan praktik CSR di tiga area. Pertama, untuk konservasi sumber daya dalam mengurangi emisi karbon, misalnya dalam penggunaan energi, air, kertas, dan udara. Kedua, mendukung kebiasaan pribadi yang ditunjukkan karyawan dalam kehidupan pribadi mereka sehari-hari. Ketiga, mendesain ruang kantor dan menetapkan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas fisik, mental dan emosional karyawan.

6. Melakukan aksi amal


CSR sering disalahartikan sebagai filantrofi atau aksi amal. Sama pentingnya ketika strategi yang dibuat perusahaan akan masuk akal jika dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan intinya dapat tercapai. Perusahaan yang benar-benar mendukung aksi amal diyakini akan menciptakan engagement dan retensi karyawan yang lebih tinggi. Artinya, ada banyak manfaat ketika perusahaan benar-benar mendukung CSR.

7. stakeholder engagement


Karyawan adalah touchpoint penting bagi sejumlah stakeholder, baik interaksi dengan para investor, rantai pasokan, konsumen, LSM, komunitas, masyarakat (termasuk keluarga dan kerabat karyawan), media, dan lainnya. Budaya perusahaan yang berorientasi ke CSR akan sangat membantu terutama dalam merespon ketika krisis. Hal tersebut juga akan memudahkan perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif, khususnya ketika karyawan dibimbing untuk berkomunikasi dengan pelanggan, mitra bisnis, LSM, dan masyarakat. Selain itu, juga bisa memahami dimana letak kebutuhan stakeholder.

Artikel Permasalahan CSR di Tempat Kerja

Pencegahan terjadinya pelecehan seksual


Masalah lain di tempat kerja adalah seksual (sexual harassment), yang melibatkan komentar atau tindakan yang bersifat seksual tidak di terima. Perusahaan cenderung mencegah pelecehan seksual dengan memberikan seminar mengenai hal tersebut.  Misalnya, seorang karyawan mungkin akan membuat suatu paksaan seksual terhadap karyawan lain dan menggunakan kepuasaan pribadi dalam perusahaan untuk menakuti status pekerjaan lain.

Seperti, seminar deversitas. Seminar ini dapat menolong karyawan menyadari bagaimana suatu pernyataan atau perilaku mungkin dapat menyinggung perasaan karyawan lain. Seminar ini tidak hanya suatu tindakan tanggung jawab terhadap karyawan tetapi juga dapat memperbaiki produktivitas perusahaan dengan menolong karyawan merasa kerasan dan nyaman. Melalui program Community Volunteering, perusahaan mendukung serta mendorong para karyawan, para pemegang franchise atau rekan pedagang eceran untuk menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasi-organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.

Salah satu contoh Community Volunteering adalah sebagaimana program Astra Employee Volunteer, yaitu kegiatan CSR dengan melibatkan karyawan. Tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2010, 68 orang karyawan PT Astra International Tbk Head Office, melakukan bedah sekolah dan mengajar selama 1 hari kepada siswa dan siswi SD SMP Remaja Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Shell Oil Company, melibatkan ribuan karyawan, pensiunan dan keluarga setiap tahunnya untuk terlibat dalam kegiatan pembersihan pantai yang tercemar di area operasi Shell Oil Company.
Keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan melalui kegiatan Community Volunteering, adalah terciptanya hubungan yang tulus antara perusahaan dengan komunitas, memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan serta meningkatkan kepuasan dan motivasi karyawan.

Mengetahui Pasar CSR dan Artikel tentang Masalah Pasar CSR


Mengetahui Pasar CSR dan Artikel tentang Masalah Pasar CSR



Konsep mengenai CSR tidak akan ada habisnya dibahas oleh orang banyak. Kini berbagai pengertian dan model pengelolaan CSR mungcul setiap harinya, mencari bentuk kesempurnaan CSR yang sesungguhnya. Berbagai cara pula dilakukan untuk mempermudah pemetaan terhadap target maupun sasaran dari program CSR yang dilakukan.

Pemetaan Terhadap Target Sasaran Program CSR 


Berikut ini merupakan salah satunya adalah pemetaan yang dilakukan oleh Mallen Baker. Menurut Mallen Baker ke-empat hal tersebut adalah:

Workplace


Workplace atau segala hal yang terkait dengan lingkup lingkungan kerja menjadi hal yang amat krusial di dalam dunia CSR, khususnya karyawan. Porsi karyawan di dalam perusahaan, melingkupi hak dan kewajibannya perlu dikondisikan sedemikian rupa agar dapat mendukung operasi perusahaan tersebut. Suasana yang nyaman bagi karyawan tanpa menciptakan comfort zone tertentu merupakan hal yang cukup sulit untuk dilakukan, dan itulah tantangannya.

Marketplace


Disini lebih kurangnya fokus dilakukan kepada para pihak yang terkait secara langsung dengan bisnis perusahaan, seperti pelanggan dan mitra/vendor. Di dalamnya juga terdapat banyak kebijakan perusahaan yang perlu dikomunikasikan dengan baik kepada para pihak eksternal tersebut, sebut saja misalnya transparency di dalam melakukan bidding.Pilar marketplace ini juga memiliki fokus yang sangat berkaitan dengan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan

Community


Begitu banyak hal yang dapat dilakukan kepada masyarakat di tempat kita berada. Masalah kesehatan, pendidikan, dan berbagai isu sosial lainnya. Hal ini sebenarnya perlu dilakukan di dalam rangka memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Isu-isu di dalam pilar community diantaranya: seberapa besar peran perusahaan di dalam membina pemuda-pemuda pengangguran, peningkatan tingkat pendidikan, peningkatan kesehatan, dan lain sebagainya.

Environment


Merupakan pilar terakhir yang mendapat sangat banyak sorotan di dalam 10 tahun terakhir ini. Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi bumi yang semakin lama semakin memprihatinkan. kontribusi terhadap perusakan lingkungan. Buntut dari hal ini pun membuat dunia industri international mengangkat bumi sebagai stakeholder yang baru dari bisnis perusahaan.

Artikel tentang Permasalahan CSR


PT Telekomunikasi Indonesia melakukan kegiatan CSR-nya dengan memberikan kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dengan memberikan pinjaman modal usaha dan melakukan pelatihan& pendampingan wirausaha. Program pemberdayaan masyarakat ini direalisasikan dengan program Kemitraan.

Terkait dengan tujuan CSR hanya sebagai bentuk pencitraan semata, maka PT Telekomunikasi Indonesia, khususnya PT Telkom Kedatel Malang tidak ingin hanya membuang biaya percuma tanpa benar-benar memberikan bantuan pada masyarakat. PT.Telkom Kedatel Malang ingin memberikan kontribusi maksimal kepada masyarakat dengan tujuan awal yaitu meningkatkan potensi perekonomian masyarakat.

Perusahaan tidak hanya dengan menjalankan CSR yang hanya bersifat sementara dan tidak memberikan solusi pada akar permasalahan, yaitu perekonomian masyarakat yang semakin terpuruk.Salah satu faktor keterpurukan perekonomian dinegara indonesia adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang rendah. Permasalahan tersebut semakin rumit saat didukung permasalahan seperti sumber daya manusia yang tidak memiliki pendidikan formal, tidak memiliki keterampilan, keterbatasan modal usaha yang dimiliki oleh pengusaha kecil tetapi mempunyai potensi usaha yang bagus dan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah.

Public relations mengimplementasikan program kemitraan dengan membentuk manajemen dengan empat tahap yaitu :


  1. Langkah awal yang harus dilakukan adalah tahap riset.
  2. Setelah melakukan tahap riset.
  3. Perencanaan dan pemograman.
  4. Aksi dan Komunikasi,

Evaluasi


Evaluasi mencakup 3 hal yaitu:


  • Melakukan analisis mengenai berlangsungnya kegiatan secara periodik apakah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan atau tidak.
  • Mengidentifikasi kekuatan, kelemahan dan relevansi program terhadap kondisi masyarakat pada saat dan setelah berlangsungnya program
  • Menganalisis hasil-hasil yang dicapai untuk digunakan dalam perencanaan, strategi dan penyusunan kebijakan untuk program selanjutnya


Ketiga tahap evaluasi dilalui maka akan terlihat keberhasilan program kemitraan yang telah dilakukan. Dalam melakukan program kemitraan pasti ada beberapa faktor penghambat. Faktor-faktor penghambat ini dapat berasal dari mitra binaan dan juga berasal dari PT.Telkom kedatel malang.

Faktor-faktor Penghambat:



  • Mitra binaan yang kurang disiplin dalam membayar angsuran biaya
  • Kurangnya keinginan dan kemauan belajar mitra binaan untuk mempunyai usaha yang lebih maju dan berkembang
  • Tingkat pengetahuan mitra binaan mengenai program kemitraan
  • Pergantian direksi yang baru.

Kasus tentang Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis dari Pertumbuhan Pendapatannya

Kasus Pelanggaran Sosial



Kasus tentang Tanggung Jawab Sosial dari Bisnis dari Pertumbuhan Pendapatannya



PT. Djarum


Contoh pertama adalah tanggung jawab sosial seperti yang dilakukan oleh salah satu perusahaan rokok di Indonesia, PT. Djarum yaitu mendirikan sebuah foundation yang menangani masalah pendidikan, olahraga, dsb, yaitu Djarum Foundation. Ini adalah contoh nyata dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) terhadap masyarakat. Hal-hal ini dilakukan perusahaan sebenarnya juga untuk keuntungan jangka panjang dari perusahaan itu sendiri. Seperti perusahaan akan lebih dikenal oleh masyarakat sekitar karena mereka memperkerjakan masyarakat sekitar, dikenal karena perusahaan tersebut ramah lingkungan, dan juga dikenal karena memberi sumbangsih kepada masyarakat.

Analisa kasus:


Dari contoh kasus diatas merupakan bentuk kepedulian dari Perusahaan tersebut terhadap kepedulian sosial yaitu mendirikan yayasan pendidikan,olahraga dan sebagainya dengan nama Djarum Foundation.

Hal ini akan bersifat mutualisme atau saling menguntungkan karena masyarakat sebagai pihak yang diberikan fasilitas oleh perusahaan tentu dapat memanfaatkannya dengan baik sehingga dapat meningkatkan perekonomian baik dalam bidang olahraga ataupun pendidikan sedangkan dipihak perusahaan dengan berdirinya perusahaan tersebutmaka akan semakin mengenalkan nama perusahaan tersebut dan dinilai baik olehmasyarakat.

PT. Inalum


Sebagai satu-satunya Pabrik Peleburan aluminium di Indonesia yang telah dioperasikan selama 3 dekade ini, tepat sekali jika secara sosial PT. INALUM mempertimbangkan untuk berperan serta untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat sekitar Perusahaan, sebab Perusahaan menyadari bahwa kelancaran pembangunan dan keberhasilan operasi tidak dapat dipisahkan dari semua pemangku amanah. Keberhasilan Perusahaan dan kemandirian masyarakat sekitar diharapkan dapat tercipta dan tumbuh bersama-sama. Disamping itu, kesejahteraan sosial dan perkembangan ekonomi regional merupakan fasilitas bagi Perusahaan untuk mencapai misi, visi dan nilai-nilainya.

Oleh karena itu, sejak awal berdiri, kebijakan tanggung jawab social kepada pemangku amanah masih mendapat perhatian dan dukungan dari perusahaan. Untuk memajukan olah raga di Sumatera Utara dan khususnya disekitar PT Inalum, Perusahaan mengadakan kegiatan-kegiatan olah raga seperti Turnamen Sepak Bola, Turnamen Bola Volley, dan lain sebagainya. PT Inalum juga aktif menjadi sponsor dalam kegiatan Arung Jeram di Sungai Asahan, Lomba mendayung di Danau Toba, Karate, dan lain sebagainya.Perusahaan juga berupaya untuk melestarikan budaya bangsa. Hal ini dilakukan melalui Festival budaya yang dilakukan setiap tahunnya. Perusahaan mengadakan Lomba Tari dan Pantun, dan pertunjukan budaya lainnya.

Bidang Agama


Dalam bidang Agama, Perusahaan tidak hanya membantu memperbaiki masjid dan gereja, namun juga fasilitas pendukung kedua rumah ibadah tersebut. Selain itu, Perusahaan juga melakukan kegiatan lain seperti safari Ramadhan, bantuan Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Paskah, dan bentuk kegiatan lainnya.

Fasilitas Umum


Fasilitas umum yang telah dibangun PT Inalum yang paling nyata dansangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar adalah Access

PT. PLN (Persero)


Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Community Relation (pemangku kepengtingan, stakeholder)

Kegiatan ini menyangkut pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait. Beberapa kegiatan yang dilakukan PLN antara lain: melaksanakan sosialisasi instalasi listrik, contohnya melalui penerangan kepada pelajar SMA di Jawa Barat tentang SUTT/SUTET, dan melaksanakan sosialisasi bahaya layang-layang di daerah Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur

Community Services (Masyarakat Umum)


Program bantuan dalam kegiatan ini berkaitan dengan pelayanan masyarakat atau kepentingan umum. Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2011, antara lain memberikan :


  • Bantuan bencana alam
  • Bantuan peningkatan kesehatan di sekitar instalasi PLN, antara lain di Kelurahan Asemrowo, Surabaya yang berada di sekitar SUTT 150kV Sawahan-Waru
  • Bantuan sarana umum pemasangan turap untuk warga pedesaan di Kecamatan Rumpin-Kabupaten Bogor, Jawa Barat serta bantuan pengaspalan jalan umum di Bogor-Buleleng, Bali.
  • Bantuan perbaikan sarana ibadah
  • Operasi katarak gratis di Aceh, Pekanbaru, Jawa Barat, dan kota lainnya di Indonesia
  • Bantuan sarana air bersih


Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR Terhadap Pelanggan Perlindungan Terhadap Pelanggan


Dalam kondisi keterbatasan keuangan, PT PLN (Persero) tetap berupaya memberikan perlindungan terhadap Pelanggan dengan melaksanakan prioritas layanan kepada masyarakat. PT PLN (Persero) selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan listrik calon pelanggan mulai dari kelas rumah tangga, usaha atau bisnis,industri dan umum.

Peningkatan kualitas layanan yang dimaksud, antara lain:


  • Peningkatan mutu produk berupa keandalan pasokan listrik, tegangan dan frekuensi listrik sesuai dengan standar yang ditetapkan termasuk kecukupan pasokan listrik
  • Peningkatan akurasi pencatatan meter pemakaian listrik kWh, kVARh
  • Peningkatan mutu layanan di mana seluruh jajaran karyawan PT. PLN (Persero) memperlakukan pelanggan sebagai mitra bisnis.


Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) Terhadap Usaha Kecil Bina Lingkungan


Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil disebut PK adalah Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri. Adapun dana PK bersumber dari:

  • Penyisihan laba setelah pajak sebesar 1% sampai dengan 3%
  • Hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dari dana program kemitraan setelah dikurangi beban operasional.
  • Pelimpahan dana program kemitraan dari BUMN lain, jika ada.


Program Kemitraan merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). dari PT PLN (Persero) terhadap Mitra Binaan/Masyarakat berupa penyediaan tenaga listrik di area sekitar kegiatan Perusahaan serta mempunyai obyek Mitra Binaan yaitu Usaha Mikro Kecil dan Koperasi (UKM).

Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) Terhadap Lingkungan Hidup


Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya PT PLN (Persero) selalu berusaha untuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Program kegiatan yang telah dan sedang dilaksanakan PLN di bidang lingkungan hidup, antara lain:

  • Melaksanakan kebijakan umum perusahaan bidang lingkungan hidup
  • Mengikuti program peduli lingkungan global/pelaksanaan Clean Development Mechanism (CDM)
  • Melaksanakan pendidikan dan pelatihan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.


PT. ADHI Construction


Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau yang lebih dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) bagi ADHI merupakan tuntutan para pemangku kepentingan (baik pemegang saham, karyawan, pemasok, partner, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, masyarakat secara luas maupun lingkungan alam).


ADHI senantiasa menyelaraskan pertumbuhan perusahaan (business) dengan kepedulian terhadap masyarakat (social) dan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan alam (environment). Di lingkup bisnis, ADHI menerapkan perlindungan hak-hak konsumen dengan menerapkan Kebijakan Mutu dan Pemeliharaan Lingkungan. ADHI juga membentuk Pusat Pengaduan Konsumen yang menjadi media untuk membahas masalah-masalah yang muncul di lapangan.

Kepada para konsumen dan pelanggan, pada tahun 2007, ADHI telah melakukan survey tingkat kepuasan pelanggan atas jasa yang diberikan ADHI. Hasil survey lembaga independen tersebut menyatakan, 84% responden puas dengan jasa dan layanan yang diberikan ADHI.

Sebagai BUMN, ADHI dituntun oleh Program Kemitraan untuk membantu pengembangan ekonomi skala kecil dan mikro, serta Program Bina Lingkungan untuk membantu pengembangan masyarakat. Pendanaan Program Kemitraan diperoleh dari penyisihan laba bersih maksimal 2% per tahun. Untuk tahun 2007, ADHI telah menyalurkan Rp 2,272 milyar untuk mendanai usaha mikro dan kecil dengan bunga lunak. Naik 100% dibanding alokasi tahun 2006 yang sebesar Rp 1,100 miliar. Sebaran bantuan dana Rp 2,272 miliar itu dilakukan di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Tengah serta Jawa Timur.

Program Bina Lingkungan ADHI untuk tahun 2007 dialokasikan sebesar Rp 204,750 juta. Memang masih kecil. Namun setidaknya ketulusan ADHI telah menyentuh hati sebagian masyarakat kecil di beberapa provinsi terutama untuk membantu pendidikan. ADHI juga membantu penderitaan korban bencana alam di Balikpapan, Jakarta, Kudus, dan Bojonegoro.

Keuntungan bagi PT. ADHI masyarakat memandang PT. ADHI baik, peduli, dan bisa menjadi strategi ,yaitu WOM (Word OF Mouth)

Materi CSR : Aspek Moral Dan Teori Stakeholder, Relevansi Stakeholder

Aspek Moral Dan Teori Stakeholder, Relevansi Stakeholder


Pengertian Aspek Moral

Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata moral yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata etika, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat.


Dengan kata lain, kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin.

Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.


Moral dapat didefinisikan juga sebagai adalah hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Moral (bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyabut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.


Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama.

Teori Stakeholder


Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan.

Individu, kelompok, maupun komunitas dan masyarakat dapat dikatakan sebagai stakeholder jika memiliki karakteristik seperti yang diungkapkan oleh Budimanta dkk, 2008 yaitu mempunyai:

  • Kekuasaan,
  • Legitimasi,
  • Kepentingan terhadap perusahaan.

Pembagian Stakeholders



Kasali dalam Wibisono (2007, hal. 90) membagi stakeholders menjadi sebagai berikut:

1. Stakeholders Internal dan stakeholders eksternal


Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada di dalam lingkungan organisasi. Misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder). Sedangkan stakeholders eksternal adalah stakeholders yang berada di luar lingkungan organisasi, seperti penyalur atau pemasok, konsumen atau pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers, kelompok social responsible investor, licensing partner dan lain-lain.

2. Stakeholders primer, sekunder dan marjinal


Tidak semua elemen dalam stakeholders perlu diperhatikan. Perusahaan perlu menyusun skala prioritas. Stakeholders yang paling penting disebut stakeholders primer, stakeholders yang kurang penting disebut stakeholders sekunder dan yang biasa diabaikan disebut stakeholders marjinal. Urutan prioritas ini berbeda bagi setiap perusahaan meskipun produk atau jasanya sama. Urutan ini juga bisa berubah dari waktu ke waktu.

3. Stakeholders tradisional dan stakeholders masa depan


Karyawan dan konsumen dapat disebut sebagai stakeholders tradisional, karena saat ini sudah berhubungan dengan organisasi. Sedangkan stakeholders masa depan adalah stakeholders pada masa yang akan datang diperkirakan akan memberikan pengaruhnya pada organisasi seperti mahasiswa, peneliti dan konsumen potensial.

4. Proponents, opponents, dan uncommitted


Diantara stakeholders ada kelompok yang memihak organisasi (proponents), menentang organisasi (opponents) dan ada yang tidak peduli atau abai (uncommitted). Organisasi perlu mengenal stakeholders yang berbeda-beda ini agar dapat melihat permasalahan, menyusun rencana dan strategi untuk melakukan tindakan yang proposional.

5. Silent majority dan vokal minority


Dilihat dari aktivitas stakeholders dalam melakukan komplain atau mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan pertentangan atau dukungannya secara vokal (aktif) namun ada pula yang menyatakan secara silent (pasif).


Menurut Hill (1996, hal 129), Stakeholders dalam pelayanan sosial meliputi negara, sektor pivat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat, dalam kasus program CSR keseluruhan entitas tersebut terlibat secara bersama-sama. Sementara mereka memiliki kepentingan berbeda-beda yang satu dengan yang lain bisa saling bersebrangan dan sangat mungkin merugikan pihak yang lain.


Stakeholder theory dimulai dengan asumsi bahwa nilai (value) secara eksplisit dan tak dipungkiri merupakan bagian dari kegiatan usaha.

Teori stakeholder adalah kumpulan konsep yang berkaitan dengan cara-cara yang digunakan perusahaan untuk memanage stakeholdernya.

Cara-cara yang dilakukan perusahaan untuk memanage stakeholdernya tergantung pada strategi yang diadopsi perusahaan

Strategi Pengelolaan Stakeholder


Terdapat 2 macam strategi pengelolaan stake holder, yaitu

Strategi Aktif


Strategi Aktif apabila perusahaan berusaha mempengaruhi hubungan organisasinya dengan stakeholder yang dipandang berpengaruh atau penting

Strategi pasif


Strategi Pasif jika perusahaan cenderung tidak terus menerus memonitor aktivitas stakeholder dan secara sengaja tidak mencari strategi optimal untuk menarik perhatian stakeholder

Perkembangan teori stakeholder


Perkembangan teori stakeholder diawali dengan berubahnya bentuk pendekatan perusahaan dalam melakukan aktifitas usaha. Ada dua bentuk dalam pendekatan stakehoder menurut Budimanta dkk, 2008 yaitu;

Old corporate Relation Approach


Pendekatan ini menekankan pada bentuk pelaksanaan aktifitas perusahaan secara terpisah dimana setiap fungsi dalam sebuah perusahaan melakukan pekerjaannya tanpa adanya kesatuan diantara fungsi-fungsi tersebut

Hubungan antara bagian tanpa koordinasi. Bagian produksi hanya berkutat bagaimana memproduksi barang sesuai dengan target, dan bagian pemasaran hanya bekerja berkaitan dg konsumenya tanpa mengadakan koordinasi satu dengan yang lainya.

Hubungan antara pemimpin dengan karyawan dan pemasok pun berjalan satu arah.

Hubungan dengan pihak di luar perusahaan bersifat jangka pendek dan hanya sebatas hubungan transaksional saja tanpa ada kerjasama untuk menciptakan kebermanfaatan bersama.

New corporate relation approach


Pendekatan new-corporate relation menekankan kolaborasi antara perusahaan dengan seluruh stakeholdernya. Hubungan perusahaan dengan internal stakeholders dibangun berdasarkan konsep kebermanfaatan yang membangun kerjasama untuk bisa menciptakan kesinambungan usaha perusahaan. Hubungan dengan stakeholder di luar perusahaan bukan hanya bersifat transaksional dan jangka pendek namun lebih kepada hubungan yang bersifat fungsional yang bertumpu pada kemitraan.

Perusahaan tidak lagi menempatkan dirinya diposisis paling atas sehingga perusahaa mengeksklusifkan dirinya dari para stakeholder. Arah dan tujuan pola hubungan selain untuk menghimpun keuntungan juga berusaha untuk bersama-sama membangun kualitas kehidupan external stakholders. Perkembangan teori stakeholder membawa perusahaan terhadap indicator kesuksesan perusahaan. Hal I tercermin dengan munculnya paradigm triple bottom line (TBL)

TBL adalah konsep pengukuran kinerja perusahaan secara holistic dengan memasukkan tiga ukuran kinerja sekaligus:

  • Economic berupa perolehan profit
  • Environmental berupa pelestarian lingkungan
  • Social berupa kepedulian social


Jadi perusahaan tidak hanya menjadi economic animal, tapi juga socially and environmentally responsible.

Relevansi stakeholder


Menurut Utama (2010), bahwa tanggung sosial jawab perusahaan tidak hanya terhadap pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi juga terhadap para stakeholders yang terkait dan/atau terkena dampak dari keberadaan perusahaan. Dalam menetapkan dan menjalankan strategi bisnisnya, perusahaan yang menjalankan CSR akan memperhatikan dampaknya terhadap kondisi sosial dan lingkungan, dan berupaya agar memberikan dampak positif.

Utama (2010) menyatakan bahwa pemerintah beserta segenap jajarannya perlu memahami konteks CSR, karena ada keterpaduan dengan program pemerintah. Bukan tidak mungkin bila pemahaman terhadap konsep ini tidak sejajar, maka kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak akan pernah sejalan dengan kebijakan dunia usaha.

Perlunya pemerintah duduk bersama dengan pelaku usaha, untuk mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan masyarakat secara bersama, memberikan gambaran rencana kerja pemerintah yang terkait dengan kepentingan publik. Dengan demikian ada komunikasi dua arah, sehingga kemungkinan adanya kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan menjadi terbuka semakin lebar, sehingga tidak terjadi overlapping program antara pemerintah dan perusahaan.