TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: Mendesain Strategi CSR, Implementasi Code of Conduct sebagai CSR Tools, Faktor Kesuksesan Strategi CSR, Menilai Keberhasilan CSR, Mengelola Hubungan dengan Stakeholder, Artikel Implementasi dan Strategi CSR - webillian.com
News Update
Loading...

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN: Mendesain Strategi CSR, Implementasi Code of Conduct sebagai CSR Tools, Faktor Kesuksesan Strategi CSR, Menilai Keberhasilan CSR, Mengelola Hubungan dengan Stakeholder, Artikel Implementasi dan Strategi CSR

Mendesain Strategi CSR, Implementasi Code of Conduct sebagai CSR Tools, Faktor Kesuksesan Strategi CSR, Menilai Keberhasilan CSR, Mengelola Hubungan dengan Stakeholder, Artikel Implementasi dan Strategi CSR



Hasil gambar untuk mendesain strategi csr

Mendesign Strategi CSR

Pelaksanaan program CSR tentu saja perlu dirumuskan dalam strategi yang baik dan matang, agar sejalan dengan visi misi perusahaan. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun atau mendesain strategi CSR, yaitu:
memastikan komitmen dimulai dari jenjang teratas
memprakarsai diskusi kelompok antar stakeholder
strategi dasar CSR harus ditetapkan di tingkat eksekutif
melibatkan dan memberdayakan masyarakat
mengevaluasi program CSR secara berkala
pelaporan kegiatan CSR yang efektif

Implementasi Kode Etik sebagai Alat CSR

Dalam menjalankan bisnis yang melibatkan berbagai pihak dari mulai karyawan, manajer, direktur, investor serta konsumen, perusahaan tentu perlu untuk memperhatikan etika yang harus dijunjung tinggi serta tanggungjawab sosial yang juga perlu diperhatikan. Etika akan berpengaruh penting pada pandangan masyarakat mengenai citra perusahaan yang memproduksi produk-produk yang mereka kenali. Jika perusahaan memiliki pencitraan yang baik atas etika yang dimilikinya selama mengoprasikan perusahaannya tentu hal itu akan berdampak baik pada penjualan produknya. Di sisi lain, jika perusahaan tidak memperhatikan etika moral dalam menjalankan bisnisnya, masyarakat tentu akan menilai negatif perusahaan tersebut dan enggan menjadi konsumen dari perusahaan yang bersangkutan.
Kata etika itu sendiri diartikan sebagai standar dari perilaku yang bermoral dimana perilaku itu dapat diterima oleh individu lain mengenai apa yang baik dan yang buruk (Nickles & McHugh, 2008:110). Dias dan Shah, (2009:110) mendefinisikan etika sebagai pemahaman kita mengenai standar perilaku moral, dimana perilaku tersebut diterima masyarakat, yang kemudian dinilai sebagai sesuatu yang benar atau salah. Etika ini biasanya berdasarkan pada agama dan budaya dimana pada dasarnya semua agama itu mengajarkan hal yang sama misalnya integritas, saling menghormati, kejujuran serta kebenarian dan melarang hal-hal seperti berbuat curang dan kekejaman. Etika tersebut setidaknya harus dipenuhi oleh para pebisnis dan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya juga sebagai bentuk pencitraan dalam masyarakat, yang mana jika tidak dipenuhi tentu masyarakat akan menilai sebagai hal yang salah dan patut dikenakan sanksi.
Selain itu, etika yang dimaksud disini juga berbeda dari hukum dan tidak harus selalu berhubungan dengan hukum (Nickles & McHugh, 2008:111-112). Secara umum, sesuatu yang ilegal juga merupakan sesuatu yang tidak etis. Ilegal berarti kita dapat dikenakan hukuman oleh pengadilan atas tindakan buruk yang dilakukan. Namun, sesuatu yang tidak etis tidak selalu menjadi hal yang ilegal. Misalnya, mencuri uang perusahaan dapat dikatakan tindakan yang tidak etis dan ilegal dimana kita bisa dipenjara. Namun, berbeda ketika misalnya kita menggosipkan pekerja lain di belakangnya, hal itu dapat dikatakan sesuatu yang tidak etis, namun tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang ilegal yang dapat dikenakan sanksi hukum (Dias & Shah, 2009:112)

Faktor Kesuksesan Strategi CSR

Berbagai persoalan sosial yang mncul di masyarakat ditambah dengan ketidak mampuan Pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut telah mendesak campur tangan korporasi-korporasi besar yang memiliki dana yang cukup besar untuk terlibat aktif dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut. Hal inilah yang kemudian melahirkan sebuah konsep Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan. Public Relations, sebagai ujung tombak perusahaan turut mengemban fungsi ini. Sesuai dengan tugas pokoknya, yaitu mengemban tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial inilah yang kemudian dijalankan salah satunya melalui program CSR. Disamping itu, CSR juga dipandang sebagai strategi komunikasi yang efektif dalam pembentukan citra perusahaan. CSR yang berhasil adalah CSR yang didalamnya ada partisipasi dari masyarakat serta dilaksanakan berkelanjutan (sustainable). Oleh karenanya, dalam penelitian ini akan diidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan program CSR. Sebagai obyek penelitian adalah Telkom dan Sampoerna, yang mana program CSR yang telah mereka lakukan telah mendapatkan pengakuan dan penghargaan di tingkat nasional. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif eksploratif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program CSR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program CSR dipengaruhi oleh nukleus program yang dijadikan acuan dan kerangka pemikiran dari setiap program, riset awal, tahap eksekusi, riset akhir dan evaluasi serta strategi komunikasi.
Berikut adalah beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan demi meningkatkan kesuksesan strategi CSR, yaitu:
CSR adalah komitmen, kontribusi, cara pengolahan bisnis dan pengambilan keputusan pada perusahaan.
Komitmen, kontribusi, pengelolaan bisnis dan pengambilan keputusan perusahaan didasarkan pada akuntabilitas, mempertimbangkan aspek social dan lingkungan, memenuhi tuntutan etis, legal dan professional.
Perusahaan memberikan dampak nyata pada pemangku kepentingan dan secara khusus pada masyarakat sekitar.

Menilai Keberhasilan CSR

Hangatnya pembicaraan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih dikenal dengan corporate social responsibility (CSR) di kalangan dunia usaha mau tidak mau merambat pada dunia akademis. Topik CSR sudah mulai diakomodasikan pada beberapa mata ajaran dikalangan perguruan tinggi. Hasilnya, tak sedikit para mahasiswa berlomba membuat karya akhir atau skripsi dengan topik CSR. Jawaban paling sederhana dan jujur dari mereka adalah karena topik ini sedang nge-trend, atau memang topik ini yang diterima dibandingkan dengan topik lain yang diajukan. Ironisnya, kebanyakan mahasiswa kecewa saat mendapati bahwa dosen pembimbingnya ternyata tidak menguasai topik tersebut. Tentu bukan sepenuhnya kesalahan dosen bila mereka dengan jujur mengatakan tidak menguasai masalah CSR, apalagi membuat suatu kajian akademis karena mereka memang belum pernah mempelajarinya. Belum ada mata kuliah ini pada saat kita-kita, para dosen dulu kuliah.
Perlu disadari bahwa begitu banyak variabel dan lintas ilmu yang terkait dengan masalah CSR. Perubahan kondisi sosial yang dinamis tidak dapat dijadikan suatu hitungan matematis yang sederhana. Salah satunya adalah bagaimana mengukur kinerja CSR.
Saat ini, cara untuk mengukur kinerja CSR adalah melalui laporan kegiatannya, yakni dengan metode content analysis. Metode ini mengubah informasi kualitatif menjadi kuantitatif sehingga dapat diolah dalam perhitungan statistik. Artinya, total angka yang didapat dari proses content analysis ini menggambarkan banyaknya pengungkapan yang diinformasikan dalam laporan tersebut. Yang perlu digarisbawahi adalah informasi CSR yang diungkapkan bukan jaminan informasi yang menggambarkan semua kegiatan CSR yang telah dilakukan. Ada gap yang mungkin terjadi.

Mengelola Hubungan dengan Stakeholder

Keberlangsungan dan kesuksesan suatu organisasi  sangat tergantung dengan pihak-pihak terkait yaitu stakeholder.Pada saat krisis menyerang perusahaan/organisasi, pengelolaan hubungan dengan para stakeholder memegang peranan yang sangat penting. Kesalahan dalam mengelola hubungan dengan mereka pada saat krisis akan berakibat buruk pada perusahaan/organisasi. Parahnya suatu krisis yang menyerang perusahaan/organisasi tidak ditentukan oleh masalah itu sendiri tetapi oleh para stakeholder yang terkena dampak serta bagaimana mereka bereaksi sebagai hasil dari apa yang terjadi.
Tidak ada cara menilai seberapa baik sebuah organisasi berhasil mengatasi krisis. Pada akhirnya, penilaian tersebut hanyalah persepsi dan opini saja yang didasarkan pada seberapa efektif perusahaan/organisasi berkomunikasi dengan para stakeholder-nya pertama kali hingga masalah yang menimpa perusahaan/organisasi benar-benar terpecahkan.
Seperti yang kita ketahui, stakeholder sendiri tidak hanya berpangku pada karyawan dan pemegang saham, maka dari itu pihak perusahaan perlu menjaga hubungan baik dengan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan usahanya.

Artikel Implementasi dan Strategi CSR

CSR Aqua
Mengingat Aqua adalah perusahaan yang telah melayani masyarakat hampir 40 tahun, Aqua juga menggunakan sumber daya alam yakni sumber air bersih, oleh karena itu untuk menjaga kesinambungan serta keseimbangan penggunaan sumber daya agar tetap terjaga dan manfaatnya bagi masyarakat luas dan menciptakan pertumuhan sumber daya yang berkelanjutan. Oleh karena itu dirasa penting Aqua melakukan kegiatan CSR, dalam rangka sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan menerapkan kegiatan berbasis masyarakat dalam menjalankan programnya. Kampanye yang telah dimulai sejak tahun 2007 ini juga adalah sebuah kampanye berkelanjutan mengenai kebaikan alam (Goodness of nature)
Salah satu program Aqua adalah WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) tujuanya untuk memberikan solusi dalam penyediaan air bersih di Indonesia. Didalam program WASH ini adalah program Satu Untuk Sepuluh, program ini juga mendukung program Millenium Development yang dicanangkan oleh PBB tujuannya untuk memerangi kemiskinan dan kelaparan diberbagai belahan dunia yang ditarget pada tahun 2015.
Program yang akan dibahas kali ini khusus pada CSR Aqua yang telah terlaksana yaitu program 1L Aqua untuk 10L Air Bersih, menurut Binahidra Logiardi, manajer PT Tirta Investama yang membawahi perusahaan Aqua, slogan ini adalah ungkapan simbiolis untuk memudahkan pemirsa mencerna pesan yang ingin Aqua sampaikan,  dimana  setiap 1 liter yang terjual telah membantu 10 liter air bersih untuk 4 kecamatan.

Share with your friends

Give us your opinion

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus

Notification
Selamat menikmati postingan artikel di Webillian.Com semoga bermanfaat.
Done