METODE PENELITIAN BISNIS KERANGKA TEORITIS DAN PENYUSUNAN HIPOTESIS - webillian.com >
News Update
Loading...

METODE PENELITIAN BISNIS KERANGKA TEORITIS DAN PENYUSUNAN HIPOTESIS



METODE PENELITIAN BISNIS

KERANGKA TEORITIS DAN PENYUSUNAN HIPOTESIS







A. Kebutuhan akan Kerangka Teoretis



Setelah melakukan wawancara, menyelesaikan survei literatur, dan mengidentifikasi masalah, Anda telah siap untuk membuat kerangka teoretis. Kerangka teoritis adalah model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seseorang menyusun atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Teori tersebut mengalir secara logis dari dokumentasi penelitian sebelumnya dalam bidang masalah. Menggabungkan keyakinan logis seseorang dengan penelitian yang dipublikasikan,mempentimbangkan keterbatasan dan hambatan situasi adalah sangat penting dalam membangun dasar ilmiah untuk . Meneliti masalah penelitian. Singkatnya, kerangka teoretis membahas saling ketergantungan antar variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi dinamika situasi yang sedang diteliti.


Penyusunan kerangka konseptual tersebut membantu kita untuk mendalilkan atau menghipotesiskan dan menguji hubungan tertentu, dan dengan demikian, meningkatkan pemahaman kita mengenai dinamika situasi. Dengan demikian, dari kerangka teoretis bisa disusun hipotesis yang dapat diuji untuk mengetahui apakah teori yang dirumuskan valid atau tidak. Hubungan yang dihipotesiskan tersebut Kemudian dapat diuji dengan analisis statistik yang tepat . Dengan menguji dan mengulangi temuan, kita juga akan mempunyai keyakinan yang lebih kuat mengenai ketepatan penelitian. Jadi, seluruh penelitian bergantung pada dasar kerangka teoretis bahkan, jika hipotesis yang dapat diuji tidak perlu disusun (seperti dalam sejumlah proyek penelitian terapan), penyusunan kerangka teoretis yang baik adalah hal utama untuk mendalami masalah yang sedang diteliti.






B. Variabel



Variabel adalah apa pun yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai. Nilai bisa berbeda pada berbagai waktu untuk objek atau orang yang sama, atau pada waktu yang sama untuk objek atau orang yang berbeda. Contoh variabel adaiah unit produksi, absensi, dan motivasi. Contoh (5.2) Absensi: Hari ini tiga Staf dalam departemen penjualan absen; besok enam orang tidak masuk kerja; hari berikut, tidak ada yang absen. jadi secara teoretis nilai berkisar dari “tidak ada” ke “semua” karyawan absen, pada variabel absensi.

1. Jenis Variabel



Empat ienis variabel utama dibahas dalam bab ini:


a. Variabel terikat (dependent variable) disebut juga variabel kriteria (criterion variable)


Variabel terikat merupakan variabel yeng miadi perhatian utama peneliti. Tainan peneliti adalah memahami dan membuat variabel terikat, menjelaskan variabilitasnya, atau memprediksinya. Dengan kata lain, variabel terikat merupakan variabel utama yung menjadi faktor yang berlaku dalam investigasi. Melalui analisis terhadap variabel terikat (yaitu, menemukan variabel yang mempengaruhinya ), adalah mungkin untuk menemukan jawaban atau solusi atas masalah. Untuk tujuan tersebut, peneliti akan tertarik untuk menguantifikasi dan mengukur variabel terikat, sama seperti variabel lain yang memengaruhi variabel tersebut . Contoh (5.5)Seorang peneliti dasar berminat untuk menyelidiki rasio utang terhadap modal (debt-to-equity ratio)perusahaan manufaktur di selatan California. Di sini, variabel terikat adalah rasio utang terhadap modal.





Adalah mungkin untuk mempunyai lebih dari satu variabel terikat dalam sebuah studi. Misalnya, selalu ada pergesekan antara kualitas dan volume keluaran, produksi berbiaya rendah dan kepuasan pelanggan, dan seterusnya. Dalam kasus semacam ini, manajer ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi semua variabel terikat yang diminati dan bagaimana sejumlah dari mereka mungkin berbeda dalam kaitannya dengan variabel terikat yang lain. Investigasi tersebut bisa menggunakan analisis statistik multivariat (multivariat statistical analyses).






b. Variabel bebas (independent variable) disebut iuga variabel prediktor (predictor variable)


Variabel bebas adalah variabel yang memengaruhi variabel terikat, entah secara positif atau negatif. Yaitu, jika terdapat variabel bebas, variabel terikat juga hadir. dan dengan setiap unit kenaikan dalam variabel bebas, terdapat pula kenaikan atau penurunan dalam variabel terikat. Dengan kata lain, varians variabel terikat ditentukan oleh variabel bebas. Untuk membangun hubungan sebab-akibat, variabel bebas dimanipulasi (manipulated) sebagaimana dijelaskan dalam Bab 7 mengenai Desain Eksperimen. Contoh (5.7) Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan produk baru berpengaruh terhadap harga saham perusahaan. Yaitu, semakin sukses peluncuran produk baru, semakin tinggi harga saham perusahaan. Karena itu, kesuksesan produk baru adalah variabel bebas, dan harga saham perusahaan merupakan variabel terikat. Tingkat keberhasilan pengembangan produk baru yang dirasakan akan menjelaskan varians dalam harga saham perusahaan.






c. Variabel moderator (moderating variabel)


Variabel moderator adalah variabel yang mempunyai pengaruh ketergantungan yang kuat pada hubungan variabel terikat dan variabel bebas, yaitu kehadiran variabel ketiga (variabel moderator) mengubah hubungan awal antara variabel bebas dan terikat. Contoh: Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara ketersediaan buku pedoman referensi yang dapat diakses oleh karyawan perusahaan manufaktur, dan produk cacat. Jika pekerja mengikuti prosedur yang ditentukan dalam buku pedoman, mereka mampu menghasilkan produk yang tidak cacat. Hubungan ini ditampilkan dalam Figur (5.3a). Meskipun hubungan tersebut bisa dikatakan diyakini benar secara umum bagi semua karyawan, namun hal tersebut bergantung pada kecenderungan dan keinginan karyawan untuk membaca buku pedoman setiap kali sebuah prosedur baru diterapkann. Denagan kata lain, hanya mereka yang memerhatikan dan ingin mengacu pada buku pedoman setiap kali sebuah proses baru digunakan yang akan menghasilkan produk yang tidak cacat. Karyawan lain yang tidak melakukan hal tersebut, tidak akan mendapatkan manfaat dan akan terus menghasilkan produk cacat.


d. Variabel antara (intervening variable)


Adalah variabel yang mengemuka antara waktu variabel bebas bekerja mempengaruhi variabel terikat variabel kekerasan pada variabel terikat. Dengan demikian dapat kualitas temporal atau dimensi waktu pada variabel antara. Variabel antara mengemuka sebagai fungsi variabel bebas yang berlaku dalam situasi apapun, serta membantu mengkonsepkan dan menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.





C. Kerangka Teoretis



Kerangka teoritis merupakan pondasi di mana seluruh proyek penelitian didasarkan. Kerangka teoritis adalah jaringan asosiasi yang disusun, dijelaskan, dan di elaborasi secara logis antar variabel yang dianggap relevan pada situasi masalah dan diidentifikasi melalui proses wawancara, pengamatan, survei literatur. Pengalaman dan intuisi juga berperan dalam menyusun kerangka teoritis. Hubungan antara survei literatur dan kerangka teoritis adalah pertama menyediakan pondasi yang kuat untuk menyusun yang terakhir. Yaitu survei literatur mengidentifikasi variabel yang mungkin penting, sebagaimana ditentukan oleh temuan penelitian sebelumnya. Hal tersebut sebagai tambahan untuk hubungan logis lainnya yang dapat di konsepkan membentuk dasar untuk model teoretis. Kerangka teoritis mengelaborasi hubungan antar variabel, menjelaskan teori yang menggarisbawahi relasi tersebut, dan menjelaskan sifat dan arah hubungan. Sebagaimana survei literatur memberikan panggung untuk kerangka teoretis yang baik, hal tersebut pada gilirannya menyediakan dasar yang logis untuk menyusun hipotesis yang dapat diuji.


1. Komponen Kerangka Teoretis



Kerangka teoretis yang baik mengidentifikasi dan menanamkan variabel variabel penting dalam situasi yang relevan dengan definisi masalah. Kerangka teoretis secara logis menjelaskan sangkut paut alat variabel tersebut. Hubungan antara variabel bebas, variabel terikat, dan jika tepat variabel moderator dan antara diuraikan. Jika terdapat variabel moderator adalah penting untuk menjelaskan bagaimana dan hubungan spesifik seperti apa yang terjadi. Penjelasan tentang mengapa variabel tersebut berperan sebagai moderator juga sebaiknya diberikan. Bila ada variabel antara, pembahasannya tentang bagaimana atau mengapa mereka diperlakukan sebagai variabel antara sangat diperlukan. saling ketergantungan antar variabel bebas, atau variabel terikat, jika ada sebaiknya juga diungkapkan dengan tepat dan dijelaskan secara memadai.


Ellaborasi variabel dalam kerangka teoritis dengan demikian menunjukkan persoalan mengapa atau bagaimana kita mengharapkan hubungan tertentu berlaku, sifat, dan arah hubungan antar variabel minat. Diagram skematis mengenai model konseptual yang dijelaskan dalam kerangka teoritis juga akan membantu pembaca untuk membayangkan hubungan yang diteorikan. Dasar yang harus diperhatikan dalam kerangka teoritis:


a. Variabel yang dianggap relevan untuk studi harus diidentifikasi dan dinamai dengan jelas dalam pembahasan.


b. Pembahasan harus menyebutkan mengapa dua atau lebih variabel berkaitan satu sama lain. Hal ini sebaiknya dilakukan untuk hubungan penting yang di teori kan berlaku di antara variabel.


c. Bila sifat dan arah hubungan dapat di teorikan berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, maka harus ada indikasi dalam pembahasan mengenai apakah hubungan akan positif atau negatif.


d. Harus ada penjelasannya gemblang mengenai mengapa kita memperkirakan hubungan tersebut berlaku. Argumen bisa ditarik dari temuan penelitian sebelumnya.


e. Suatu diagram skematis kerangka teoritis harus diberikan agar pembaca dapat melihat dan mendengar mudah memahami hubungan yang diteorikan.






Contoh 5.13.


Delta airlines


Dengan adanya deregulasi maskapai penerbangan, terjadi perang harga di antara berbagai maskapai yang memangkas biaya dengan cara berbeda. Menurut laporan, delta airlines menghadapi tuntutan pelanggaran keselamatan penerbangan ketika hampir terjadi beberapa tabrakan di udara, dan sebuah kecelakaan yang mengakibatkan 137 orang tewas pada tahun 1987. 4 faktor penting yang tampaknya mempengaruhi hal tersebut adalah komunikasi yang buruk diantara anggota kru kokpit sendiri, koordinasi buruk antara petugas bandara dan kru kokpit, pelatihan minimal yang diberikan kepada kru kokpit, dan filosofi manajemen yang mendorong struktur yang terdesentralisasi. Akan berguna untuk mengetahui jika faktor-faktor tersebut benar-benar berperan terhadap pelanggaran keamanan, dan jika demikian sampai sejauh mana.


2. Kerangka Teoretis untuk Contoh (5.13)


Variabel terikat adalah pelanggaran keamanan, yang merupakan variabel minat utama dimana varians dicoba dijelaskan dengan empat variabel bebas, yaitu :


a. komunikasi antaranggota kru


b. komunikasi antara petugas kontrol bandara dan kru kokpit


c. pelatihan yang diterima oleh kru kokpit


d. desentralisasi






Semakin sedikit komunikasi antar anggota kru sendiri, semakin besar kemungkinan terjadi pelanggaran keselamatan penerbangan karena sangat sedikit informasi yang diberikan di antara mereka. Misalnya, kapan pun keselamatan terancam, komunikasi yang tepat pada waktunya antara navigator dan pilot adalah sangat tidak mungkin. Masing-masing pihak akan terserap oleh tugasnya dan kehilangan pandangan mengenai gambar yang lebih besar. jika kru bandara gagal memberikan infomasi pada saat yang tepat, kecelakaan bisa saia terjadi, misalnya pesawat jatuh atau menabrak. Koordinasi antara kru bandara dan kokpit merupakan hal utama dalam keselamatan penerbangan. Dengan demikian, semakin kurang koordinasi antara petugas kontrol bandara dan kru kokpit, semakin besar kemungkinan terjadi pelanggaran keselamatan penerbangan. Kedua faktor di atas diperburuk oleh fisofi manajemen Delta Airlines, yang menekankan desentralisasi. Filosofi tersebut mungkin berhasil sebelum deregulasi maskapai penerbangan, ketika iumlah penerbangan masih dapat dikendalikan. Namun. dengan deregulasi dan peningkatan keseluruhan penerbangan udara dan dengan semua maskapai melakukan lebih banyak penerbangan, koordinasi dan kendali yang tersentralisasi adalah sangat penting. Dengan demikian, semakin besar derajat desentralisas, semakin rendah cakupan tingkat komunikasi antar kru pesawat dan antara petugas bandara dan kru kokpit, serta semakin besar kemungkinan terjadi pelanggaran keselamatan penerbangan. Demikian pula iika anggota kru kokpit tidak dilatih secara memadai, mereka mungkin tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai standar keamanan atau mungkin tidak mampu untuk menanganai situasi darurat dan tabrakan, jadi pelatihan yang buruk juga menambah kemungkinan terjadinnya pelanggaran keamanan.

Share with your friends

Give us your opinion

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus

Notification
Selamat menikmati postingan artikel di Webillian.Com semoga bermanfaat.
Done