Jurnal Kewarganegaraan Tentang Bhinnekha Tunggal Ika Pemersatu Kehidupan Dan Memperkokoh Bangsa

Daftar Isi Konten [Tampil]
JURNAL KEWARGANEGARAAN : BHINNEKHA TUNGGAL IKA PEMERSATU KEHIDUPAN DAN MEMPERKOKOH BANGSA
Rifki Kuntoro Aldi
Program Studi Manajemen Informatika, Politeknik Indonusa Surakarta
arifkikuntoroaldi@gmail.com

Abstract : Berbagai Tingkat keragaman budaya dan suku bangsa Indonesia merupakan sumbu yang mudah tersulut oleh berbagai macam problematika SARA sehingga dapat memecah belah kehidupan bangsa dan juga melemahkan bangsa Indonesia baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, butuh sebuah penelaan konfrehensif berkaitan dengan ciri kebhinekaan dari bagsa Indonesia. Suatu kajian tentang keanekaragaman budaya bukan hanya memberikan gambaran komprehensif saja, akan tetapi juga lebih dari itu, dapat menumbuhkan dialog persepsi kerukunan antar suku ditengah kehidupan berbangsa. Beranekaragam kebudayaan adalah pemberian dari Tuhan, akan tetapi Bhineka Tunggal Ika adalah titipan dari pejuang banga indonesia yang harus kita jaga dan juga lestarikan. Tidak melakukan tindakan sara dan tolenrasi terhadap sesama adalah salah satu dari berbagai banyak cara untuk mengimplementasikan Bhinnekha Tunggal Ika.

Keywords : Bhinneka Tunggal Ika, multicultural, Pemersatu, Memperkokoh

Abstract : Various levels of cultural diversity and ethnicity of Indonesia is an axis that is easily ignited by various kinds of SARA problems so as to divide the life of the nation and also weaken the Indonesian nation both internally and externally. Therefore, a comprehensive assessment is needed related to the diversity of Indonesian characteristics. A study of cultural diversity not only provides a comprehensive picture, but also more than that, can foster dialogue of perceptions of harmony among tribes in the life of the nation. Diverse cultures are gifts from God, but Bhineka Tunggal Ika is a deposit from Indonesian warriors that we must protect and preserve. Not doing acts of sara and tolerance towards others is one of the various ways to implement Bhinnekha Tunggal Ika.

Keywords: Unity in Diversity, Multicultural, Unifying, Strengthening

Bhinnekha Tunggal Ika Pemersatu Kehidupan Dan Memperkokoh Bangsa

A. Latar Belakang


Negara Indonesia adalah salah satu negara multikultur terbesar di dunia, hal ini dapat terlihat dari kondisi sosiokultural maupun geografis Indonesia yang begitu kompleks, beragam, dan luas. “Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok etnis, budaya, agama, dan lain-lain yang masingmasing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen “aneka ragam” (Kusumohamidjojo, 2000:45)”. Sebagai sebuah negara yang plural dan heterogen, Indonesia mempunyai potensi kekayaan berbagai macam suku, berbagai macam budaya, dan berbagai macam agama yang kesemuanya merupakan potensi untuk membangun negara mempunyai berbagai macam kebudayaan, suku dan agama yang besar “multikultural nationstate”.

Keragaman masyarakat yang berbagai macam suku, budaya dan agama itu semua adalah sebagai kekayaan bangsa di sisi lain juga sangat rawan untuk memicu konflik dan perpecahan sehingga tidak dapat mempersatu dan memperkokoh kehidupan bangsa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasikun (2007: 33) bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Sejarah sudah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan. Didasari pula bahwa dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih 700’an sukubangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, pakaian adat, rumah adat kesenian adat bahkan makanan yang dimakan pun beraneka ragam.

Keberagaman budaya Indonesia dilengkapi oleh keragaman lain yang ada pada tatanan hidup masyarakat baik perbedaan ras, agama, bahasa, dan golongan politik yang terhimpun dalam suatu ideologi bersama yaitu Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Kansil dan C. Kansil (2006: 25) mengemukakan bahwa “persatuan dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa”. Sehingga Sasanti Bhineka Tunggal Ika bukan hanya suatu selogan tetapi merupakan pemersatu bangsa Indonesia. Keberagaman bangsa berlangsung selama berabad-abad lamanya, sehingga Indonesia tumbuh dalam suatu keragaman yang komplek.

Mahfud (2009:10) berpandangan bahwa pada hakikatnya sejak awal para founding fathers bangsa Indonesia telah menyadari akan keragaman bahasa, budaya, agama, suku dan etnis kita. Singkatnya bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka bangsa Indonesia menganut semangat Bhinneka Tunggal Ika, hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan persatuan yang menjadi obsesi rakyat kebanyakan. Kunci yang sekaligus menjadi mediasi untuk mewujudkan citacita itu adalah toleransi. Bhinneka Tunggal Ika sebagai kunci dan pemersatu keragaman bangsa Indonesia merupakan ciri persatuan bangsa Indonesia sebagai negara multikultur.

Walaupun Indonesia berbhinneka tunggal Ika, akan tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Hal ini adalah sebuah keunikan tersendiri yang dimilki oleh bangsa Indonesia yang bersatu dalam suatu kekuatan dan kerukunan berbagai macam bangsa, suku dan agama yang harus diinsafi secara sadar. Akan tetapi, kemajemukan perbedaan tersebut terkadang membawa berbagai persoalan dan potensi konflik yang berujung pada perpecahan bangsa indonesia. Hal ini menerangkan bahwa pada dasarnya, tidak mudah untuk mempersatukan suatu keragaman tanpa adanya didukung oleh kesadaran masyarakat bangsa indonesai. Terlebih, kondisi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling majemuk di dunia, selain Amerika Serikat dan India. Sejalan dengan pendapat tersebut, Geertz (dalam Hardiman, 2002: 4) mengemukakan bahwa Indonesia ini sedemikian kompleksnya, sehingga sulit melukiskan anatominya secara persis. Negeri ini bukan hanya multietnis (Jawa, Batak, Bugis, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), melainkan juga menjadi arena pengaruh multimental (India, Cina, Belanda, Portugis, Hindhuisme, Buddhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen, Kapitalis, dan seterusnya).

Negara Indonesia yang mempunyai keunikan berbagai macam suku dan berbagai macam karakter dihadapkan pada problematika tersendiri, di satu sisi membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangatlah besar sebagai negara dengan berbagai macam suku, bangsa dan agama, akan tetapi di sisi lain bisa menjadi suatu ancaman. Maka demikian bukanlah sesuatu ungkapan yang berlebihan bahwa kondisi berbagai macam kebudayaan, suku dan agama ini diibaratkan seperti bara dalam sekam yang mudah tersulut dan memanas sewaktuwaktu.

Kondisi ini adalah suatu kewajaran sejauh dari perbedaan dari bangsa Indonesia disadari dan dihayati keberadaannya sebagai sesuatu yang harus disikapi dengan tolenrasi terhadap orang lain. Akan tetapi, ketika perbedaan tersebut mengemuka dan menjadi sebuah ancaman untuk kehidupan kerukunan hidup dan juga melemahkan bangsa Indonesia, hal ini dapat menjadi problematika yang harus diselesaikan dengan sikap yang penuh toleransi terhadap sesama bangsa Indonesia. Prihal tentang rawan terjadinya konfli dan problematika pada masyarakat berbagai macam kebudayaan, suku dan agama seperti Indonesia, mempunyai potensi yang besar terjadinya konflik antara sesama kelompok, golongan, etnis, agama, dan suku bangsa.

B. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang kami jabarkan diatas, maka dapat diambil beberapa rumusan masalah guna menunjang isi jurnal ini, antara lain:

  1. Bagaimana perjalanan Sejarah tentang Bhineka Tunggal Ika sebagai bentuk identitas Bangsa Indonesia.
  2. Bagaimana cara untuk menerapkan Bhineka Tunggal Ika untuk mempersatu dan memperkokoh kehidupan bangsa Indonesia?



PEMBAHASAN


A. Sejarah Bhineka Tunggal Ika


Sujanto (2009:28) memaparkan bahwa “lahirnya Sesanti Bhineka Tunggal Ika, berangkat dari kesadaran adanya kemajemukan tersebut. Bahkan kesadaran perlu adanya persatuan dari keragaman itu terkristalisasi kedalam ‘Soempah Pemoeda’ tahun 1928 dengan keIndonesiaannya yang sangat kokoh”. Untuk memahami konsep Bhinneka Tunggal Ika yang tercetus pada Kongres Sumpah Pemuda, penting kiranya penulis memaparkan konsep Bhinneka Tunggal Ika terlebih dahulu. Sujanto (2009: 9) memaparkan bahwa Sesanti Bhineka Tunggal Ika, Sesanti artinya kelimat bijak (wise-word) yang dipelihara dan digunakan sebagai pedoman atau sumber kajian di masyarakat.

Bhinneka Tunggal Ika adalah kalimat (sesanti) yang tertulis dipita lambang negara Garuda Pancasila, yang berarti berbagai keragaman etnis, agama, adatistiadat, bahasa daerah, budaya dan lainya yang mewujud menjadi satu kesatuan tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Sebagai kalimat bijak, Bhinneka Tunggal Ika memiliki kekuatan besar untuk mempersatukan perbedaan. Namun, hal ini harus didukung oleh kesadaran kita sebagai masyarakat Indonesia yang mampu mewujudkan kalimat bijak tersebut dalam bingkai kesatuan tanah air dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Dibagian pertama modul Wasantara Lemhannas RI 2007 (Sujanto, 2009:1) menjelaskan bahwa: “Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan pada lembaga negara Republik Indoneisa yang ditetapkan berdasarkan PP No. 66 Tahun 1951 yang mengandung arti walaupun berbeda-beda tetap satu”. Berkaitan dengan hal tersebut, Sujanto (2009:9) memandang bahwa “bangunan wawasan ke-Indonesia-an adalah perwujudan dari keinginan bersama untuk dapat mewujudkan kesatuan/ keesaan, manunggalnya keberagaman menjadi satu-kesatuan yang disepakati yaitu Indonesia”. Sumber asal Sesanti Bhinneka Tunggal Ika sebagai kalimat bijak diambil dari Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular pada abad keempat belas.

Analisis historis di atas menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia telah menyadari kemajemukan, multietnik dan multi-agamanya sejak dulu. Kesadaran akan kebhinekaan ini kemudian dibangkitkan kembali pada masa perjuangan kemerdekaan untuk menggali semangat persatuan bangsa Indonesia yang ketika itu sedang menanggung penjajahan kolonial. Penjajahan kolonial memberikan rasa senasib sepenanggungan akan keadaan bangsa yang penuh dengan keterbelakangan.

Muncul gagasan dan gerakan-gerakan perlawanan hingga kongres Sumpah Pemuda pun terlaksana sebagai inisiatif pemuda Indonesia ketika itu. “Sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Garuda Pancasila, harus teraktualisasi ke dalam kehidupan nyata di masyarakat Indonesia dengan lebih baik”. Peristilahan Bhinneka Tunggl Ika dalam bahasa Jawa dapat dimaknai bahwa walaupun kita berbeda-beda, memiliki latar belakang budaya yang berbeda, berbeda ras, etnis, agama, budaya namun kita adalah saudara yang diikat oleh kedekatan persaudaraan dengan rasa saling memiliki, menghargai, dan saling menjaga. Dalam Bhinneka Tunggal Ika tersurat petuah bijak untuk bersatu dalam keberagaman tanpa mempermasalahkan keberagaman, karena dalam keberagaman ditemukan suatu nilai persatuan yang menyatukan semua perbedaan.

Tarmizi Taher (Syaefullah, 2007: 193)berpandangan bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika, memberikan pelajaran agar semua penduduk Indonesia menghayati diri mereka sebagai suatu bangsa, satu tanah air, satu bahasa dan satu tujuan nasional yaitu terciptanya sebuah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagai satu-satunya asas dan pedoman utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesadaran akan perbedaan harus disikapi seperti tubuh manusia yang ketika salah satu bagiannya sakit yang lainnya akan ikut merasakan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Falk (dalam Kymlicka, 2002:183) yang memandang bahwa “keragaman masyarakat meningkatkan mutu hidup, dengan memperkaya pengalaman kita, memperluas sumber daya budaya”. Sejalan dengan hal tersebut, “Bagi Bung Karno keragaman etnis masyarakat Indonesia adalah suatu given. Hal ini bisa dimengerti karena ia sangat dipengaruhi oleh semangat Sumpah Pemuda, yang dengan ikrar itu menyatakan persatuan masyarakat Indonesia” (G. Tan, 2008:44). Keragaman sebagai given (pemberian) yang dapat bermakna bahwa keragaman merupakan rahmat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia untuk dijadikan sebagai modal yang oleh Falk dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan mutu hidup.

Sujanto (2009:90) berpandangan bahwa Sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna persaudaraan atau perseduluran harus disosialisasikan kepada seluruh rakyat, melalui lembaga-lembaga yang sudah ada seperti lembaga pemerintah, swasta, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga keagamaan, lembaga kepemudaan, agar terbangun hidup yang rukun, damai, aman, toleran, saling menghormati, bekerjasama dan bergotong-royong dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa. paham atas keberagaman untuk dapat hidup secara toleran ditengah-tengah masyarakat yang majemuk baik kemajemukan budayanya, agamanya, bahasa, politik dan beraneka ragam suku, budaya dan agama memanglah sudah tercermin pada masyarakat Indonesia kemudian diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang mengandung makna jika Diterjemahkan per kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam". Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun beranekaragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan (https://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika) .


B. Implementasi Bhineka Tunggal Ika Untuk Mempersatu dan Memperkokoh Kehidupan Bangsa


Implementasi dari Bhineka Tunggal Ika dalah dengan sebagai berikut:

1. Tidak Melakukan Sara


Konflik bernuansa SARA akhir-akhir ini banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kebanyakan kasus yang terjadi dipicu oleh tindakan seorang atau kelompok tertentu yang intoleran yang kemudian dibawa pada kelompoknya yang lebih luas dengan mengatasnamakan latar belakang ras, suku, agama, dan budaya. Haris (2012:52) mengatakan bahwa “akibat lebih jauh terjadinya konflik horisontal yang dipicu oleh kecemburuan sosial, ego daerah, ego suku, ego agama, dan lainnya. Kesadaran untuk hidup bersama secara damai sesuai makna Bhineka Tunggal Ika mulai luntur”.

Akibat ego seorang atau segelintir orang kemudian dibawa menjadi ego kelompok dan golongan tertentu muncul konflik besar yang membawa bencana bagi semua pihak termasuk pihak yang tidak terlibat. Namun demikian, tantangan keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia memiliki optimisme tersendiri untuk menjadi sebuah potensi bukan bibit konflik. Sejalan dengan hal tersebut, Sujanto (2009: 4) memandang bahwa tentang keragaman dan keberbedaan (kemajemukan) ini.

Tuhan pun telah menggambarkan pada diri manusia dengan lima jari tangan yang saling berbeda, yang kalau boleh saya sebut ‘sebagai falsafah lima jari’. Fitrah keragaman jari itupun diciptakan dengan masingmasing ciri, fungsi dan peran dari tiap-tiap jari. Apabila kelima jari itu disatukan (bersatu) akan terbangun suatu kekuatan yang sangat luar biasa yang dapat menyelesaikan semua pekerjaan seberat apapun yang ada di muka bumi ini.Falsafah lima jari merupakan contoh sederhana optimisme perbedaan yang bisa menjadi potensi besar untuk melakukan pekerjaan seberat apapun. Bahkan diharapkan bisa merubah suatu tantangan menjadi sebuah peluang.

Untuk mewujudkan hal tersebut, masyarakat harus memiliki pandangan yang kuat tentang persatuan dan kesatuan-Raya. Kaelan (dalam Bestari, 2012:71) mengemukakan bahwa “pandangan hidup Pancasila bagi bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika harus merupakan asas bangsa sehingga tidak boleh mematikan keanekaragaman”. Sejalan dengan hal tersebut, Winataputra (2012: 6) mengemukakan bahwa “Pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI (Kemko Kesra: 2010) perlu ditransformasikan secara fungsional dalam berbagai ranah kehidupan bermasyarakat dan bernegara”. Untuk mentransformasikan Empat pilar kebangsaan tersebut, dibutuhkan kesadaran dari masyarakat dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang mendukung terciptanya Bhineka Tunggal Ika.

Aeni (2012: 87) memaparkan bahwa kebijakan yang ditempuh adalah menbangun kesejahteraan berbangsa dan bernegara di atas ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dalam rangka mewujudkan kehidupan rakyat yang sejahtera, rukun, aman, damai, saling menghormati, demokrasi dalam menghadapi globalisasi yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa demi terwujudnya stabilitas nasional yang mantap dan tangguh. Peran kebijakan harus didukung dengan kesadaran sehingga kesejahteraan berbangsa dan bernegara dapat terwujud. Jika hal ini sudah disadari bersama, maka gesekan-gesekan konflik yang bernuansa SARA di masyarakat akan bisa diatasi dan bahkan mengubah kemungkinan konflik tersebut menjadi suatu peluang untuk hidup saling melindungi dalam kerukunan. Dalam modul Konsep Wasantara Lemhannas RI (Winataputra, 2012:2) dikemukakan bahwa Persinggungan unsur-unsur SARA secara positif diharapkan juga dapat meningkatkan mutu kehidupan masingmasing unsur, bermanfaat bagi masing-masing pihak baik secara individu maupun kelompok. Selain itu, masing-masing pihak memiliki keunggulan dalam hal tertentu dari pihak yang lain, sehingga dengan berinteraksi akan terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

2. Toleransi Antar Sesama


Mahfud (2009:10) berpandangan bahwa pada hakikatnya sejak awal para founding fathers bangsa Indonesia telah menyadari akan keragaman bahasa, budaya, agama, suku dan etnis kita. Singkatnya bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka bangsa Indonesia menganut semangat Bhinneka Tunggal Ika, hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan persatuan yang menjadi obsesi rakyat kebanyakan. Kunci yang sekaligus menjadi mediasi untuk mewujudkan citacita itu adalah toleransi

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan.

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain, seperti:

  • Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita;
  • Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun; serta
  • Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama/kepercayaannya.


Memiliki sikap tolenransi antar sesama masyarakat bangsa indonesia akan membuat bangsa indonesia menjadi bersatu, kuat dan juga dapat memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara.

PENUTUP


A. Kesimpulan


Bermacam-macam Keanekaragaman dalam masyarakat indonesia mulai dari beraneka ragam budaya, suku dan agama merupakan sesuatu yang alami yang harus dipandang sebagai suatu fitrah. Hal tersebut dapat digambarkan seperti halnya jari tangan manusia yang terdiri atas lima jari yang berbeda, akan tetapi kesemuanya memiliki fungsi dan maksud tersendiri, sehingga jika semuanya disatukan akan mampu mengerjakan tugas seberat apapun dan juga bisa saling melengkapi. Untuk menyadari hal tersebut, Bhinneka Tunggal Ika mempunyai peran yang sangat penting dalam mempersatu dan memperkokoh kehidupan bangsa.

Indonesia sebagai bangsa yang mempunyai berbagai macam budaya, suku dan agama harus mengembangkan wawasan multikultural dalam semua tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan nilainilai kebhinekaan. Membangun masyarakat multikultur Indonesia harus diawali dengan keyakinan bahwa dengan bersatu kita memiliki kekuatan yang lebih besar. Implementasi Bhenika Tunggal Ika ini yaitu jangan sampai melakukan perbuatan yang dapat memperpecah kehidupan bangsa, seperti melakukan SARA, tidak toleransi terhadap orang lain. Jika kita bisa mempraktekkan dari implementasi Kebhenikaan maka hidup di Indonesia bagaikan di Surga, Tenang, damai, Aman dan Tentram.

B. Saran


Saran penulis sebagai warga negara Indonesia kita sebaiknya menambah wawasan kebangsaan kita, wawasan tentang kebhenikaan jangan sampai melakukan SARA, RASIS ataupun hal yang dapat memperpecah belah bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Azra, A. (2002). Konflik Baru Antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme dan Pluralitas. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Azra, A. (2006). “Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia: Perspektif Multikulturalisme”. Dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik Identitas dan Modernitas. Bogor: Brighten Press. Jakarta: Rineka Cipta.

Aeni, K. (2012). “Peran PKn dalam Pengembangan Pendidikan Karakter dan Pengelolaan Model Sosial di Sekolah” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Bestari, P. (2012). “Mengapa Harus Empat Pilar?” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Budimansyah, D. dan Suryadi, K. (2008). PKn dan Masyarakan Multikultural. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Hardiman, F. B. (2002). Belajar dari Politik Multikulturalisme. Pengantar dalam Kimlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal Mengenal Hal-Hak Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Efmini Eddin dari Jurnal Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority. Jakarta: LP3ES.

Haris, H. (2012). “Revitalisasi dan Reinterpretasi Pendidikan Pancasila: Upaya Mengatasi Fenomena Konflik Kekerasan Melalui Sektor Pendidikan” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan
Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Hardiman, F. B. (2002). Belajar dari Politik Multikulturalisme. Pengantar dalam Kimlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal Mengenal Hal-Hak Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Efmini Eddin dari Jurnal Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority. Jakarta: LP3ES.

Kusumohamidjojo, B. (2000). Kebhinnekaan Masyarakat Indonesia: Suatu Problematik Filsafat Kebudayaan. Jakarta: Grasindo.

Mahfud, C. (2005). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasikun. (2007). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Tilaar, H. A. R. (2007). Mengindonesiakan Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Wingarta. (2012). “Transformasi (Nilai-Nilai Kebangsaan) Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan Kekerasan: Peran PKn (Perspektif Kewaspadaan Nasional)” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Sujanto, B. (2009) Pemahaman Kembali Makna Bhineka Tunggal Ika (Persaudaraan dalam kemajemukan. Jakarta: Sagung Seto.

Winataputra, U. S. (2012). “Transformasi Nilai-Nilai Kebangsaan untuk Memperkokoh Jatidiri Bangsa Indonesia: Suatu Pendekatan Pendidikan Kewarganegaraan” dalam Transformasi Empat Pilar Kebangsaan dalam Mengatasi Fenomena Konflik dan Kekerasan: Peran Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Kansil, C.S.T. dan S.T Kansil, C. (2006). Modul Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Syaefullah, A. (2007). Merukunkan Umat Beragama. Jakarta: Penerbit Grafindo Khazanah Ilmu.
Tan, M. G. (2008). Etnis Tionghoa di Indonesia (Kumpulan tulisan). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

0 Comments

Posting Komentar

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus