pertumbuhan ekonomi dan cara mengatasi masalah pertumbuhan ekonomi - webillian.com
News Update
Loading...

pertumbuhan ekonomi dan cara mengatasi masalah pertumbuhan ekonomi

teori pertumbuhan ekonomi dan cara mengatasi masalah pertumbuhan ekonomi

Teori Pertumbuhan Ekonomi


Teori Pertumbuhan Klasik

Menurut pandangan ekonomi klasik ada 4 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu jumlah penduduk, stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta teknologi yang digunakan. Walaupun menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung kepada banyak faktor, ahli ekonomi klasik menitikberatkan perhatiannya pada pertambahan jumlah penduduk. Berdasarkan teori ekonomi klasik dikemukakan suatu teori bahwa ada keterkaitan antara pendapatan per kapita dengan jumlah penduduk. Apabila terdapat kekurangan penduduk, produksi marginal akan lbih tinggi daripada pendapatan per kapita. Penduduk yang terus bertambah akan menyebabkan suatu jumlah penduduk yang tertentu produksi marginal telah sama dengan pendapatan per kapita.

Teori Schumpeter

Teori schumpeter menekankan tentang pentingnya peranan pengusaha didalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori itu ditunjukkan bahwa para pengusaha merupakan goongan yang akan terus melakukan inovasi dalam kegiatan ekonomi. Menurut Schumpeter makin tinggi tingkat kemajuan suatu ekonomi maka makin terbatas kemampuan untuk melakukan inovasi. Maka perrtumbuhan ekonomi akan semakin lambat jalannya. Pada akhirnya mencapai titik “keadaan tidak berkembang”. Akan tetapi menurut schumpeter keadaan tidak berkembang tersebut dicapai pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Teori Harod-Domar

Dalam menganalisis mengenai masalah pertumbuhan ekonomi teori Harod-Domar bertujuan menerangkan syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai tingkat pertumbuha yang teguh dalam jangka panjang. Teori Harod –Domar menggunakan pemisalan barang dan modal telah mencapai kapasitas penuh, tabungan proporsional dengan pendapatan nasional, rasio modal produksi dalah tetap nilainya , dan perekonoian terdiri dari dua sektor.


Teori Neo-Klasik

Teori pertumbuhan neo-klasik melihat darisudut pandang penawaran. Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi tergantung pada prkembangan faktor-faktor produksi. Yang disimpulkan bahwa faktor terpenting yang mewujudkan pertumbuhan ekonomi bukanlah pertambahan modal dan pertambahan trnaga kerja akan tetapi adalah kemajuan teknologi dan pertumbuhan kemahiran dan kepakaran tenaga kerja.


Faktor-faktor yang Menentukan Pertumbuhan Ekonomi

Tanah dan kekayaan alam lainnya

Kekayaan alam akan dapat mempermudah usaha utuk mengembangkan perekonomian suatu negara. Apabila suatu negara memiliki kekayaan alam yang melimpah maka berbagai hambatan akan teratasi dan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun meskipun demikian pertumbuhan ekonomi tidak tergantung dari kekayaan alam semata.

Jumlah penduduk dan mutu tenaga kerja

Penduduk yang bertambah dari waktu ke waktu dapat menjadi pendorong maupun penghambat pertumbuhan ekonomi. Penduduk yang bertambah akan menambah jumlah tenaga kerja jika disertai dengan pendidikan, keterampilan, latihan dan pengalaman maka dapat menambah produktivitas.


Barang-barang modal dan tingkat teknologi

Barang barang modal penting artinya dalam menambah efisiensi pertumbuhan ekoomi. Apabila barang barang modal saja yang bertambah sedangkan tingkat teknologi tidak mengalami perkembangan, kemajuan yang dicapai akan lebih rendah.

Sistem sosial dan sikap masyarakat

Sistem sosial yang tradisional akan menghamabat masyarakat untuk menggunakan cara memproduksi lebih cepat. Sedangkan sikap masyarakat juga dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sikaps seperti rajin menabung untuk investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Masalah pertubuhan ekonomi di Indonesia

Pemerintah masih optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia sesuai dengan tujuan APBN 2015. Sebagaimana tertulis dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Belanja Negara Perubahan Tahun Anggaran 2015. Optimisme pemerintah tersebut berbanding terbalik dengan beberapa lembaga yang telah melakukan koreksi.

International Monetary Fund (IMF) mengoreksi pertumbuhan global menjadi 3,8% dari 4,0% dan pertumbuhan emerging market menjadi 5,0% dari semula 5,2 persen pada bulan oktober 2014. Koreksi pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari masih belum menggembirakannya kinerja perekonomian di wilayah Eropa dan Jepang, meskipun perekonomian Amerika Serikat menunjukkan trend yang terus meningkat.

Pelemahan perekonomian Cina sebagai kekuatan ekonomi kedua dunia, kelesuan perekonomian dan embargo terhadap Rusia serta penurunan harga komoditas dunia di pasar internasional juga menjadi pemantik perlambatan ekonomi di tahun 2015. Perekonomian Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perlambatan ekonomi global tersebut.

memperhatikan perkembangan ekonomi global tersebut, beberapa lembaga melakukan koreksi terhadap angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2015.Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 yang berada dibawah asumsi 5,8 persen dalam APBN 2015 tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perlambatan pemulihan ekonomi global serta perlambatan ekonomi di Eropa, Jepang dan Cina merupakan faktor yang signifikan. Perlambatan-perlambatan tersebut pada akhirnya akan mendorong penurunan permintaan dunia secara aggregat sehingga berimplikasi terhadap kinerja ekspor Indonesia di tahun yang akan datang. Untuk menjaga capaian target pertumbuhan ekonomi tidak terlalu jauh turun dari angka 5,8 persen, peran permintaan domestik serta kinerja ekonomi domestik harus mampu menjadi penopang perekonomian di tahun 2015. Kelonggaran fiskal yang diperoleh oleh pemerintah pasca pencabutan subsidi premium dan penetapan fixed subsidy solar harus mampu menjadi stimulus perekonomian domestik.

Kinerja ekonomi tahun 2014 mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya.Perlambatan tersebut terlihat dari pertumbuhan hingga kuartal ketiga 2014 dibandingkan kuartal sebelumnya, baik sektoral maupun sisi penggunaan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan hingga kuartal ketiga tahun 2013. Dari sisi sektoral, hanya sektor perdagangan yang mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Untuk sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Tantangan terberat kinerja perekonomian Indonesia di sepanjang tahun 2014 sangat terasa pada kuartal pertama. Pada Q1- 2014, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 0,97 persen dibandingkan kuartal terakhir 2013, terendah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada Q1-2014, sektor pertambangan dan galian, sektor manufaktur, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi serta sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami perlambatan (pertumbuhan negatif) dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Perlambatan paling besar adalah sektor konstruksi sebesar -5,18 persen dan sektor pertambangan dan galian sebesar -3,4 persen. Dari sisi penggunaan, pada kuartal pertama tahun 2014 kinerja investasi, ekspor dan impor juga mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya . Kinerja investasi melambat negatif 5,6 persen, ekspor -11,14 persen dan impor -12,99 persen. Kinerja konsumsi rumah tangga yang terus menunjukkan pertumbuhan positif dari kuartal ke kuartal merupakan faktor yang memberikan keseimbangan sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2014 tidak begitu jauh turun drastis. Jika di lihat dari kontribusi sektoral tradeable dan non tradeable, sepanjang tahun 2014 produk domestic bruto (PDB) Indonesia masih didominasi oleh sector non tradable sebesar 55%. Tidak jauh berbeda dengan proporsi selama kurun waktu lima tahun terakhir. Kondisi yang seperti ini menandakan hingga tahun 2014 pertumbuhan ekonomi masih kurang berkualitas.

Selain itu pada tahun 2015 Kinerja perekonomian nasional pada kuartal I dan II 2015 kurang menggembirakan. Sejumlah indikator, seperti laju pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), serta ekspor-impor seolah memberi sinyal lampu kuning bagi perekonomian nasional. Masalah utamanya ekonomi dunia ini melemah, yang tentu artinya mengurangi impor, sehingga ekspor menurun. Menurun jumlahnya dan yang lebih berbahaya lagi menurun harganya. Akibatnya pendapatan masyarakat, pendapatan negara, pajak dan sebagainya jauh menurun. Ini membuat daya beli masyarakat di banyak tempat menurun. Orang membeli motor, membeli kebutuhan lainnya, atau membeli makanan, menurun. Itu yang dimaksud efek spiral, sehingga terjadilah kondisi itu.
Kalau dalam faktor internal semester I ini karena masalah-masalah birokrasi yang tidak tuntas. Kemudian faktor internal lainnya itu adalah ketakutan para pejabat untuk mengisi anggaran, melaksanakan proyek. Takut mengambil kebijakan, takut dikriminalkan, dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, polisi dan lainnya. Ini di benahi sekarang supaya ada keberanian.

Pertumbuhan global yang lemah pada tahun 2015 telah berdampak pada Indonesia, dengan pertumbuhan hanya sebesar 4,8% tahun lalu. Pertumbuhan Indonesia pada tahun 2015 cukup baik untuk negara pengekspor komoditas, tetapi belum cukup untuk menyerap sekitar 3 juta anak muda yang baru masuk dalam pasar tenaga kerja, juga tidak cukup untuk membalik tren pengentasan kemiskinan yang melambat. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan PDB sebesar 5,1% untuk tahun 2016, dan 5,3% untuk tahun 2017. Proyeksi ini lebih rendah 0,2% dari proyeksi bulan Desember, akibat kondisi eksternal yang lebih lemah dari perkiraan awal, serta kemungkinan pertumbuhan pendapatan rendah yang bisa menjadi hambatan bagi rencana pemerintah untuk meningkatkan belanja. Berkurangnya subsidi bahan bakar minyak, yang setara 20% belanja pemerintah pusat pada tahun 2014, menciptakan ruang fiskal untuk melakukan investasi publik yang besar – investasi pemerintah pusat naik 42% tahun-ke-tahun pada tahun 2015 – untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, pendapatan akan lebih rendah dari sasaran APBN 2016, akibat harga minyak dan gas yang lebih rendah dari perkiraan. Menjaga belanja modal akan memerlukan defisit fiskal di atas 2,8% dari PDB dan memangkas pengeluaran yang bukan prioritas.



Solusi mengatasi permasalahan ekonomi di Indonesia



Dari pembahasan yang telah disampaikan diatas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih jauh dari kata sempurna untuk itu perlu solusi yang tepat agar ekonomi di Indonesia dapat membaik. Maka dari itu peran dari pemerintah sangatlah penting untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. langkah yang dilakukan Tentu mempercepat penyerapan anggaran. untuk mempercepat pembangunan, pemerintah juga akan memotong sejumlah birokrasi yang dinilai memperlambat. Seperti misalnya peraturan menteri atau peraturan apapun yang menghambat, yang memperpanjang aturan birokrasi. Selain itu Untuk mempercepat pertumbuhan, Indonesia harus mengandalkan perluasan ruang fiskal dalam jangka pendek, sambil memperkenalkan reformasi untuk memfasilitasi investasi dan mengurangi biaya berusaha untuk jangka menengah.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.worldbank.org/in/news/feature/2016/03/15/indonesia-economic-quarterly-march-2016

http://www.dpr.go.id/doksetjen/dokumen/apbn__Pertumbuhan_Ekonomi_Indonesia_Tahun_2015_Dan_Kinerja_Tahun_201420150129111043.pdf

https://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi

http://ekbis.sindonews.com/read/1034051/33/menjawab-tantangan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-1439859769

Sadono sukirno, 2013 edisi ketiga, makroekonomi teori pengantar, Jakarta, RAJAGRAFINDO PERSADA


Share with your friends

Give us your opinion

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus

Notification
Selamat menikmati postingan artikel di Webillian.Com semoga bermanfaat.
Done