Kisah Menjadi Sukses Ala Bob Sadino - webillian.com
News Update
Loading...

Kisah Menjadi Sukses Ala Bob Sadino


Kisah Menjadi Sukses Ala Bob Sadino
img:flickr

Sejarah bob sadino


Enterpreneur sukses yang satu ini menjalani hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih meraih sukses. Dia sempat menjadi supir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp.100.- (diwaktu itu).
Penampilannya eksentrik. Bercelana pendek jins, kemaja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong (once) di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang enterpreneur sukses yang wirausaha. Siapa sangka, pendiri dari pemilik tunggal Kem Chicken (supermarket) ini pernah menjadi supir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.- (diwaktu itu).
Celana pendek memang menjadi “pakaian dinas” Om Bob, begitulah dia biasa disapa dalam setiap aktivitasnya. Bob Sadino merupakan kelahiran dari Lampung, pada tanggal 9 Maret tahun 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini. Baik ketika santai, mengisi seminar enterpreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, namun itulah Bob Sadino.

“Keanehan” juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemampuan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan yang harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang enterpreneur yang menjadi rujukan semua orang seperti sekarang jika dulu tidak memilih untuk menjadi “orang miskin”

Sewatu orang tuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah diangggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagaian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalannnya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di Kota Amsterdam, Belanjda, juga di Hamburg, Jerman. Pada saat Di Eropa Bob sadino bertemu dengan sang pujaan Hatinya yang bernama Soelami Soejoed.

Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya ada menjadikkan tidak lagi menarik. “Dengan besarnya gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja disana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati gaya hidup.” tulis Bob Sadino dalam bukunya “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila”.

Pada sekisaran tahun 1967 Bob dan keluargapun  kembali lagi ke Negara Indonesia. Waktu itu Bob Sadino membawa dua mobil Mercedes miliknya yang dari Eropa. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah cukup lama tinggal dan hidup di Negara Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang masi ada itu dijadikan Bob untuk menjadi “modal” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.

Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya 100 rupiah. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih tidak merokok. Jika Dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras. “Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras” ucap istrinya memperingati Bob.

Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Merka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menwarkan berbagai macam bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.
Dia sempat mengalami depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. “Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti gambarannya magma yang sedang bersemangatnya di dalam gunung berapi,” Ucap bob.

Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram saja. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketiak itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob Sadinolah yang pertama kali di Indonesia yang memperkenalkan ayam Negri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual terlur-telur ayamnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat (orang asing) yang tinggal di daerah Kemang.

Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Saat ini Bob Sadino sudah mempunyai PT Kem Foods (Pabrik daging dan sosis). Bob juga saat ini mempunyai usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik yang di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan orang asing rupanya menjadi salah satu kunci sukses keberhasialan seorang Bob Sadino. Orang asing merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identik dengna Bob Sadino.“Kalau saja saya terima bantuan  dari kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mumgkin saja Kem Chik tidak akan pernah ada,” Ujar Bob.

Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon enterpreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut resiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipishkan dari resepnya dalam menjalani tantangan kehidupan. Menjadi seorang entreprenur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.

Karena itu, menurut Bob Sadino, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekedar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. “Kita saja punya ratusan ribu sarjana yang sudah lulus yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak bisa, apalagi menghidupi kehidupan orang lain,” jelas Bob.

Tahu” yaitu sesuatu hal yang ada di dunia perkuliahan atau kampus, di kuliah atau kampus banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa mempraktekkannya. Sedangkan “bisa” adalah yang ada di dalam masyarakat. Merka bisa melakukan sesuatu ketika mereka terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun itu awalnya tidak bisa sama sekali dan akhirnya menjadi bisa karena mencoba. Sedangkan “termapil” merupakan perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob yaitu tidak jauh berbeda dengan terampil. Tetapi, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Penutup dan Kesimpulan


Menjadi pengusaha tidak harus melakukan sebuah usaha yang besar, cukup memulai dari yang kecil, mulai dari apa yang bisa kita lakukan, mulailah dari yang kita dengan senang hati dalam melakukannya. Mulai dari yang kita yakin kita bisa, pupuklah terus apa yang kita mulai, rawatlah, insya Allah tanpa kita sadari, dalam kurun waktu tertentu apa yang kita mulai dari kecil itu sudah menjadi sesuatu yang membuat kita bangga.

Dengan menyadari akan adanya keberhasilan disamping ada kegagalan, kesuksesan disamping keterpurukan, kesenangan disamping kesedihan, kemudahan disamping kesulitan, disertai dengan pola pikir dan tindakan yang positif, pantang menyerah, pantang mundur, keyakinan yang tinggi, husnudlon-billah, insya Allah semua yang kita cita-citakan akan mendapatkan ridla Allah dan kita akan bisa mengubah sebuah cita-cita menjadi sebuah kenyataan Sukses atas pertolongan Allah.

Share with your friends

1 komentar

  1. Sepertinya semua kisah orang sukses berawal dari "the power of kepepet". hahaa...

    Hingga saat ini sepertinya belum ada yang mampu menandingi sikap "gila" dari bob sundino seperti menggunakan celana pendek untuk keperluan dinas. Kebanyakan orang malah malu.. good article, this article give motivation to me, tengs..

    BalasHapus

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus

Notification
Selamat menikmati postingan artikel di Webillian.Com semoga bermanfaat.
Done