Tanggung Jawab Sosial Perusahaan : CSR ditempat Kerja - webillian.com
News Update
Loading...

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan : CSR ditempat Kerja


CSR IN THE WORKPLACE

Pengertian workplaces

Ialah tiap ruangan atau lapangan baik terbuka atau tertutup, bergerak maupun menetap dimana terdapat tenaga kerja yang bekerja atau sering dimasuki orang bekerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya

Masalah di tempat kerja di CSR akan bervariasi tergantung pada apakah kita mempertimbangkan tempat kerja yang sangat diatur atau tidak diatur, atau apakah kita mempertimbangkan tempat kerja di rumah atau di luar rumah.

1. tempat kerja yang diatur

ini biasanya ditemukan di negara maju di mana undang-undang sebagian besar menangani sebagian besar masalah utama perlindungan karyawan. Di sini, maka CSR cenderung berfokus untuk memastikan bahwa perusahaan hidup sesuai semangat dan juga surat hukum, dan melampaui undang-undang dengan memperhatikan berbagai keragaman, keseimbangan kehidupan kerja, pelatihan dan pemenuhan kerja, penyediaan dana pensiun, anti pelecehan, dan sebagainya.

2. Tempat kerja yang kurang diatur

Ini biasanya ditemukan di negara-negara berkembang, karena undang-undang perlindungan karyawan tidak ada atau tidak diberlakukan dengan baik. Maka masalah CSR di sini akan cenderung menimbulkan kekhawatiran seperti kondisi kerja, gaji, persatuan, kesehatan dan keselamatan, kesempatan yang sama, dan sebagainya. Penting untuk dicatat bahwa tempat kerja yang kurang diatur juga dapat terjadi di negara maju, misalnya, ketika tempat kerja adalah bagian dari ekonomi informal.

3. Tempat kerja di rumah

Korporasi secara jelas bertanggung jawab langsung atas pekerja in-house mereka sendiri. Namun, jika kemauan atau kemampuan untuk menyediakan praktik tempat kerja yang bertanggung jawab terbatas, aktor lain seperti pelanggan utama atau LSM mungkin terlibat dalam program CSR yang bertujuan memperbaiki praktik ini.

4. Tempat kerja outsourcing

Berbagai produsen produk bermerek juga kadang diharapkan bertanggung jawab atas tempat kerja pemasok mereka.Ini bukan untuk mengatakan bahwa pemasok dibebaskan dari CSR di tempat kerja, namun sifat tanggung jawabnya dapat berubah; Misalnya, karena perusahaan pembelian mulai bertindak sebagai kuasi-regulator. Tempat kerja outsourcing yang relevan dapat melampaui pemasok tingkat pertama untuk mencakup lingkup tanggung jawab yang membentang di seluruh rantai pasokan, baik di bagian hulu maupun hilir.

Apa yang bisa kita lihat, kemudian, adalah bahwa CSR di tempat kerja adalah arena yang cukup kompleks, dengan konteks, isu dan tanggung jawab yang berbeda yang timbul untuk korporasi dalam situasi yang berbeda. Namun, perusahaan dapat dipandu untuk tanggung jawab mereka dengan berbagai kode dan pedoman yang berbeda.Beberapa yang terpenting termasuk panduan OECD untuk perusahaan multinasional, standar ketenagakerjaan global ILO dan compact global PBB. Ada juga berbagai inisiatif berbeda yang telah dikembangkan untuk menangani masalah tanggung jawab di tempat kerja, seperti kode etik dan sistem audit sosia.



Memahami Penempatan CSR

A. Tanggung Jawab terhadap Karyawan

Bisnis mempunyai sejumlah tanggung jawab terhadap karyawan. Pertama, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan jika mereka ingin tumbuh. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap karyawannya guna memastikan keselamatan mereka, perlakuan yang semestinya oleh karyawan lain, dan peluang yang sama

Perusahaan juga harus dapat memastikan bahwa tempat kerja aman bagi karyawan dengan memantau secara ketat proses produksi. Beberapa tindakan pencegahan adalah dengan memeriksa mesin dan peralatan guna memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik, mengharuskan digunakannya kacamata keselamatan atau peralatan lainnya yang dapat mencegah terjadinya cedera, dan menekankan tindakan pencegahan khusus dalam seminar-seminar pelatihan.

Perusahaan bertanggung jawab juga untuk memastikan bahwa karyawan diperlakukan dengan semetinya oleh karyawan lain. Dua masalah utama berkaitan dengan perlakuan karyawan adalah keragaman dan pencegahan terjadinya pelecehan seksual. Keragaman, tidak hanya terbatas pada gender dan suku. Karyawan dapat berasal dari latar belakang yang sepenuhnya berbeda dan memiliki keyakinan yang berbeda, sehingga dapat menimbulkan konflik ditempat kerja. Banyak perusahaan mencoba untuk mengintegrasikan karyawan dengan latar belakang yang berbeda agar mereka belajar bekerja sama guna mencapai tujuan bersama perusahaan sekalipun merka memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah-masalah di luar kerja. Banyak perusahaan merespons terhadap meningkatnya keregaman antar karyawan dengan menawarkan seminar mengenai keregaman, yang menginformasikan kepada karyawan mengenai keregaman budaya.

B. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Banyak pengusaha yang pada saat ini telah melakukan AMDAL ini dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Wujud nyata dari amdal ini tercermin dalam pelaksanaan pengolahan limbah industry sedemikian rupa sehingga limbah tersebut menjadi tidak mengganggu lingkungan. Proses produksi yang dilakukan oleh suatu bisnis tidak jarang akan menimbulkan pencemaran lingkungan atau polusi, baik polusi tanah, air dan udara. Dalam hal ini masih banyak pula pengusaha yang belum menyadari akan tanggung jawabnya terhadap pengolahan limbah industry ini. Hal ini pada umumnya disebabkan karena kurangnya kesadaran pengusaha terhadap pencemaran lingkungannya.

C. Penerapan Prinsip Keselamatan, dan Keselamatan Kerja (K3)

Penerapan prinsip K3 ini telah banyak dilaksanakan oleh perusahaan. Ada beberapa perusahaan telah memperoleh penghargaan yang berupa “ ZERO ACCIDENT ’’. Perusahaan yang memperoleh penghargaan ini bararti telah menjalankan proses produksinya sedemikian lama tanpa mengalami kecelakaan kerja bagi karyawannya. Hal ini merupakan prestasi yang cukup bagus dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja. Guna menjalankan pekerjaannya baik berupa topi pengaman, masker, maupun pakaian kerja khusus dan sebagainya.


Tanggung Jawab terhadap Hak Asasi Manusia (CSR pada HAM)

Secara teknis penerapan tanggung jawab perusahaan meliputi dua dimensi. Pertama, dimensi internal perusahaan yang terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan karyawan (industrial relation), yang diturunkan menjadi beberapa hal didalamnya ialah manajemen sumber daya manusia (human Resource Management), kesehatan dan keselamatan kerja (health and safety at work) dan manajeman penggunaan dan pelestraian sumber daya alam (management of enviromental impact and natural resource).



Kedua, adalah dimensi eksternal yang meliputi pengembangan komunitas lokal, relasi dengan mitra bisnis, penyedia bahan baku dan konsumen dan terkahir adalah hak asasi manusia. Jika kita lihat pada kedua aspek dari tanggung jawab sosial perusahaan tersebut baik dari dimensi internal dan eksternal, sangatlah kental dengan nuansa HAM. Terutama pada aspek hak-hak asasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya.


A. Tanggung Jawab Perusahaan dan Pemenuhan Hak-Hak Ekosob

Pada konvensi-konvensi HAM international pemerintah memiliki peran sebagai pengemban utama untuk memajukan penegakan hak-hak asasi manusia di negaranya, termasuk di dalamnya ialah penegakan hak-hak ekonomi, sosial, budaya (Ekosob).

Hak-hak Ekosob baik yang tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia (Duham) maupun konvensi Ekosob meliputi hak-hak sebagai berikut (Allan McChesney, 2003):

a. Hak atas kondisi kerja yang adil dan aman;
b. Hak mencari dan memilih pekerjaan;
c. Hak membentuk, bergabung dan mengambil keputusan bersama dalam serikat buruh;
d. Hak atas jaminan sosial, antara lain bantuan pemerintah pada masa tua dan saat tidak adanya pekerjaan dan uang atau bantuan lainnya bagi orang yang membutuhkan bantuan agar dapat menjalani kehidupan yang bermartabat;
e. Bantuan dan perlindungan keluarga;
f. Hak perkawinan yang sejajar bagi pria dan wanita;
g. Standar kehidupan yang memadai bagi tiap orang, dengan terpenuhinya pakaian, perumahan dan makanan yang layak;
h. Standar tinggi pada kesehatan dan perawatan kesehatan untuk semua orang;
i. Pendidikan utama yang memuaskan bagi semua orang dan kesempatan yang lebih meningkat pada pendidikan lebih lanjut;
j. Hak berpartisipasi dalam kehidupan budaya komunitas; dan
k. Hak mendapat keuntugan dan kemajuan ilmiah.



Melibatkan Karyawan dalam Program CSR

Suatu penelitian menunjukkan, organisasi yang benar-benar melibatkan karyawannya dalam program CSR cenderung mampu: menarik SDM berkualitas yang mau bergabung dengan perusahaan yang bertanggung jawab; mempertahankan SDM berkualitas sekaligus meningkatkan kesetiaann karyawan; tingkat keabsenan karyawan lebih rendah dengan meningkatkan tingkat engagement sesama karyawan; berinovasi lebih untuk memperoleh keuntungan yang kompetitif dimana karyawan adalah sumber ide untuk keberlanjutan; dan mampu menjaga reputasi sekaligus branding perusahaan, dalam hal ini karyawan merupakan touch point yangmencerminkan budaya perusahaan kepada konsumen, mitra bisnis, dan masyarakat.

Jika dikaitkan dengan CSR, setidaknya ada tujuh kunci penting yang perlu diperhatikan perusahaan untuk meningkatkan engagement karyawan melalui program CSR:

Pertama, dukungan top management.

Agar program CSR benar-benar tertanam dalam suatu perusahaan, dukungan manajemen teratas sangat penting. Misalnya dengan membentuk struktur formal seperti divisi program CSR yang berfungsi untuk mengaktifkan sinergi antara manajemen teratas dengan tim penasihat.

Kedua, menciptakan kesepahaman tentang CSR.

CSR bisa berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Kunci kesalahpahamannya adalah jika CSR diartikan sebatas tentang memberikan sedekah atau filantropi. Oleh karena itu, baik top management maupun manajer CSR harus benar-benar paham konsep seperti ISO 26000 yang merupakan pedoman kegiatan amal perusahaan agar semakin bertanggung jawab secara lingkungan, sosial dan secara etika. Hal ini akan membantu menciptakan kesepahaman tentang arti CSR bagi perusahaan.

Ketiga, menyelaraskan CSR dengan HRR.

Fungsi Human Resources (HR) bisa digabungkan sebagai sosok pendukung baik untuk CSR hingga ke seluruh organisasi. HR juga dapat diselaraskan dengan target perusahaan yang berkesinambungan dalam beberapa area, seperti menetapkan kode etik karyawan; perekrutan SDM; orientasi, pelatihan, dan pengembangan karyawan; menghubungkan kinerja berkelanjutan untuk penilaian; memperoleh feedback dari karyawan untuk mendapat inisiatif yang berkesinambungan; dan melakukan wawancara keluar untuk mengukur persepsi nilai CSR yang dilakukan perusahaan.

Keempat, komunikasi dan edukasi.

Komunikasi dan edukasi tentang CSR adalah sebuah proses yang terus menerus bagi karyawan. Penting untuk melibatkan dan mengajak mereka ke level yang lebih lanjut, misalnya mulai dari yang tadinya tidak peduli terhadap pesan CSR, menjadi peduli, lalu pemahaman mereka jadi meningkat, lalu jadi percaya dan mau berkomitmen untuk beraksi.

Kelima, menciptakan ‘green’ office.

Saat perusahaan sudah lebih maju dalam hal operasional, pabrik, proses, dan sudah memiliki rantai pasokan secara eksternal, hal ini bisa berarti ‘di luar perkiraan’ dan di luar dugaan’ bagi banyak karyawan. Sebuah kantor ‘hijau’ adalah cara yang tepat untuk mendemonstrasikan praktik CSR di tiga area. Pertama, untuk konservasi sumber daya dalam mengurangi emisi karbon, misalnya dalam penggunaan energi, air, kertas, dan udara. Kedua, mendukung kebiasaan pribadi yang ditunjukkan karyawan dalam kehidupan pribadi mereka sehari-hari. Ketiga, mendesain ruang kantor dan menetapkan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas fisik, mental dan emosional karyawan.

Keenam, melakukan aksi amal.

CSR sering disalahartikan sebagai filantrofi atau aksi amal. Sama pentingnya ketika strategi yang dibuat perusahaan akan masuk akal jika dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan intinya dapat tercapai. Perusahaan yang benar-benar mendukung aksi amal diyakini akan menciptakan engagement dan retensi karyawan yang lebih tinggi. Artinya, ada banyak manfaat ketika perusahaan benar-benar mendukung CSR.

Ketujuh, stakeholder engagement.

Karyawan adalah touchpoint penting bagi sejumlah stakeholder, baik interaksi dengan para investor, rantai pasokan, konsumen, LSM, komunitas, masyarakat (termasuk keluarga dan kerabat karyawan), media, dan lainnya. Budaya perusahaan yang berorientasi ke CSR akan sangat membantu terutama dalam merespon ketika krisis. Hal tersebut juga akan memudahkan perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif, khususnya ketika karyawan dibimbing untuk berkomunikasi dengan pelanggan, mitra bisnis, LSM, dan masyarakat. Selain itu, juga bisa memahami dimana letak kebutuhan stakeholder.


Artikel Permasalahan CSR di Tempat Kerja

Pencegahan terjadinya pelecehan seksual.


Masalah lain di tempat kerja adalah seksual (sexual harassment), yang melibatkan komentar atau tindakan yang bersifat seksual tidak di terima. Perusahaan cenderung mencegah pelecehan seksual dengan memberikan seminar mengenai hal tersebut. Misalnya, seorang karyawan mungkin akan membuat suatu paksaan seksual terhadap karyawan lain dan menggunakan kepuasaan pribadi dalam perusahaan untuk menakuti status pekerjaan lain.

Seperti, seminar deversitas. Seminar ini dapat menolong karyawan menyadari bagaimana suatu pernyataan atau perilaku mungkin dapat menyinggung perasaan karyawan lain. Seminar ini tidak hanya suatu tindakan tanggung jawab terhadap karyawan tetapi juga dapat memperbaiki produktivitas perusahaan dengan menolong karyawan merasa kerasan dan nyaman. Melalui program Community Volunteering, perusahaan mendukung serta mendorong para karyawan, para pemegang franchise atau rekan pedagang eceran untuk menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasi-organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.

Salah satu contoh Community Volunteering adalah sebagaimana program Astra Employee Volunteer, yaitu kegiatan CSR dengan melibatkan karyawan. Tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2010, 68 orang karyawan PT Astra International Tbk Head Office, melakukan bedah sekolah dan mengajar selama 1 hari kepada siswa dan siswi SD SMP Remaja Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Shell Oil Company, melibatkan ribuan karyawan, pensiunan dan keluarga setiap tahunnya untuk terlibat dalam kegiatan pembersihan pantai yang tercemar di area operasi Shell Oil Company.

Keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan melalui kegiatan Community Volunteering, adalah terciptanya hubungan yang tulus antara perusahaan dengan komunitas, memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan serta meningkatkan kepuasan dan motivasi karyawan.

Share with your friends

Give us your opinion

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus

Notification
Selamat menikmati postingan artikel di Webillian.Com semoga bermanfaat.
Done