Jurnal Kewarganegaraan Mewujudkan Kekompakan Dalam Integrasi Nasional Melalui Pendidikan Karakter

Daftar Isi Konten [Tampil]
JURNAL KEWARGANEGARAAN MEWUJUDKAN KEKOMPAKAN DALAM INTEGRASI NASIONAL MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh : Muhammad Arif

Integrasi Nasional melalui pendidikan karakter

A. LATAR BELAKANG


Integrasi nasional berasal dari dua kata yaitu integrasi dan nasional dimana integrasi berasal dari bahasa inggris yaitu integrate yang artinya menyatupadukan, menggabungkan, mempersatukan sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia integrasi artinya pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Dan nasional berasal dari bahasa inggris yaitu nation yang artinya bangsa. Jadi integrasi nasional adalah menyatukan berbagi perbedaan sehingga terjadi persatuan dalam suatu bangsa.

Menurut Suroyo (Kemristekdikti, 2016: 60) integrasi nasional mencerminkan proses penyatuan orang-orang dari berbagai wilayah yang berbeda, atau memiliki perbedaan baik etnisitas, sosial budaya, atau latar belakang ekonomi menjadi satu bangsa terutama karena pengalaman sejarah dan politik yang relatif sama.

Irianto (2013: 4) berpendapat bahwa integrasi nasional sebagai suatu kesadaran dan bentuk pergaulan yang menyebabkan berbagai kelompok dengan identitas masing-masing merasa dirinya sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat yang majemuk artinya indonesia terdiri dari masyarakat yang tebagi dalam kelompok persatuan yang memiliki budaya yang bebeda – beda, seperti pendapat dari (Nasikun, 2004 : 34) bangsa indonesia merupakan bangsa yang majemuk baik dari secara etnis, budaya, dan agama.

Tetapi kemajemukan tersebut dapat dijadikan modal dalam mewujudkan integasi bangsa seperti menurut pendapat (Aman, 2014: 24), berpendapat bahwa kemajemukan bangsa Indonesia merupakan modal yang potensial untuk memupuk persatuan dan kesatuan dalam rangka memperkokoh integrasi dan kepribadian bangsa yang dilandasi oleh nilainilai kebangsaan dan moral yang kokoh, tetapi jika modal besar itu tidak disikapi positif maka akan muncul dampak yang destruktif.

Selain adanya kemajemukan tersebut yang dapat menjadi modal dalam integrasi nasional, sikap dan karakter adalah yang menjadi pondasi dalam mewujudkan integrasi nasional, tentunya sikap dan karakter tersebut adalah sikap dan karakter yang positif seperti pendapat Nawawi mengenai sikap yang positif (Nawawi, 2000: 33), mengemukakan bentuk sikap sosial yang positif seseorang yaitu berupa tenggang rasa, kerjasama, dan solidaritas.

Tentunya di dalam sikap – sikap yang dikemukakan oleh Nawawi tersebut perlu didukung dengan adanya kekompakan dan kerukunan, jika semua tidak dapat kompak tentu saja integrasi nasional akan sulit kita capai.

Seperti yang dikemukakan oleh Suseno (Suseno, 2001:19), bahwa mudah tidaknya terbentuk integrasi tergantung dari apa yang disebut dengan rukun yang artinya dalam keadaan selaras, tenang, dan tenteram tanpa ada perselisihan, pertentangan, bersatu, dan saling membantu.
Dalam mewujudkan integrasi nasional sikap dan karakter dari individu maupun kelompok sangat mempengaruhi, oleh sebab itu pendidikan karakter saat ini di Indonesia harus ditingkatkan agar dapat melahirkan penerus bangsa yang memiliki sikap dan karakter yang baik.

B. RUMUSAN MASALAH


  1. Bagaimana mewujudkan kekompakan dalam integrasi mewujudkan integrasi nasional
  2. Perlunya pendidikan karakter dalam mewujudkan integrasi nasional 

C. PEMBAHASAN


1. Mewujudkan Kekompakan dalam Integrasi nasional


a. Faktor – faktor pembentuk integrasi nasional


  • Adanya rasa senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor sejarah.
  • Adanya ideologi nasional yang tercermin dalam simbol negara yaitu garuda pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
  • Adanya tekad serta keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia seperti dinyatakan dalam Sumpah pemuda.
  • Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan munculnya semangat nasionalisme di kalangan bangsa indonesia.
  • Penggunaan Bahasa Indonesia.
  • Adanya kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama yaitu Pancasila.
  • Adanya jiwa dan semangat gotong royong, solidaritas dan toleransi keagamaan yang kuat.
  • Adanya rasa senasib sepenanggungan akibat penderitaan penjajahan.
  • Adanya rasa cinta tanah air dan mencintai produk dalam negeri.

b. Faktor – fatktor penghambat integrasi nasional


  • Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang bersifat heterogen
  • Kurangnya toleransi antar golongan
  • Kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia terhadap ancaman dan gangguan dari luar
  • Adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan dan ketidakmerataan hasil – hasil pembangunan

c. Hubungan kekompakan dalam integrasi nasional


Integrasi nasional merupakan salah satu cara untuk menyatukan berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia. Berdasarkan faktor-faktor diatas diperlukan kekompakan untuk mewujudkan integrasi nasional yang baik.

Semua faktor – faktor pendukung di atas tidak ada yang tidak memerlukan kekompakan seperti faktor adanya jiwa dan semangat gotong royong, solidaritas dan toleransi keagamaan yang kuat didalam faktor tersebut diperlukan kekompakan karena jika dalam kehidupan ini tidak ada kekompakan dalam toleransi keagamaan sedangkan agama adalah hal yang sangat sensitif, jika ada satu individu yang tidak menghargai kelompok yang lain maka individu tersebut dapat menimbulkan pepecahan diantara kelompok tersebut, maka dari itu betapa pentingnya kekompakan dalam menyatukan indonesia.

Dalam membangun kekompakan diperlukan kesadaran tidak hanya suatu kelompok tetapi juga masing individu - individu di dalamnya, cara yang paling tepat dalam membangun kekompakan adalah dengan menjaga kerukunan antar kelompok, sadar bahwa kedudukan semua kelompok, suku, agama budaya dan lain – lain memiliki kedudukan yang sama tidak ada yang lebih baik maupun lebih buruk, dan yang terakhir adalah sadar walaupun berbeda kelompok, golongan, agama, suku, adat dan budaya kita tetap dalam satu wadah yaitu Negara Kesatuan Republik

Indonesia yang mana jika tidak adanya kekompakan tersebut Indonesia akan mudah tercerai berai bahkan diadu domba oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab tetapi jika kekompokan tersebut ada Indonesia akan menjadi lebih kuat dan lebih maju

2. Perlunya pendidikan karakter dalam mewujudkan integrasi nasional


Karakter adalah bentuk watak , tabiat, akhlak yang melekat pada pribadi seseorang yang digunakan sebagai landasan untuk berpikir dan berperilaku sehingga menimbulkan suatu ciri khas pada individu terserbut.

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Poerwanto dengan judul asimilasi, akulturasi, dan integrasi nasional yang menunjukan adanya hubungan antara aspek sikap sosial dengan integrasi nasional.

Penelitian ini menjelaskan bahwa aspek asimilasi merupakan wujud dari terciptanya integrasi nasional, aspek asimilasi meliputi tidak timbulnya prasangka buruk, tidak adanya konfik kekuasaan dan nilai, tidak diskriminasi, dan penyesuaian mayoritas dan minoritas.

Aspek asimilasi ini identik dengan sikap sosial, artinya dalam penelitian ini integrasi nasional dapat terbentuk dengan adanya sikap sosial yang positif seperti kerjasama, tenggang rasa dan solidaritas.

Berdasarkan jurnal yang ditulis Poerwanto tersebut hubungan dari sikap atau karakter individu sangat lah penting terhadap integrasi nasional. Tidak hanya penting sikap atau karakter individu lah yang menjadi pondasi dalam mewujudkan integrasi.oleh karena itu pendidikan karakter harus dilakukan dengan baik kepada masyarakat Indonesia terutama kepada anak – anak dan pemuda – pemudi sebagai generasi penerus bangsa.

Cara – cara dalam melakukan pendidikan karakter


a. Keteladanan


Keteladanan ini maksudnya yaitu bagaiman kita memberikan conto tindakan – tindakan atau perilaku yang baik kepada anak – anak. Keteladanan ini akan menjadi sangat efektif apabila semua kalangan seperti keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah kompak dalam memberikan contoh yang baik terhadap anak.

Karena ketika anak – anak terbiasa melihat sesuatu yang baik mereka akan ikut mencontoh hal itu. Dan janganlah mengajarinya untuk berbuat tidak baik walaupun itu dalam konteks bercanda, karena ketika bercanda yang tidak baik dilakukan itu akan membuat anak menganggap tidak apa – apa terhadap perbuatan itu.

b. Pembiasaan


Pembiasaan ini adalah bagaimana cara kita dalam membiasakan anak – anak melakukakan hal – hal yang baik. Ketika mereka sudah terbiasa dalam melakukan kebaikan, maka selanjutnya mereka akan berbuat baik dengan senang hati tanpa harus diberitahu. Dan selanjutnya anak – anak akan menganggap hal – hal yang bertentangan dengan perbuatan baik tersebut menjadi aneh dan tidak mau melakukan hal tersebut.

Seperti pendapat dari Edy Waluyo bahwa pendidikan karakter terhadap anak hendaknya menjadikan mereka terbiasa untuk berperilaku baik, sehingga ketika seorang anak tidak melakukan kebiasaan baik itu, yang bersangkutan akan merasa bersalah. Dengan demikian kebiasaan baik sudah menjadi semacam instink, yang secara otomatis akan membuat seorang anak merasa kurang nyaman bila tidak melakukan kebiasaan baik itu.

c. Pengajaran


Pengajaran dalam hal ini adalah memberikan pengetahuan kenapa kita harus berbuat baik dan tidak boleh melakukan perbuatan yang buruk, ketika anak-anak mengetahui mengapa boleh dan tidak boleh melakukan sesuatu, selain mereka paham mereka juga dapat memberi tahu teman – temanya yang kurang mengerti kenapa hal tersebut boleh atau tidak boleh dilakukan.

Dalam melakukan pendidikan karakter banyak orang – orang menyalahkan tayangan televisi, lingkungan, teman – teman. Memang hal tesebut tidak salah tetapi menyalahkan hal – hal yang memang sulit dihindari adalah hal yang kurang tepat, selama mereka mengerti mana yang benar mana yang salah itu sudah bukan masalah lagi yang menjadi masalah adalah apakah mereka mau atau tidak.

Ketika mereka melakukan kesalahan justru itu adalah peluang untuk memberikan pembelajaran, ketika mereka melakukan kesalahan janganlah bersifat seakan akan mau menghakimi tetapi dekatilah dan beritahu tapi tidak menggunakan kata – kata larangan, tetapi dengan dampak apa saja yang akan terjadi ketika mereka melakukan hal itu.maka dari itu sebaiknya dalam melakukan pendidikan karakter ditanamkan sejak dini agar dapat menjadi suatu kebiasaan yang dapat membangun karakter yang baik.

D. PENUTUP


KESIMPULAN


integrasi nasional adalah menyatukan berbagi perbedaan sehingga terjadi persatuan dalam suatu bangsa. Dalam mewujudkan integrasi nasional yang baik sangat diperlukan adanya kekompakkan masing – masing individu maupun kelompok, selain itu pendidikan karakter juga sangat penting dalam membantu mewujudkan integrasi nasional oleh karena itu pendidikan karakter harus dilakukan dengan baik dan tepat agar dapat membangun sebuah karakter yang baik dan berbudi luhur.


SARAN


Bagi para pembaca penulis berpesan agar kita sadar pentingnya integrasi nasioanal maka dari itu mulai untuk introspeksi diri dalam menyikapi segala hal, mulai merasa rendah diri, mulai menanamkan rasa cinta tanah air, menjaga kerukunan terhadap sesama , dan mulai tanamkan sikap pemaaf dalam hati

DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Nur Rohim, Nunuk Suryani., Musa Pelu “Sikap Integrasi Nasional Ditinjau Dari Pemahaman Nilainilai Sejarah Dan Sikap Sosial Siswa” Vol 15, No 1, 110-123 diperoleh pada 21 Maret 2020 http://jurnal.fkip.uns.ac.id

Nasikun. 2004. Sistem Sosial di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nawawi, Hadori. 2000. Intereksi Sosial. Jakarta : Gunung Agung.

Kompas.com ,“Integrasi Nasional: Pengertian, faktor pembentuk dan penghambat” https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/05/153317369/integrasi-nasional-pengertian-faktor-pembentuk-dan-penghambat?page=all#page2 diakses pada 21 Maret 2020

Redaksion, “ Integrasi Nasional dan Karalter Bangsa” http://alfitriadizurian69.blogspot.com/2017/06/integrasi-nasional-dan-karakter-bangsa.html?m=1 diakses pada 21 Maret 2020

Irianto, Agus Maladi. (2013). Integrasi Nasional Sebagai Penangkal Etnosentrime di Indonesia.

Jurnal Humaniora, 2 (18), 1-9. Diperoleh pada 25 februari, dari  ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/5937
Aman. (2014).

Aktualisasi Nilai-Nilai Kesadaran Sejarah dan Nasionalisme dalam
Pembelajaran Sejarah di SMA. Jurnal Pendidikan Karakter, 4 (1) ,23-34.

Diperoleh pada 21 Maret 2020 , http://journal. Uny.ac.id/index.php/jpka/article.

Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan. 2016. Buku Ajar Mata Kuliah
Wajib Umum: Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Kementrian Riset
Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Tuahunse, Trisnowaty. (2009, Mei). Hubungan antara Pemahaman Sejarah Pergerakan
Nasional Indonesia dengan Sikap terhadap Bela Negara.

Jurnal Kependidikan, 39
(2), 22-34. Diperoleh pada 21 Maet 2020, dari http:// journal.uny.ac.id


1 komentar

  1. Judul seperti ini :
    JURNAL KEWARGANEGARAAN MEWUJUDKAN KEKOMPAKAN DALAM INTEGRASI NASIONAL MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

    Bagi saya menarik banget.
    Penekanan pada 3 cara melakukan pendidikan karakter tepat sasaran.
    Di awali dengan memberi contoh, pembiasaan akan menciptakan perilaku menetap.
    Lantas dilengkapi pengetahuan akan menyempurnakan kekompakan sebagai warga negara.

    Sekali lagi penekanannya tentu pada perilaku..

    Ya perilaku yang mencerminkan karakter kita sebagai bangsa yg besar.
    Tulisan yg bagus,sumber rujukan yg dipakai juga the best.

    Danke banyak...

    BalasHapus

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus
EmoticonEmoticon